Governance, Risk Management & Compliance

A Series of Luck of A Central Banker

Senin 25 Nopember 2013 7:29:46

Will Rogers (1879-1935), seorang cowboypengelana- bintang filmhumoris-aktor-pengamat sosial di Amerika, pernah mengatakan, “there have been three great inventions since the beginning of time: fire, the wheel, and central banking.”

Will Rogers (1879-1935), seorang cowboypengelana- bintang filmhumoris-aktor-pengamat sosial di Amerika, pernah mengatakan, “there have been three great inventions since the beginning of time: fire, the wheel, and central banking.”

Tidak diketahui secara persis apakah ungkapan yang sering dikutip itu benar-benar dimaksudkan Will Rogers sebagaimana bunyinya? Begitu dramatiskah kehadiran sebuah bank sentral? Mungkinkah Will Rogers hanya sedang mengolok bank sentral yang konon bisa “menyulap” kertas menjadi uang?

Namun bagi Hartadi A. Sarwono, bank sentral bukan hanya bisa menyulap kertas menjadi uang. Ia bisa menyulap seseorang dari bukan siapa-siapamenjadi ‘seseorang’.

“Tetapi saya tahu, bank sentral bukan hanya bisa  menyulap kertas menjadi uang. Ia bisa menyulap nobody menjadi somebody. Saya merasakan hal itu. Dengan segala kerendahan hati, ingin  saya sampaikan bahwa nilai intrinsik saya sebagai seorang suami-ayah-kakek telah ‘disulap’ oleh BI (Bank Indonesia) menjadi seorang Deputi Gubernur,” kata mantan Deputi Gubernur BI yang kini menjadi Direktur Utama Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) ini.

Sungguh sebuah penciptaan ‘uang’, sebuah seignorage yang luar biasa besar. Bahkan bank sentral telah ‘menciptakan’ dia seperti sekarang dengan menyekolahkannya, menanamkan nilai-nilai selama bertahun-tahun.

Meski sampai pada karier tertinggi dari jenjang yang tersedia untuk ‘orang dalam’ BI, Hartadi merasakan bahwa yang telah didapatnya selama ini merupakan rentetan keberuntungan. “Saya banyak ditolong oleh keberuntungan, a series of luck. Tuhan ternyata begitu baik kepada saya. Tanpa keberuntungan itu, tidak terbayang seorang Arema (Arek Malang) seperti saya bisa menjadi seorang DeputiGubernur BI,” tutur pria kelahiran  Jakarta, 10 Agustus 1952.

Meniti karier selama lebih dari tiga dasawarsa di bank sentral dan menjabat berbagai posisi utama di bidang kebijakan moneter, Hartadi merasa dirinya sudah terlalu lama di BI. Maklumlah, semenjak mahasiswa tingkat akhir di Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB), Hartadi sudah merintis karier di BI.

“Kebetulan waktu itu BI sedang banyak membutuhkan tenaga untuk menjalankan program kredit likuiditas BI tahun 1979. BI membutuhkan lulusan Teknik Industri untuk feasibility study program mereka. Nah, waktu itu terpilih saya dan empat orang lainnya sebagai angkatan pertama. Waktu itu saya seangkatan dengan Bu Titu (Kusumaningtuti S Setijono, kini Komisioner OJK),” cerita Hartadi.

Bermula dari situlah karier bapak tiga anak ini berlanjut terus. Dimulai dari staf (1980-1983), Hartadi muda lalu mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan tingginya di Amerika Serikat. Dia kemudian mengambil master di bidang Macroeconomics di University of Oregon, Eugene-Oregon, AS pada 1985.

“Waktu dapat beasiswa itu, saya sebenarnya nekad saja, utamanya soal bahasa Inggris. Belum begitu cas cis cus, tapi karena saya ini termasuk orang tekun, bukan super, ya dijalani saja. Alhamdulillah semuanya lancar,” kisah Hartadi yang seusai menyelesaikan S2- nya lalu melanjutkan ke program doktoral di universitas yang sama pada 1989. Dia mengambil bidang Monetary Theory and Policy.

Setelah memperoleh gelar Ph.Dnya, Hartadi kembali ke Tanah Air untuk melanjutkan karier di BI, dan kemudian mencicipi semua jabatan yang tersedia untuk seseorang yang memiliki spesialisasi di bidang moneter, dari bawah hingga ke puncaknya.

Dengan pengalaman yang menggunung di dunia perbankan, toh penyuka buku cerita klasik “Bende Mataram” dan “Kho Ping Ho” ini dikenal sebagai pribadi yang rendah hati. Hartadi menuturkan, jabatan apapun yang dipercayakan kepadanya niscaya dijalankan tanpa ambisi berlebih. Dia siap menjalankan tugas, tetapi siap juga menerima tantangan untuk jabatan tinggi lain yang ditawarkan kepadanya.

Nah, ketika dirinya memasuki masapensiun pada pertengahan Juni 2013 lalu, Hartadi sebenarnya ingin mengisi waktu pensiun untuk beristirahat. Apalagi ada kode etik di BI yang disebut dengan cooling period. Aturan ini menyebutkan, dalam waktu enam bulan, pensiunan BI dilarang bekerja di bidang industri yang diatur oleh BI.

Namun, pria yang suka olahraga golf ini emoh bila keahliannya tak dimanfaatkan. Terlebih banyak tawaran menjadi dosen datang dari sejumlah perguruan tinggi. Salah satunya dari Universitas Indonesia (UI).

Hartadi tampaknya akan menerima  tawaran tersebut. Toh, selama ini ia sering menjadi promotor doktor di UI. Cuma, dia enggan jika harus terikat di satu perguruan tinggi. “Kalau jadi dosen tetap nanti tidak bisa mengajar kemanamana,” ujar Hartadi yang sempat menjabat Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur BI selama dua hari.

Peran LPPI

Namun, pada medio Agustus 2013, Hartadi akhirnya menerima pinangan Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI). Dia ditahbiskan menjadi Dirut LPPI sekaligus CEO International Center for Development in Islamic Finance (ICDIF-LPPI) menggantikan Dirut sebelumnya, Subarjo Joyosumarto (2007-2013).

Sebagai petinggi di sekolah para bankir ini, Hartadi melihat tantangan kedepan yang dihadapi LPPI untuk menyiapkan tenaga terampil dan tenaga profesional bagi industri keuangan tidaklah menjadi semakin ringan.

“Perkembangan yang cepat produkproduk keuangan yang disertai dengan tingkat kemajuan dan teknologi yang tinggi, menutut ketersediaan sumber daya manusia di bidang keuangan yang berkompetensi dan berintegritas,” jelas Hartadi.

Sementara itu, dampak krisis keuangan global yang belum usai, Indonesia sudah dihadapkan pada tantangan terbentuknya Masyarakat Ekonomi ASEAN pada 2015 dan integrasi pasar keuangan ASEAN pada 2020. Hal itu membuat industri keuangan khususnya perbankan di Indonesia perlu segera mempersiapkan diri untuk segera memperkuat pemahaman terhadap standar permodalan dan standar likuiditas guna meningkatkan ketahanan industri keuangan terhadap krisis.

“Disinilah saya melihat LPPI akan dapat berperan lebih aktif lagi membantu otoritas, baik BI maupun OJK, untuk melakukan desiminasi ketentuan, melaksanakan pendidikan dan pelatihan guna mempersiapkan tenaga terampil dan manajerial profesional yang dibutuhkan industri keuangan kita,” tandas Hartadi yang mengaku pembicaraannya mungkin masih terdengar seperti seorang central bankers yang selalu mengedepankan financial stability sebagai salah satu core function dari suatu bank sentral.



Non Bank

Amartha Salurkan Rp970M Dana Khusus Perempuan

Amartha, penyalur pinjaman khusus perempuan pelaku UMKM

Allianz Indonesia Ikuti Perkembangan Fintech Tingkatkan Penetrasi Asuransi

Dengan mempertimbangkan pesatnya perkembangan fintech,

Ini Peluang dan Tantangan Industri Asuransi Jiwa di 2019

Sebagai kontributor utama industri asuransi, tingkat pe

AIA Catat Pertumbuhan Dua Digit di 2018

AIA berhasil meningkatkan laba operasi setelah pajak me

Portofolio

Interview

Glen Alexander Winata: Utamakan Proteksi Nasabah, Komisi Pasti Mengikuti

Pada awalnya, kebanyakan agen asuransi pemikirannya sel

Pengamat Syariah: Dorongan Pemerintah Adalah Kunci

"Pemerintah itu harus ada inisiatif, misalnya proyek Rp

Tren Kendaraan Komersial Menurun

Harga komoditas global yangterus berada di level terend

Satelit adalah Kekuatan BRI

Jalan sejarah sedang ditapaki oleh Bank Rakyat Indonesi

Riset

INDEF: Reformasi Agraria butuh Regulasi

payung hukumnya untuk membagikan kan harus ada. Payung

Tidak Merata, Pulau Jawa Dominasi Pertumbuhan Negara

Apabila sumber pertumbuhan dapat lebih tersebar maka ke

Inklusi Keuangan Meningkat Jadi 67,82 Persen

Indeks inklusi keuangan Indonesia meningkat pada angka

Tax Amnesty Berpotensi Masuki Jilid II

Tax amnesty itu diperpanjang katakanlah setahun lagi bi