Governance, Risk Management & Compliance

AAJI: Q1/2017 Pendapatan Industri Asuransi Jiwa Tumbuh 16,4 Persen

Kamis 15 Juni 2017 6:16:0

Total pendapatan premi merupakan kontributor terbanyak atas total pendapatan industri asuransi jiwa, yakni sebesar 75,8 persen

JAKARTA, Stabilitas -- Pertumbuhan pendapatan Industri asuransi jiwa di Indonesia stabil di jalur positif dalam beberapa tahun terakhir. Catatan pertumbuhan pendapat terjaga di kisaran 10 – 30 persen. Terlihat di kuartal pertama 2017, pertumbuhan pendapatan industri asuransi jiwa yang tergabung dalam Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) tercatat sebesar 16,4 persen, tumbuh dari Rp48,94 triliun di kuartal pertama 2016 menjadi Rp56,96 triliun di kuartal pertama tahun ini.

“Total pendapatan premi merupakan kontributor terbanyak atas total pendapatan industri asuransi jiwa, yakni sebesar 75,8 persen,” kata Ketua Umum AAJI Hendrisman Rahim saat jumpa pers di kantor AAJI Jakarta, (14/6/2017).

Hendrisman menguraikan, total pendapatan premi di kuartal pertama 2017 tercatat sebesar Rp43,17 triliun. Meningkat 25,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp34,40 triliun. Total premi bisnis baru naik 34,9 persen, dari Rp19,13 triliun di kuartal pertama 2016 menjadi Rp25,79 triliun di kuartal pertama 2017. Sementara itu total premi lanjutan di kuartal pertama 2017 tercatat sebesar Rp17,38 triliun, tumbuh 13,8 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2016 sebesar Rp15,28 triliun.

“AAJI mencatat, pertumbuhan total pendapatan premi didorong oleh meningkatnya pendapatan premi dari saluran distribusi bancassurance yang meningkat sebesar 47,5 persen dan berkontribusi sebesar 40,0 persen terhadap total premi,” jelas Hendrisman. Lebih lanjut ditambahkan bahwa saluran keagenan mengalami pertumbuhan sebesar 11,9 persen dengan kontribusi 39,2 persen, Kemudian saluran distribusi alternatif meningkat 18,6 persen dan berkontribusi sebesar 20,9 persen.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Bidang Komunikasi dan Hubungan Antar Lembaga AAJI Christine Setyabudhi mengatakan bahwa pada kuartal pertama 2017, total klaim dan manfaat meningkat 11,6 persen Rp21,55 triliun di kuartal pertama 2016 menjadi Rp24,05 triliun pada periode yang sama tahun ini.

“Klaim nilai tebus (surrender) meningkat sebesar 23,6 persen yakni dari Rp10,74 triliun di kuartal pertama tahun sebelumnya, menjadi sebesar Rp13,27 triliun di kuartal pertama tahun ini. Klaim ini memiliki proporsi terbesar di dalam pembayaran klaim dan manfaat, yakni sebesar 55,2 persen. Peningkatan ini diperkirakan terjadi karena meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap uang tunai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Sementara itu klaim penarikan sebagian (partial withdrawal) juga mengalami pertumbuhan,  yakni meningkat sebesar 16,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2016, menjadi Rp3,86 triliun dan berkontribusi sebesar 16,0 persen dari total klaim. Sedangkan  klaim kesehatan (medical) pada kuartal pertama tahun ini tercatat Rp2,19 triliun, turun 20,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp2,74 triliun.

“Dari jumlah itu, sekitar 52,0 persen merupakan klaim asuransi kesehatan kumpulan dan sisanya sebesar 48,0 persen berasal dari klaim asuransi kesehatan perorangan,” jelas Christine.

Terkait investasi, Hendrisman lebih lanjut menjelaskan bahwa jumlah investasi  pada kuartal pertama 2017, mengalami peningkatan sebesar 21,3 persen yakni dari Rp346,79 triliun di kuartal pertama 2016 menjadi Rp420,82 triliun di kuartal pertama tahun ini.  Kenaikan investasi ini merupakan kontributor utama dari kenaikan pada total aset sebesar 19,8 persen menjadi  Rp475,75 triliun. Pada periode yang sama tahun 2016, total aset industri asuransi jiwa tercatat sebesar Rp397,25 triliun.

Menurut Hendrisman, berdasarkan pencapaian pertumbuhan ini, jelas terlihat bahwa industri asuransi asuransi jiwa terus tumbuh. Hal ini tercapai berkat komitmen para anggota dan peningkatan literasi yang terus digalakkan terhadap masyarakat Indonesia. “Kami optimistis kinerja industri asuransi jiwa akan meningkat signifikan di sepanjang tahun 2017 ini,” tandasnya.

Mengenai jumlah tertanggung, menurut Kepala Departemen Hubungan Antar Lembaga AAJI Nelly Husnayati, total tertanggung industri asuransi jiwa pada kuartal pertama 2017, mencatat pertumbuhan 7,0 persen menjadi 59.207.174 orang. Peningkatan ini sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan total tertanggung kumpulan meningkat 11,9 persen atau sebanyak 41.694.921 orang dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2016 sebesar sebanyak 37.264.459 orang.

“Berdasarkan catatan kami, pertumbuhan selama dua tahun terakhir, jumlah tertanggung dalam periode awal tahun 2016 dan 2017 mengalami pertumbuhan adalah rata-rata sebesar 4,1 persen,” kata Nelly. Menurutnya, pertumbuhan total tertanggung ini, menandakan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap produk asuransi dan pemahaman tujuan berasuransi untuk jangka panjang sudah mulai semakin meningkat.

Terkait tenaga pemasar berlisensi, Nelly menjelaskan bahwa jumlah tenaga pemasar asuransi jiwa pada kuartal pertama tahun ini 566.356 orang. Jumlahnya meningkat 15,2 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2016 sebanyak 491.566 orang. “Dari jumlah tenaga pemasar itu, 90,9 persen berasal dari saluran keagenan,” tambah Nelly. Pada kuartal pertama ini jumlah agen tercatat sebanyak 514.906, jumlah pemasar bancassurance 26.880 orang, dan jumlah pemasar dari saluran alternatif  24.570 orang.

Bhinneka Life Kenalkan Asuransi pada Petani Tasikmalaya

Wed, 08 Aug 2018 - "Dalam tiga tahun ke depan, kita akan memberikan edukasi perencanaan keuangan di bidang asuransi kepada para petani anggota BUMDes seluruh Indonesia. Salah satunya adalah Edukasi Perencanaan Keuangan di bidang Asuransi bagi para Petani Tasikmalaya..."

Dorong Profesionalisme, AAJI Berharap 50% Agen Asuransi Jiwa Masuk MDRT

Mon, 06 Aug 2018 - Kendati anggota MDRT Indonesia masih sekira 1 persen dari total anggota asuransi jiwa yang telah mencapai 600 ribu agen, posisi MDRT yang diakui secara global menjadi alasan bagi AAJI mendorong para agen asuransi jiwa untuk bergabung ke MDRT.

Glen Alexander Winata: Utamakan Proteksi Nasabah, Komisi Pasti Mengikuti

Thu, 02 Aug 2018 - Pada awalnya, kebanyakan agen asuransi pemikirannya selalu berkuat pada berapa komisi yang saya dapatkan. Padahal sejatinya agen asuransi itu memberikan yang terbaij kepada calon nasabah untuk tujuan proteksi mereka dan jangan pernah memikirkan komisi.

Untuk Kemudahan Nasabah, Sequis Life Luncurkan Aplikasi Polisku

Tue, 08 May 2018 - Sequis Polisku yaitu aplikasi mobile dan website untuk memudahkan nasabah dalam mengakses informasi polis dan melakukan berbagai transaksi.

Premi BCA Life Tumbuh 46.33% Jadi Rp 471,308 Miliar di 2017

Mon, 12 Mar 2018 - Seiring dengan penambahan produk baru dan pengembangan bisnis, hingga tahun ketiga operasionalnya BCA Life masih membukukan kerugian sebesar Rp 37,565 miliar.



Non Bank

AXA Mandiri Berikan Penghargaan bagi Bengkel Rekanan Terbaik

Program STAR WORKSHOP AWARD memberikan penghargaan kepa

Gandeng 'tanamduit', Bukalapak Luncurkan Investasi Reksadana

Kelima produk investasi baru yang bekerja sama dengan t

FWD Life dan Bank Mestika Jalin Kerja Sama Bancassurance

Melalui kerjasama bancassurance ini, FWD Life dan Bank

Randi Anto Menjadi Ketua Himppara

Anggota Himppara terdiri dari delapan perusahaan yakni

Portofolio

2019, Pasar modal syariah akan lebih baik dari 2018

Perbaikan itu bukan disebabkan oleh pasar modal syariah

ASCORT ASIA: SBI Jangka Pendek Cocok untuk Pembiayaan Proyek Infrastruktur

SBI JP merupakan alternatif pilihan investasi menarik b

Penyelesaian Transaksi Bursa Dua Hari (T+2) Berjalan Lancar

Percepatan transaksi bursa T+2, memiliki tujuan untuk m

Dorong Milenial Investasi, SGE Gelar Festival

Berdasarkan data terbaru dari Bursa Efek Indonesia, gen

Interview

Glen Alexander Winata: Utamakan Proteksi Nasabah, Komisi Pasti Mengikuti

Pada awalnya, kebanyakan agen asuransi pemikirannya sel

Pengamat Syariah: Dorongan Pemerintah Adalah Kunci

"Pemerintah itu harus ada inisiatif, misalnya proyek Rp

Tren Kendaraan Komersial Menurun

Harga komoditas global yangterus berada di level terend

Satelit adalah Kekuatan BRI

Jalan sejarah sedang ditapaki oleh Bank Rakyat Indonesi

Riset

INDEF: Reformasi Agraria butuh Regulasi

payung hukumnya untuk membagikan kan harus ada. Payung

Tidak Merata, Pulau Jawa Dominasi Pertumbuhan Negara

Apabila sumber pertumbuhan dapat lebih tersebar maka ke

Inklusi Keuangan Meningkat Jadi 67,82 Persen

Indeks inklusi keuangan Indonesia meningkat pada angka

Tax Amnesty Berpotensi Masuki Jilid II

Tax amnesty itu diperpanjang katakanlah setahun lagi bi