Governance, Risk Management & Compliance

Allianz: Asuransi Asia Tumbuh Melambat 2018

Kamis 11 Juli 2019 16:38:0

Meski sebelumnya mengalami perllambatan, Allianz memprediksi pasar asuransi Asia akan meningkat di tahun ini.

JAKARTA, Stabilitas—Menurut proyeksi Allianz Research, volume premi asuransi global tahun lalu naik menjadi 3.655 miliar euro (tidak termasuk asuransi kesehatan). Dibandingkan dengan 2017, kenaikan nominal yang telah disesuaikan dengan efek nilai tukar adalah 3,3 persen.

Ini adalah tahun ketiga berturut-turut (atau ke-12 dari 15 tahun terakhir) bahwa pertumbuhan premi global tertinggal dari ekspansi kegiatan ekonomi (+ 5,7 persen pertumbuhan nominal pada 2018). Penetrasi asuransi (premi sebagai persentase dari PDB) telah turun menjadi 5,4 persen - angka terendah dalam 30 tahun terakhir.

"Kita dihadapkan pada situasi yang sulit. Di satu sisi, risiko di dunia terus meningkat - pikirkan saja perubahan iklim, demografi, siber atau politik - tetapi di sisi lain, orang-orang di seluruh dunia menghabiskan proporsi yang lebih kecil dari pendapatan mereka untuk asuransi. Diperlukan upaya bersama yang besar oleh politik dan industri untuk menutup 'celah perlindungan' ini,"ujar Michael Heise, Chief Economist Allianz SE.

Heise menambahkan, ini juga merupakan tahun yang tidak biasa untuk Asia: Premi naik sangat sedikit yaitu 2,3 persen di Asia (tidak termasuk Jepang), ini merupakan kedua kalinya Asia tertinggal di belakang pertumbuhan global sejak pergantian milenium. Bahkan, dengan kenaikan 4,0 persen ini, Jepang masih tumbuh lebih cepat. Hasilnya: Pada tahun 2018, Asia hanya menyumbang 16 persen dari pertumbuhan global (setelah 81 persen pada 2017). Mesin pertumbuhan global untuk 2018 adalah dua pemain lama: AS (42 persen) dan Jepang (11 persen).

Penyebab kinerja yang kurang maksimal ini mudah ditentukan: Menyusutnya pasar asuransi jiwa di Tiongkok dan Korea pada 2018 - yang menyumbang 40 persen dari total kumpulan premi regional (tidak termasuk Jepang). Di Tiongkok, ini terutama disebabkan oleh penegakan peraturan terhadap perantara asuransi yang menjual produk wealth management.

"2018 tidak menandai akhir dari kisah pertumbuhan Asia," kata Michaela Grimm, ekonom di Allianz Research. "Sebaliknya. Pengawasan yang lebih ketat di Tiongkok disambut baik, menandakan fase selanjutnya dari pembangunan yang lebih seimbang dan berkelanjutan. Ditambah dengan kemajuan teknologi yang menakjubkan di pasar - ini adalah pelopor yang jelas dalam penerapan AI atau solusi pembayaran inovatif - Tiongkok adalah pasar yang harus diperhatikan. Ini adalah tempat terbaik untuk belajar tentang masa depan industri kita. ‘Dijual di Tiongkok' adalah standar emas baru dalam asuransi. "

Oleh karena itu, Allianz Research memperkirakan tahun ini akan terjadi rebound di Asia 
(tidak termasuk Jepang), yang mendorong pertumbuhan premi hingga hampir 11 persen.

Joos Louwerier, Country Manager dan Direktur Utama Allianz Life Indonesia mengatakan Allianz memulai tahun 2018 dengan sangat kuat meskipun terdapat banyak peristiwa besar yang terjadi di pasar.

"Seperti perang dagang antara AS dan Cina, kenaikan harga minyak dan kenaikan suku bunga AS. Ini berdampak pada pasar asuransi jiwa pada tahun 2018. Namun, kami dapat mengatasi tantangan ini dengan pertumbuhan positif dengan memberikan solusi perlindungan yang inovatif dan layanan yang sangat baik,"ujar Joos.

Dirinya menambahkan, premi market di Indonesia tumbuh rendah pada 2018. Ini disebabkan oleh adanya penurunan pada pertumbuhan premi asuransi jiwa. Sebaliknya, premi Property & Casualty (P&C) tumbuh baik dan meningkat dua kali lipat dalam dua tahun terakhir. Meskipun demikian, segmen P&C, menyumbang hanya seperempat dari total kumpulan premi (di luar asuransi kesehatan).

"Top line dan Net Earned Premium Allianz Utama telah tumbuh dengan sangat baik tahun ini dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Namun, bencana alam (gempa bumi) telah menurunkan KPI kinerja keuangan 2018. Meskipun demikian, transformasi ritel digital kami berjalan dengan baik. Hal ini dapat diamati dari tingkat kepuasan nasabah kami, melalui pengukuran Net Promoter Score, yang meningkat secara signifikan. Oleh karena itu kami terus berkomitmen untuk selalu memberikan yang terbaik bagi para mitra bisnis dan nasabah," ujar Peter van Zyl, Presiden Direktur Allianz Utama Indonesia.

Untuk tahun ini, Allianz Research mengharapkan pertumbuhan yang lebih tinggi, dengan pertumbuhan premi sekitar 9 persen secara keseluruhan. Pasar asuransi Indonesia masih 
memiliki banyak ruang untuk mengejar ketinggalan. Premi per kapita mencapai EUR 50 pada tahun 2018 (setara dengan India) sementara penetrasi hanya 1,5 persen, (untuk perbandingan, penetrasi sudah mencapai 3,7 persen di Tiongkok).

Allianz Research berharap pasar asuransi akan terus pulih, dengan perkiraan pertumbuhan premi global yang akan mencapai sekitar 5 persen dalam dekade mendatang. Ekspektasi 
pertumbuhan untuk Asia (tidak termasuk Jepang) lebih tinggi - kawasan ini dapat tumbuh sebesar 9,4 persen per tahun selama dekade mendatang; di Indonesia, pertumbuhan pasar 
diprediksi sebesar 12,5 persen (13,0 untuk asuransi jiwa dan 10,7 untuk P&C). Secara 
keseluruhan, sekitar 60 persen dari premi tambahan akan dihasilkan di Asia (tidak termasuk 
Jepang).

Insurance premiums in property-casualty and life*

 

EUR bn

CAGR*

 

2017

2018

2019e

2019-29e

2019-29 ( persen)

W Europe

981

1002

1028

+368

2.9

N America

1147

1201

1228

+422

2.8

Japan

316

328

339

+110

2.7

Asia ex JP

851

871

964

+1472

9.4

China

412

417

481

+902

11.0

Indonesia

13

13

15

+35

12.5

Rest of World

242

253

270

+300

7.4

World

3537

3655

3829

+2672

5.1

Compound annual growth rate

Insurance markets by life and property-casualty premiums per capita*

 

Country

Premiums per capita in Euro

1

Hong Kong

7,180

2

Switzerland

4,957

3

Denmark

4,744

4

Singapore

4,509

5

Taiwan

3,921

6

Ireland

3,609

7

Norway

3,470

8

Sweden

3,450

9

USA

3,412

10

Great Britain

3,289

 

 

 

13

Japan

2,583

 

 

 

36

China

294

 

 

53

Indonesia

50

*based on 2018 exchange rates

Sequis Hadirkan Produk untuk Milenial

Tue, 16 Jul 2019 - M!Protection adalah produk asuransi yang diperuntukkan untuk usia milenial yang berusia dari 18 hingga 40 tahun.

AIA Indonesia Bermitra dengan Medix Hadirkan Personal Medical Management

Mon, 08 Jul 2019 - Layanan PMM ini dapat dinikmati oleh nasabah Premier Hospital & Surgical (PHS) dan Premier Hospital & Surgical Plus (PHS Plus) serta berhak atas layanan PMM.

Terapkan Digitalisasi, Adira Insurance Akui Terima 400 Klaim per Bulan

Thu, 04 Jul 2019 - Perkembangan teknologi digital yang ditransformasikan dalam aplikasi tracking ini terbukti mampu menaikkan jumlah klaim asuransi dalam jangka waktu 1 bulan.

AXA Indonesia Ajak Masyarakat Lebih Peduli Lingkungan

Thu, 04 Jul 2019 - Lewat program CSR kali ini, AXA Indonesia ingin mengajak semua pihak, mulai dari para pemangku kepentingan baik itu pemerintah, perkumpulan profesi, komunitas hingga masyarakat umum untuk selalu meningkatkan kepeduliannya terhadap lingkungan sekitar.

ASM Bagikan Asuransi Mikro dan Celengan Impian Untuk Masyarakat Sentani

Thu, 23 May 2019 - PT Asuransi Sinar Mas (ASM) menyelenggarakan kegiatan Literasi dan Inklusi Keuangan di Sentani, Papua.



Non Bank

Ekonom DBS Perkirakan BI Turunkan Suku Bunga Acuan

Ada beberapa faktor yang mendukung BI turunkan bunga ac

Sequis Hadirkan Produk untuk Milenial

M!Protection adalah produk asuransi yang diperuntukkan

Resmi Diluncurkan, LinkAja Kenalkan Jajaran Manajemen dan Pencapaian

Meski baru resmi diluncurkan, LinkAja tercatat telah be

Tanamduit Targetkan Dana Kelolaan Rp 1 Triliun

Total dana kelolaan atau asset under management (AUM) T

Portofolio

Interview

Glen Alexander Winata: Utamakan Proteksi Nasabah, Komisi Pasti Mengikuti

Pada awalnya, kebanyakan agen asuransi pemikirannya sel

Pengamat Syariah: Dorongan Pemerintah Adalah Kunci

"Pemerintah itu harus ada inisiatif, misalnya proyek Rp

Tren Kendaraan Komersial Menurun

Harga komoditas global yangterus berada di level terend

Satelit adalah Kekuatan BRI

Jalan sejarah sedang ditapaki oleh Bank Rakyat Indonesi

Riset

INDEF: Reformasi Agraria butuh Regulasi

payung hukumnya untuk membagikan kan harus ada. Payung

Tidak Merata, Pulau Jawa Dominasi Pertumbuhan Negara

Apabila sumber pertumbuhan dapat lebih tersebar maka ke

Inklusi Keuangan Meningkat Jadi 67,82 Persen

Indeks inklusi keuangan Indonesia meningkat pada angka

Tax Amnesty Berpotensi Masuki Jilid II

Tax amnesty itu diperpanjang katakanlah setahun lagi bi