Governance, Risk Management & Compliance

Angin Segar di Pasar Modal

Sabtu 6 Agustus 2016 11:37:0

Pasar modal bergerak anomali dengan pertumbuhan ekonomi karena faktor Brexit bulan lalu. Sementara itu perkembangan dari penerapan kebijakan Tax Amnesty juga akan terus mendorong indeks saham

Di tengah banyaknya berita mengenai pelemahan ekonomi dan bisnis yang mengancam pertumbuhan, apa yang telah terjadi di pasar modal awal Juli tentu menjadi embun penyejuk. Akhir Juni lalu, indeks saham yang selama ini seperti menjauhi zona 5.000, akhirnya berhasil menembusnya.
Hal itu juga yang akhirnya membuat Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio berjalan kaki dari kantornya di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat ke rumahnya di bilangan Pondok Indah, Jakarta Selatan, 1 Juli lalu. Pasalnya, dia pernah berjanji akan berjalan kaki dari Gedung BEI ke rumahnya jika indeks harga saham gabungan (IHSG) tembus 5.000.
Pada penutupan perdagangan Kamis (30/6/2016), IHSG ditutup menguat 36 poin atau 0,73 persen ke level 5.016. Kenaikan ini antara lain didorong oleh peningkatan harga saham emiten berkapitalisasi pasar di atas Rp200 triliun. Emiten tersebut antara lain Astra International Tbk (ASII), H.M. Sampoerna Tbk (HMSP), Unilever Indonesia Tbk (UNVR), Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI).
Berdasarkan data BEI, sejak awal tahun hingga 1 Juli 2016, IHSG BEI membukukann kenaikan sebesar 8,24 persen (year to date/ytd). IHSG hanya kalah dibandingkan dengan bursa Filipina dan Thailand yang masing-masing tumbuh 12,63 persen dan 12,19 persen.
Pencapaian itu tentu semacam paradoks ekonomi saat ini. Dengan pertumbuhan ekonomi kuartal pertama yang rendah ditambah dengan menurunnya ekspektasi perekonomian nasional maka tidak sulit bagi orang untuk memprediksi bahwa pasar modal pun akan tertekan.
Namun indeks saham ternyata bergerak positif. Bahkan level 5.000 berlanjut terus selama sepekan setelah libur Lebaran. “Pasca libur panjang Lebaran, IHSG BEI menguat ditunjang dana asing yang masih terus masuk. Hal ini memperlihatkan bahwa tingkat kepercayaan investor terhadap ekonomi dan pasar modal Indonesia positif,” ucap Analis Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya.
Menurut dia, mengalirnya dana asing ke pasar saham domestik itu seiring dengan harapan tinggi terhadap kebijakan tax amnesty alias pengampunan pajak. Kebijakan itu menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mendorong perekonomian Indonesia ke depan. “Ekspektasi perekonomian domestik yang tumbuh menjadi salah satu daya tarik untuk berinvestasi di dalam negeri. Khususnya saham,” kata William.
Bahkan William memproyeksikan, potensi indeks BEI menuju level 5.108 poin bisa tercapai dalam waktu dekat. Jika terjadi koreksi maka investor dapat manfaatkan momentum itu untuk melakukan akumulasi pembelian.
Analis Reliance Securities Lanjar Nafi menambahkan, penguatan rupiah sebesar 0,6 persen pada awal pekan setelah libur Lebaran, serta perkiraan Bank Indonesia pada surplusnya neraca perdagangan kuartal II 2016 menambah faktor positif bagi pasar saham domestik.
Secara teknikal, lanjut dia, IHSG BEI bergerak menguat terkonsolidasi setelah sebelumnya membentuk pola penurunan. Namun, penguatan IHSG saat ini masuk pada area jenuh beli sehingga rawan aksi ambil untung.
Penopang IHSG BEI sempat terkena dampak buruk dari hasil referendum rakyat Britania Raya yang memutuskan keluar dari Uni Eropa (Britain Exit/Brexit) pada Jumat, 24 Juni 2016. Keluarnya Inggris yang merupakan ekonomi terkuat di Eropa dari komunitas tersebut tak pelak sempat membuat goncangan regional, termasuk Indonesia.
Di Asia Pasifik, koreksi terdalam terjadi di bursa Jepang lebih dari 7 persen. Sementara di bursa Indonesia, pada perdagangan Jumat (24/6/2016), IHSG ditutup di zona merah menyusul mayoritas lantai bursa global yang terkoreksi. Meski terkoreksi, investor asing justru mengakumulasi pembelian saham dengan mencatatkan net buy Rp587,29 miliar. Bahkan, investor asing membukukan net buy Rp1,43 triliun sepanjang pekan tersebut.
Banyak pelaku pasar sempat mengkhawatirkan dampak Brexit tersebut. Namun, tak sedikit juga yang yakin bahwa dampak Brexit hanyalah sementara. Terbukti, pekan berikutnya pasca Brexit, para investor asing justru melakukan aksi beli bersih di bursa Indonesia.
“Bisa dibuktikan yang menarik pasar Eropa turun kita tiga hari terakhir asing selalu net buy. Hari pertama Rp600 miliar, ke dua Rp800 miliar. Hari ini pasar naik lagi. Justru pasar Asia jadi menarik,” kata Dirut BEI Tito Sulistio.
Dia menuturkan, hubungan perdagangan antara Indonesia dan Inggris relatif kecil. Jadi, Brexit dianggap tidak berpengaruh besar pada Indonesia. “Kalau kita lihat perdagangan dengan Inggris kira-kira 150 jutaan dollar AS dengan Indonesia. Tapi kita ini Republik yang secara customer base hidup dari domestik kita sendiri. Dampaknya tidak terlalu besar,” ujar dia.
Memang, pasar saham Asia sempat memerah sebelum keputusan Brexit. Namun menurut Tito itu merupakan antisipasi yang dilakukan pelaku pasar. “Iya psikologis. Semua tahan diri karena semua orang ingin investasi aman,” tandas dia.
Sebelumnya, pasar bursa juga sempat tertekan sebentar ketika lembaga pemeringkat dunia Standard & Poor’s (S&P) memberikan rating Indonesia pada posisi BB+ untuk utang luar negeri jangka panjang dan B untuk utang luar negeri jangka pendek pada awal Juni 2016 lalu. Maklum, rating investment grade dari lembaga prestesius ini biasanya memang dijadikan acuan para investor dalam menempatkan portfolionya.
Berdasarkan data RTI, sehari setelah keluarnya rilis rating S&P, IHSG sempat dibuka melemah tipis ke level 4.836,50 pada perdagangan saham Kamis (2/6). Pada pukul 11.01 WIB, IHSG naik tipis 8,3 poin atau 0,19 persen ke level 4.848,83. IHSG sempat berada di level tertinggi 4.860,86 dan terendah 4.834,19.
Menurut analis PT Danareksa Sekuritas Lucky B. Purnomo, sentimen negatif yang membuat laju IHSG bergerak terbatas pada perdagangan hari itu lantaran pelaku pasar menanggapi pasif rilis peringkat investasi dari S&P tersebut. Sentimen S&P dinilai hanya sementara saja.
Pihaknya tetap yakin IHSG dapat sentuh level 5.200 pada akhir 2016. Ia menuturkan, hal itu didukung dari investor asing yang melihat pasar modal Indonesia masih menarik. Selain itu, potensi penurunan suku bunga acuan juga berdampak ke pasar modal Indonesia. Saat ini BI Rate berada di level 6,75 persen.
Dana Repatriasi Masuk Bursa
Sementara itu, perkembangan terbaru yang dinilai akan mendorong kembali indeks saham ke level yang tertinggi berikutnya adalah kebijakan pengampunan pajak (tax amnesty) yang disahkan 28 Juni 2016 lalu . IHSG diperkirakan akan kembali bergerak menguat hingga menembus level 5.100.
“Apresiasi tax amnesty mulai terlihat, sederhana saja, kebijakan itu menambah likuiditas. Lalu, ‘tax amnesty’ juga dapat memperbaiki neraca pembayaran Indonesia,” ujar Dirut BEI Tito Sulistio.
Tito menyatakan BEI siap menampung dana repatriasi hasil kebijakan pengampunan pajak ke dalam instrumen investasi di pasar modal. Menurutnya, BEI saat ini memiliki velocity ratio atau nilai transaksi dibanding dengan kapitalisasi pasar baru mencapai 21 persen, kondisi itu memungkinkan BEI siap menampung aliran masuk dana dari pengampunan pajak yang jumlahnya triliunan rupiah.
Salah satu instrumen yang disiapkan untuk menampung dana tax amnesty adalah melalui investasi saham, situasi itu akan membuat suplai dana ke bank dan permintaan di saham meningkat.
“Kapitalisasi pasar kita cukup besar dan siap menampung dana itu. Kami siap menampung dana tambahan Rp60 triliun per hari,” ujarnya.
Melihat berbagai kondisi positif yang akan melingkupi pasar saham domestik, cukup beralasan kalau ada optimisme bahwa pasar modal akan menuju nomor satu di kawasan ASEAN.
Pemerintah memperkirakan repatriasi akan mencapai sekitar Rp1.000 triliun. Beberapa perkiraan lainnya menyebutkan bahwa tax amnesty akan menimbulkan repatriasi sekitar Rp500-600 triliun. Anggaplah Rp500-600 triliun ini sebagai angka yang lebih realistis. Meskipun nilainya lebih kecil, repatriasi dana sebesar Rp500-600 triliun ini sangat berarti bagi likuiditas keuangan kita. Dana repatriasi ini akan menambah kemampuan sektor keuangan untuk kegiatan investasi di berbagai sektor ekonomi. Terlebih lagi, dana repatriasi ini harus mengendap setidaknya 3 tahun di Indonesia.


Non Bank

Bhinneka Life Kenalkan Asuransi pada Petani Tasikmalaya

“Dalam tiga tahun ke depan, kita akan memberikan eduk

Dorong Profesionalisme, AAJI Berharap 50% Agen Asuransi Jiwa Masuk MDRT

Kendati anggota MDRT Indonesia masih sekira 1 persen da

"The Gade Clean and Gold" Menukar Sampah menjadi Tabungan Emas

Masyarakat bisa menjual sampah dan hasil penjualannya b

PEFINDO Biro Kredit dan Trimegah Sekuritas Resmikan Perjanjian Keanggotaan

“Kami menyambut baik bergabungnya Trimegah Sekuritas

Portofolio

Ini 57 Entitas Yang Aktivitasnya Dilarang Satgas Waspada Investasi OJK

Imbauan ini dikeluarkan mengingat entitas tersebut tida

Gandeng China Galaxy Securities, CIMB Awali Bisnis Pialang Saham di Asia

Usaha patungan berpeluang tumbuh untuk mendukung aktivi

Menkeu Berharap Pemda Manfaatkan Investasi untuk Bangun Daerah

Menkeu mencontohkan daerah Halmahera Utara dan Tabanan

Masyarakat Indonesia Mulai Minati Cryptocurrency

puluhan ribu masyarakat Indonesia diklaim telah mulai t

Interview

Glen Alexander Winata: Utamakan Proteksi Nasabah, Komisi Pasti Mengikuti

Pada awalnya, kebanyakan agen asuransi pemikirannya sel

Pengamat Syariah: Dorongan Pemerintah Adalah Kunci

"Pemerintah itu harus ada inisiatif, misalnya proyek Rp

Tren Kendaraan Komersial Menurun

Harga komoditas global yangterus berada di level terend

Satelit adalah Kekuatan BRI

Jalan sejarah sedang ditapaki oleh Bank Rakyat Indonesi

Riset

INDEF: Reformasi Agraria butuh Regulasi

payung hukumnya untuk membagikan kan harus ada. Payung

Tidak Merata, Pulau Jawa Dominasi Pertumbuhan Negara

Apabila sumber pertumbuhan dapat lebih tersebar maka ke

Inklusi Keuangan Meningkat Jadi 67,82 Persen

Indeks inklusi keuangan Indonesia meningkat pada angka

Tax Amnesty Berpotensi Masuki Jilid II

Tax amnesty itu diperpanjang katakanlah setahun lagi bi