Governance, Risk Management & Compliance

Antara Risiko dan Spekulasi

Jumat 1 Juli 2016 22:47:0

Jika kita melihat sekilas, substansi dari apa yang disebut sebagai sebuah risiko mirip dengan pengertian spekulasi. Hal itu bisa jadi dikarenakan banyaknya produk-produk bisnis dan keuangan yang berisiko yang kadang dipahami sebagai praktik spekulatif.

Jika kita melihat sekilas, substansi dari apa yang disebut sebagai sebuah risiko mirip dengan pengertian spekulasi. Hal itu bisa jadi dikarenakan banyaknya produk-produk bisnis dan keuangan yang berisiko yang kadang dipahami sebagai praktik spekulatif. Atau sebaliknya, praktik-praktik bisnis spekulatif kadang dipahami sebagai bagian dari risiko. Padahal, dalam fikih, ketentuan dan implikasi hukum risiko dan spekulasi itu berbeda.

Dalam Islam, risiko dibedakan menjadi dua bagian, yaitu risiko yang melekat dalam setiap investasi, dan risiko yang mengandung unsur spekulasiatau taruhan.
Ibnu Taimiyah, salah seorang ulama salaf, telah memilah jenis risiko dalam kitabnya majmu fatawa : ‘Risiko terbagi menjadi dua, yang pertama adalah risiko bisnis, yaitu seseorang yang membeli barang dengan maksud menjualnya kembali dengan tingkat keuntungan tertentu, dan dia bertawakkal kepada Allah atas hal tersebut. Ini merupakan risiko yang harus diambil oleh para pebisnis.... bisnis tidak mungkin terjadi tanpa hal tersebut. Yang kedua adalah maisir yang berarti memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Spekulasi inilah yang dilarang Allah dan Rasul-Nya’.

Pertama, risiko yang melekat dalam setiap investasi dan tidak bisa dipisahkan dari setiap produk bisnis sebagaimana pengertiannya dalam fikih, risiko adalah akibat yang tidak pasti (mastur al-‘aqibah). Risiko sebagaimana tersebut di atas itu tidak hanya dibolehkan, bahkan harus ada dalam setiap transaksi bisnis, baik transaksi jual beli (bai’), bagi hasil (musyarakah) ataupun sewa (ijarah).

Banyak landasan dalil berupa nash, sirah, maqashid dan kaidah fikih dalam syariat Islam ini yang mewajibkan pelaku usaha untuk melakukan bisnis dengan mempertimbangkan risiko-risiko sehingga bisnisnya terjaga dan terhindar dari kerugian, dan sebaliknya menghasilkan menguntungkan.

Di antaranya sesuai dengan kaidah fikih al-kharraj bi al-dhaman dan kaidah fikih al-ghunmu bil ghurmi. Maksudnya, dalam investasi, risiko seharusnya berbanding lurus dengan keuntungan, jika ada risiko maka ada hak keuntungan dan jika tidak risiko, maka tidak boleh ada keuntungan. Jadi tanggung jawab pelaku bisnis dalam mengelola risiko menjadi salah satu penyebab untuk mendapatkan keuntungan.

Oleh karena itu, pelaku usaha yang yang mendapat ‘keuntungan’ tanpa risiko itu tidak diperbolehkan. Contohnya pinjaman berbunga karena kreditur telah mendapatkan bunga atas pokok pinjaman tanpa risiko. Sebaliknya debitur harus membayar pinjaman dalam kondisi apapun.

Melakukan mitigasi risiko dalam bisnis juga menjadi bagian dari maqashid syariah (tujuan yang ingin dicapai dalam syariah), yaitu menjaga harta (hifdzul mal). Mitigasi risiko tersebut juga bukan hal yang baru, tetapi sudah menjadi tradisi pelaku binsis sejak masa Rasulullah Saw dan sahabat sebagaimana penegasan kisah Abbas bin Abdul Muthalib.

Landasan Hukum

Diriwayatkan, Jika Ibnu Abbas menyerahkan modal mudharabah, maka ia memberikan syarat kepada pengelola agar tidak melewati lautan, jurang, tidak untuk dibelikan tunggangan yang memiliki hati yang basah. Jika si pengelola melakukan hal-hal terlarang tersebut, maka ia bertanggung jawab. Kemudian Ibnu Abbas menanyakan syarat-syarat tersebut kepada Rasulullah Saw. Kemudian Rasulllah membolehkannya (bagi hasil bersyarat tersebut, -pen).

Contoh lain dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah, ia berkata, “Akad musaqah dan muzara’ah diberlakukan dengan mengandalkan komitmen (amanah) pengelola, sesuau yang sulit terjadi atau sulit dilakukan. Oleh karena itu, masyarakat membutukan akad ijarah, karena dengan akad ijarah, harta yang disewakan itu terjamin. Oleh karena masyarakat di banyak tempat dan kondisi meninggalkan transaksi muzara’ah dan memilih ijarah sebagai alternatif karena sebab tersebut di atas.”

Akad muzara’ah dan akad musaqah adalah akad amanah, yaitu akad yang mengandalkan komitmen pengelola. Tetapi karena pemilik tanah menghadapi risiko komitmen pengelola, maka di antara solusinya adalah memilih akad ijarah sebagai alternatif, bukan akad musaqah dan muzara’ah. Agar tanah mereka terjamin kembali kepada pemiliknya.

Kedua, risiko sebagaimana dijelaskan di atas itu berbeda dengan spekulasi. Praktik spekulasi bisa dikenali dari karakteristiknya yaitu menjual barang yang belum dimiliki, melakukan transaksi formalitas, transaksi yang pertama yang dilakukan oleh spekulan itu belum sempurna karena barang belum dimiliki, spekulan membeli barang bukan untuk dimiliki tetapi untuk langsung dijual, menciptakan permintaan palsu, serta ada unsur taruhan.

Risiko jenis ini adalah spekulasi yang tidak dibolehkan dalam Islam sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Taimiyah di atas dan dikategorikan gharar atau maisir.
Fatwa-fatwa Dewan Syariah Nasional juga menjelaskan bahwa transaksi jual beli mata uang, transaksi pasar modal, dan transaksi perdagangan efek dengan tujuan spekulasi itu tidak dibolehkan.

Dengan demikian, fikih klasik sudah memilah dengan jelas antara risiko yang menjadi bagian dari setiap praktik bisnis dan keuangan syariah, dan spekulasi yang tidak dibenarkan dalam islam.


Non Bank

Presiden Jokowi: Pengembangan Ekonomi Digital Butuh Kebijakan yang Akomodatif

Pengaturan yang akomodatif menjadi semakin penting, aga

Bhinneka Life Gelar Literasi Keuangan untuk Guru Se-Yogyakarta

Mengajak peran serta para guru mata pelajaran ekonomi d

Mandiri Inhealth Tangani 447 Kasus di Asian Games 2018

Bukti dukungan Mandiri Inhealth dalam ajang Asian Games

OJK Temukan 182 Fintech dan 10 Entitas Penawaran Investasi Tanpa Izin

Jumlah peer to peer lendingtidak berijin yang ditemukan

Portofolio

Ini 57 Entitas Yang Aktivitasnya Dilarang Satgas Waspada Investasi OJK

Imbauan ini dikeluarkan mengingat entitas tersebut tida

Gandeng China Galaxy Securities, CIMB Awali Bisnis Pialang Saham di Asia

Usaha patungan berpeluang tumbuh untuk mendukung aktivi

Menkeu Berharap Pemda Manfaatkan Investasi untuk Bangun Daerah

Menkeu mencontohkan daerah Halmahera Utara dan Tabanan

Masyarakat Indonesia Mulai Minati Cryptocurrency

puluhan ribu masyarakat Indonesia diklaim telah mulai t

Interview

Glen Alexander Winata: Utamakan Proteksi Nasabah, Komisi Pasti Mengikuti

Pada awalnya, kebanyakan agen asuransi pemikirannya sel

Pengamat Syariah: Dorongan Pemerintah Adalah Kunci

"Pemerintah itu harus ada inisiatif, misalnya proyek Rp

Tren Kendaraan Komersial Menurun

Harga komoditas global yangterus berada di level terend

Satelit adalah Kekuatan BRI

Jalan sejarah sedang ditapaki oleh Bank Rakyat Indonesi

Riset

INDEF: Reformasi Agraria butuh Regulasi

payung hukumnya untuk membagikan kan harus ada. Payung

Tidak Merata, Pulau Jawa Dominasi Pertumbuhan Negara

Apabila sumber pertumbuhan dapat lebih tersebar maka ke

Inklusi Keuangan Meningkat Jadi 67,82 Persen

Indeks inklusi keuangan Indonesia meningkat pada angka

Tax Amnesty Berpotensi Masuki Jilid II

Tax amnesty itu diperpanjang katakanlah setahun lagi bi