Governance, Risk Management & Compliance

Berharap Tuah Tahun Politik

Rabu 7 Maret 2018 18:14:0

Bagi pebisnis keuangan syariah, hajatan politik juga menyajikan peluang untuk meningkatkan bisnis dan awareness masyarakat.

Oleh Taufan Sukma

Di mata pebisnis, setiap momen politik selalu diibaratkan pisau bermata dua. Di satu sisi panasnya atmosfer persaingan berpotensi berpotensi memantik risiko stabilitas keamanan. Jika hal itu benar terjadi, tentu iklim dunia usaha bakal kena getahnya. Aktifitas jual-beli menjadi tak lagi nyaman dengan situasi sosial di masyarakat yang kurang kondusif.

Tahun 2018 ini, sedikitnya ada 17 provinsi, 115 kabupaten dan 39 kota yang bakal melakukan pemilihan kepala daerah secara berbarengan. Jika pemerintah tak hati-hati dalam menjaga keamanan dan ketertiban, bukan tidak mungkin panasnya tensi persaingan di masing-masing daerah menimbulkan ancaman yang mengganggu stabilitas perekonomian nasional.

Namun bicara momen hajatan politik tak melulu soal kekhawatiran. Di balik potensi instabilitas yang mengancam, terselip juga potensi penggerak dunia usaha berupa kemungkinan melonjaknya aktifitas belanja di masyarakat seiring dengan dibutuhkannya berbagai pasokan atribut pendukung kampanye, seperti kaos partai, baliho, umbul-umbul hingga kebutuhan terhadap konsumsi dan tak ketinggalan pula produk-produk jasa keuangan yang sekiranya tahan terhadap goncangan-goncangan insidentil seperti tahun politik ini. Peluang booster ekonomi ini pula yang juga tengah ditunggu oleh para pelaku bisnis syariah nasional dari hiruk-pikuk gelaran Pilkada serentak.

Menurut Pengamat Ekonomi Syariah, Adiwarman Azwar Karim, di setiap penyelenggaraan kegiatan politik biasanya tingkat likuiditas di masyarakat bakal meningkat. Perputaran uang berjalan lebih kencang dibanding momen biasa lantaran terdorong oleh pembelanjaan berbagai ragam peranti kampanye. Hal ini kemudian membuat daya beli masyarakat meningkat, sehingga kebutuhan terhadap produk keuangan jangka panjang juga turut terkerek naik. “Pada titik ini, industri jasa keuangan bakal kelimpahan dana segar yang bisa menjadi tenaga baru untuk memacu bisnisnya. Hal ini juga berlaku untuk pelaku (industri jasa keuangan) syariah,” ujar Adiwarman, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Lebih Menarik

Ketika terjadi lonjakan tingkat kebutuhan masyarakat terhadap produk jasa keuangan seperti itu, menurut Adiwarman, produk jasa keuangan syariah memiliki keunggulan dibanding produk konvensional lain. Keunggulan tersebut berupa kondisi masyarakat Indonesia saat ini yang telah mulai sadar terhadap kebutuhan aktifitas hidupnya, termasuk juga aktifitas keuangan, yang lebih sesuai dengan prinsip-prinsip syar’i.

Pun, masyarakat secara umum kini disebut Adiwarman juga cenderung lebih tertarik pada produk jasa keuangan syariah dibanding konvensional lantaran tidak melulu mengedepankan azas profitabilitas semata, melainkan juga azas kebersamaan dan juga sosial. “Produk asuransi syariah, misalnya, lebih diminati karena lebih menonjolkan azas saling membantu antar sesama nasabah, bukan ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan asuransi seperti yang ada di (produk asuransi) konvensional,” tutur Adiwarman.

Pandangan Adiwarman ini diamine oleh Ketua Umum Asosiasi Asuransi Syariah (AASI), Ahmad Sya'roni. Menurut dia, asuransi syariah kini kian mendapatkan tempat di masyarakat karena dianggap lebih memiliki azas keadilan dibanding produk asuransi konvensional. Azas keadilan tersebut menurut Sya’roni muncul dari konsep saling bantu antar nasabah yang diterapkan oleh asuransi syariah.Hal itu setidaknya menafikan kemungkinan adanya pihak yang menerima keuntungan lebih dibanding pihak lainnya. “Dengan adanya prinsip keadilan inilah Saya yakin prospek industri (asuransi syariah) ke depan bakal lebih menggairahkan,” tutur Sya’roni.

Ritel dan Mikro

Dengan optimisme yang serupa, baik Adiwarman maupun Sya’roni sepakat memperkirakan potensi pertumbuhan industri asuransi syariah di sepanjang tahun 2018 ini bakal berada di kisaran 15 persen 20 persen hingga akhir tahun. Potensi pertumbuhan lebih besar terutama dimiliki oleh jenis asuransi jiwa, seperti halnya tren pertumbuhan yang telah terjadi di tahun 2017 lalu. Sedangkan bila ditilik secara sektoral, ceruk pasar di segmen mikro dan bisnis ritel dianggap masih menyimpan potensi besar yang belum banyak tergarap.

Selain itu, peluang besar lain juga terpampang di segmen kuliner dan juga pariwisata seiring dengan kian diminatinya pariwisata dan kuliner halal oleh masyarakat Indonesia. “Dan dengan adanya tahun politik ini secara tidak langsung menjadi promosi gratis bagi asuransi syariah. Juga dengan tren halal food dan halal tourism. Ini biasanya jadi ‘jualan’ para calon kepala daerah bahwa wilayahnya memiliki potensi pengembangan untuk itu (halal food dan halal tourism),” ungkap Sya’roni.

Tak hanya segmen mikro dan ritel, jenis produk asuransi syariah lain yang berpeluang kian digemari masyarakat di tahun 2018 adalah produk asuransi wakaf. Jenis produk ini menurut Sya’roni lebih berpotensi digemari karena juga merupakan salah satu jenis portofolio investasi. Yang menarik, jenis produk ini hanya tersedia di asuransi syariah dan tidak dimiliki oleh produk asuransi konvensional. Dengan begitu, ceruk asuransi wakaf ini dinilai menjadi satu kekuatan tersendiri bagi pertumbuhan industri asuransi syariah secara keseluruhan. “Tinggal ke depan produk (wakaf) ini harus didorong lebih dalam, lalu sisi manfaatnya lebih terstruktur, maka Saya sangat yakin dia (produk wakaf) bisa jadi unggulannya asuransi syariah,” tegas Sya’roni.

Sebagaimana diketahui, produk wakaf sendiri memang pada dasarnya merupakan produk investasi baru yang belum begitu dikenal luas oleh masyarakat. Wakaf sendiri merupakan salah satu instrument keuangan syariah yang diyakini dapat diandalkan dalam mencapai tujuan pembangunan yang berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs)., seperti pengurangan tingkat kemiskinan melalui upaya penyejahteraan masyarakat luas. Selain itu, wakaf juga dapat diandalkan perannya dalam penyediaan fasilitas umum serta peningkatan kualitas Pendidikan dan kesehatan masyarakat. Wakaf memiliki beragam bentuk, meski yang kini telah familiar dikenal masyarakat baru untuk jenis wakaf tanah. Selain tanah, jenis wakaf lain yang memiliki karakteristik cukup fleksibel adalah wakaf uang.

Sejauh ini Indonesia dipercaya memiliki potensi pengembangan produk wakaf yang demikian besar. Dengan jumlah penduduk yang mencapai 263 juta jiwa dengan sekitar 87 persen diantaranya merupakan pemeluk Agama Islam, Indonesia dianggap memiliki potensi aset yang sangat besar yang dapat dihimpun dan dikembangkan guna mendorong pembangunan nasional dan juga kesejahteraan masyarakat. Bank Indonesia (BI), misalnya, dalam satau risetnya menyatakan bahwa sektor sosial Islam yang juga mencakup diantaranya sistem wakaf memiliki potensi hingga Rp217 triliun atau setara dengan 3,4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Dengan potensi sebesar itu, produk wakaf diyakini dapat diandalkan guna mempercepat pembangunan ekonomi, bahkan dalam rangka menjaga stabilitas keuangan nasional.

Tantangan

Dengan segala potensi yang dimiliki, produk wakaf dapat menjadi salah satu solusi dari sekian banyak tantangan industri syariah di masa mendatang, yang salah satu diantaranya adalah terkait keterbatasan instrument investasi dalam bentuk syariah. “(Wakaf) Ini menjadi salah satu solusi penting. Bagaimana asuransi berbasis syariah ini bisa mengemas produk yang berbeda dengan yang dimiliki oleh (asuransi) konvensional. Yaitu diantaranya dengan penambahan fitur wakaf,” tutur Sya’roni.

Selain keterbatasan instrumen investasi, dalam catatan Sya’roni, tantangan lain industri adalah terkait masih rendahnya tingkat literasi masyarakat terhadap asuransi syariah. Berdasarkan catatan AASI, dikatakan dia, dari total sekitar 15 persen masyarakat Indonesia yang ‘melek’ asuransi, hanya sekitar tujuh persen saja yang menjadi pengguna produk asuransi syariah. “Masih banyak yang harus dijelaskan ke masyarakat. Masih perlu edukasi secara intensif. Masih perlu ada penjelasan tentang apa sih keuntungannya berasuransi. Ke situ saja dulu. Baru kalau sudah paham tentang asuransi, baru selanjutnya (penjelasannya) ke asuransi syariah. Ini belum sampai ke level akar rumput,” keluh Sya’roni.

Tebar Promo Haji Umroh dan Wisata Halal, BNI Syariah Gelar Acara Islamic Tourism Expo 2019

Wed, 21 Aug 2019 - Pameran internasional ini merupakan satu diantara sekian bentuk komitmen BNI Syariah dalam mengembangkan ekosistem halal, dimana industri halal termasuk wisata halal memiliki potensi yang besar

Gelar Program Merdeka Berhasanah, BNI Syariah Catat Realisasi Pembiayaan Rp 225 Miliar di HUT RI-74

Mon, 19 Aug 2019 - Realisasi pre approval untuk program Merdeka Berhasanah tahun 2019 melebihi target yaitu Rp 225 miliar dari 604 nasabah.

Dorong "Spin Off", OJK Akan Bolehkan "Platform Sharing"

Thu, 15 Aug 2019 - Dalam aturan tersebut nantinya OJK akan menegaskan bahwa induk usaha bisa berbagi semua hal kepada anak usaha syariahnya yang sudah dipisahkan agar bisa tercipta efisiensi di industri perbankan syariah. Kecuali untuk modal dan manajemen.

Spin Off atau Konversi, Bank Syariah Harus Hadapi Tantangan Berikut

Fri, 09 Aug 2019 - Berdasarkan data OJK, terdapat 12 UUS BPD yang belum memenuhi syarat untuk spin off.

Layanan Wakaf Saham Diluncurkan

Thu, 08 Aug 2019 - Galeri wakaf saham ini nantinya akan menjadi tempat sinergi antara empat pihak untuk melakukan transaksi jual beli saham syariah.

Danamon Resmikan Kantor Cabang Syariah

Tue, 06 Aug 2019 - Dengan dibukanya kantor yang baru ini, Danamon Syariah saat ini memiliki 11 Kantor Cabang Syariah dan 400 Office Channeling



Non Bank

Kian Mudah, Adira Perkenalkan Klaim #1JariBeres

Sepanjang tahun 2019, Adira Insurance telah menerima 4.

Kredivo Luncurkan Inovasi Terbaru

Melalui aplikasi ini, pengguna bisa memilih opsi cicila

Adira Insurance Buka Kantor Perwakilan di Pusat Perbelanjaan

Keberadaan kantor representatif Adira Insurance ingin m

Gandeng Ralali.com, ASM Maksimalkan E Commerce

Secara korporasi, kerjasama dengan Ralali.com ini juga

Portofolio

Tamasia Targetkan Jual 150 Kg Emas

CEO dan Co Founder Tamasia Muhammad Assad mengungkapkan

Unilever Raup Laba Rp21,5Triliun

Penjualan di pasar domestik mendominasi pendapatan bers

Interview

Glen Alexander Winata: Utamakan Proteksi Nasabah, Komisi Pasti Mengikuti

Pada awalnya, kebanyakan agen asuransi pemikirannya sel

Pengamat Syariah: Dorongan Pemerintah Adalah Kunci

"Pemerintah itu harus ada inisiatif, misalnya proyek Rp

Tren Kendaraan Komersial Menurun

Harga komoditas global yangterus berada di level terend

Satelit adalah Kekuatan BRI

Jalan sejarah sedang ditapaki oleh Bank Rakyat Indonesi

Riset

INDEF: Reformasi Agraria butuh Regulasi

payung hukumnya untuk membagikan kan harus ada. Payung

Tidak Merata, Pulau Jawa Dominasi Pertumbuhan Negara

Apabila sumber pertumbuhan dapat lebih tersebar maka ke

Inklusi Keuangan Meningkat Jadi 67,82 Persen

Indeks inklusi keuangan Indonesia meningkat pada angka

Tax Amnesty Berpotensi Masuki Jilid II

Tax amnesty itu diperpanjang katakanlah setahun lagi bi