Governance, Risk Management & Compliance

Neraca Dagang Mei 2019 Surplus

Senin 24 Juni 2019 23:15:0

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari hingga Mei 2019 mencapai USD68,46 miliar atau menurun 8,61 persen dibanding periode yang sama tahun 2018, demikian juga ekspor nonmigas mencapai USD63,12 miliar atau menurun 7,33 persen.

JAKARTA, Stabilitas—Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia selama bulan mei mengalami surplus sebesar USD210 juta. Bila dirinci, nilai ekspor naik sebesar 12,42 persen dari April 2019 menjadi USD14,74 miliar. Sementara, impornya turun 5,62 persen menjadi USD14,53 miliar.

"Surplus bulan ini lebih tinggi dari bulan sebelumnyayang defisit USD 2,5 miliar. Meskipun bulan ini terjadi surplus, total keseluruhan neraca perdagangan dari bulan Januari hingga Mei masih mencatatkan defisit sebesar USD 2,14 miliar,"kata Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Senin (24/6/2019.).

Suhariyanto melanjutkan, ekspor nonmigas Mei 2019 mencapai USD13,63 miliar, naik 10,16 persen dibanding April 2019. Sementara dibanding ekspor nonmigas Mei 2018, turun 6,44 persen.

"Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari–Mei 2019 mencapai USD68,46 miliar atau menurun 8,61 persen dibanding periode yang sama tahun 2018, demikian juga ekspor nonmigas mencapai USD63,12 miliar atau menurun 7,33 persen,"paparnya.

Peningkatan terbesar ekspor nonmigas Mei 2019 terhadap April 2019 terjadi pada lemak dan minyak hewani/nabati sebesar USD178,0 juta (14,97 persen), sedangkan penurunan terbesar terjadi pada bijih, kerak, dan abu logam sebesar USD131,1 juta (49,05 persen).

Menurut sektor, lanjutnya, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari– Mei 2019 turun 6,27 persen dibanding periode yang sama tahun 2018, demikian juga ekspor hasil pertanian turun 1,89 persen, dan ekspor hasil tambang dan lainnya turun 12,67 persen.

Ekspor nonmigas Mei 2019 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu USD2,23 miliar, disusul Amerika Serikat USD1,63 miliar dan Jepang USD1,20 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 37,17 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (28 negara) sebesar USD1,38 miliar.

Sementara itu, nilai impor Indonesia Mei 2019 mencapai USD14,53 miliar atau turun 5,62 persen dibanding April 2019. Demikian pula jika dibandingkan Mei 2018 turun 17,71 persen.

"Impor nonmigas Mei 2019 mencapai USD12,44 miliar atau turun 5,48 persen dibanding April 2019. Demikian pula jika dibandingkan Mei 2018 turun 15,94 persen,"imbuhnya.

Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–Mei 2019 ditempati oleh Tiongkok dengan nilai USD18,03 miliar (29,31 persen), Jepang USD6,46 miliar (10,50 persen), dan Thailand USD3,95 miliar (6,43 persen). Impor nonmigas dari ASEAN 19,18 persen, sementara dari Uni Eropa 8,23 persen.

Nilai impor semua golongan penggunaan barang baik barang konsumsi, bahan baku/penolong, dan barang modal selama Januari–Mei 2019 mengalami penurunan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing 11,10 persen, 9,39 persen, dan 7,41 persen.

Pengentasan Kemiskinan Era Jokowi Lamban

Tue, 16 Jul 2019 - Pada tahun 2009 yang merupakan tahun pertama SBY periode II, Ditemukan bahwa terjadi penurunan kemiskinan dari 13,74 persen ke 11,25 persen alias 2,49 persen. Yang berarti 1,6 kali lipatnya pencapaian Jokowi Jilid I

BPS: Upah Buruh Naik Tipis

Mon, 24 Jun 2019 - Upah nominal buruh mengalami kenaikan sedangkan upah riil mengalami penurunan sebesar 0.39 persen sedangkan upah buruh bangunan stagnan pada Rp88.664/ harinya.

BPS: Maret 2019 Neraca Perdagangan Surplus

Mon, 15 Apr 2019 - Badan Pusat Statistik mencatat, meskipun pada bulan Marer 2019 neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus, jika digabungkan nilainya dengan bulan Januari dan Februari, neraca perdagangan Indonesia tetap mengalami defisit.

BPS: Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen Sulit Tercapai

Wed, 06 Feb 2019 - Badan Pusat Statistik (BPS) menilai target pemerintah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen masih sangat sulit tercapai karena ketidakpastian perekonomian dunia.

Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2018 Tertinggi Sejak 2014

Wed, 06 Feb 2019 - Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2018 menjadi yang tertinggi sejak 2014 dan masih didorong oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,05 persen, meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 4,94 persen.

Koreksi Harga Pangan Kembali Mendorong Deflasi September 2018

Mon, 01 Oct 2018 - Dengan perkembangan tersebut, inflasi secara kumulatif sampai dengan September 2018 mencapai 1,94% (ytd) dan secara tahunan mencapai 2,88% (yoy) atau masih berada dalam kisaran sasaran inflasi 3,5%1% (yoy).



Non Bank

Ekonom DBS Perkirakan BI Turunkan Suku Bunga Acuan

Ada beberapa faktor yang mendukung BI turunkan bunga ac

Sequis Hadirkan Produk untuk Milenial

M!Protection adalah produk asuransi yang diperuntukkan

Resmi Diluncurkan, LinkAja Kenalkan Jajaran Manajemen dan Pencapaian

Meski baru resmi diluncurkan, LinkAja tercatat telah be

Tanamduit Targetkan Dana Kelolaan Rp 1 Triliun

Total dana kelolaan atau asset under management (AUM) T

Portofolio

Interview

Glen Alexander Winata: Utamakan Proteksi Nasabah, Komisi Pasti Mengikuti

Pada awalnya, kebanyakan agen asuransi pemikirannya sel

Pengamat Syariah: Dorongan Pemerintah Adalah Kunci

"Pemerintah itu harus ada inisiatif, misalnya proyek Rp

Tren Kendaraan Komersial Menurun

Harga komoditas global yangterus berada di level terend

Satelit adalah Kekuatan BRI

Jalan sejarah sedang ditapaki oleh Bank Rakyat Indonesi

Riset

INDEF: Reformasi Agraria butuh Regulasi

payung hukumnya untuk membagikan kan harus ada. Payung

Tidak Merata, Pulau Jawa Dominasi Pertumbuhan Negara

Apabila sumber pertumbuhan dapat lebih tersebar maka ke

Inklusi Keuangan Meningkat Jadi 67,82 Persen

Indeks inklusi keuangan Indonesia meningkat pada angka

Tax Amnesty Berpotensi Masuki Jilid II

Tax amnesty itu diperpanjang katakanlah setahun lagi bi