Governance, Risk Management & Compliance

Butuh Insentif

Jumat 1 Juli 2016 23:42:0

Ekonomi seringkali dijalankan dengan insentif atau dengan disinsentif. Dan insentif atau disinsentif itu biasanya dikeluarkan oleh pemerintah atau sebuah lembaga pemilik otoritas.

Ekonomi seringkali dijalankan dengan insentif atau dengan disinsentif. Dan insentif atau disinsentif itu biasanya dikeluarkan oleh pemerintah atau sebuah lembaga pemilik otoritas. Akan tetapi ketika berhadapan dengan kenyataan tidaklah sesederhana itu. Tengok saja paket kebijakan yang sudah berjumlah selusin yang disodorkan pemerintahan Joko Widodo ke publik. Kebijakan yang berisi ratusan deregulasi yang sudah terbit sejak tahun lalu itu ternyata belum mampu menggerakkan mesin-mesin perekonomian secara optimal.

Sepanjang kuartal pertama lalu, berdasarkan rilis dari Badan Pusat Statistik, pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 4,92 persen, lebih rendah jika dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal keempat 2015 yang sebesar 5,04 persen.

Memang pendapat itu bisa saja dimentahkan dengan alasan bahwa efektifitas paket kebijakan membutuhkan waktu tidak hanya setahun, bahkan bisa bertahun-tahun. Alasan itu memang masuk akal, namun demikian, setidaknya ada beberapa aturan dari selusin paket itu yang sudah memberikan dampaknya pada perekonomian.

Diskusi mengenai keberhasilan atau kegagalan dari sebuah kebijakan, dari sebuah pemerintahan bisa sangat KOLOMrelatif. Jangankan pemerintahan sekarang yang baru berumur dua tahun, pemerintahan lalu saja yang sudah berkuasa selama 10 tahun tetap bisa dibilang gagal. Tergantung dari sudut mana melihatnya dan tergantung siapa yang berbicara. Looks who’s talking.

Oleh karena itu, pemerintahan sekarang tidak boleh buru-buru dikatakan tidak berhasil atau dicap akan menemui kegagalan, meski imbas dari penurunan ekonomi dalam dua tahun terakhir bisa menjadi rapor merah.

Mari kembali kepada kinerja triwulan pertama. Melemahnya pertumbuhan tentu akan memberikan ekspektasi yang negatif kepada para pelaku pasar. Sektor kredit misalnya. Perlambatan ekonomi pada kuartal awal itu bisa membuat sektor perbankan makin hati-hati dan mulai menurunkan kredit. Bahkan Bank Sentral menurunkan proyeksi pertumbuhan kedit 2016 dari di atas 12 persen menjadi sebesar 11 persen.

Anggaran negara memberi sinyal yang lebih suram. Realisasi penerimaan pada triwulan pertama selalu lebih rendah, sebaliknya realisasi belanja selalu meningkat. Dan ini sudah terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Apalagi melihat tren ekspor yang masih stagnan, padahal itu merupakan cara ampuh mendongkrak pertumbuhan. Melihat itu semua, seorang ekonom, mengatakan jika tren ini dibiarkan terus maka defisit anggaran yang harus dijaga di bawah level 3 persen akan ambrol.

Di pasar keuangan dan pasar modal, bisa jadi situasinya lebih parah. Para pemain yang biasanya memegang pameo “buy on rumour and sell on fact” tentu akan bereaksi negatif terhadap pelemahan ekonomi ini. Fakta bahwa pemerintah tengah mengalami kerepotan dalam mengurusi fiskal tentu menjadi alasan mereka melepas portofolio rupiah. Dan rumor bahwa defisit akan makin melebar akan membuka mereka membeli portofolio asing.

Jika ini terjadi maka target pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan 5,3 persen dan direvisi menjadi 5,1 persen bulan ini, akan menjadi sesuatu yang cukup jauh untuk dijangkau. Namun demikian perjalanan masih jauh dan waktu masih tersedia. Dan mungkin pemerintah masih punya insentif lain untuk dikeluarkan. Atau disinsentif lain?


Non Bank

Pelanggaran Fintech, Pertemuan OJK dan LBH Belum Ada Titik Temu

Belum ada titik temu disebebkan belum ada kesepahaman m

Industri Halal Indonesia Masih Tertinggal

Dalam mengembangkan Industri halal, tentunya tidak terl

Amartha Konsisten Gandeng UMKM Perempuan

PT Amartha Mikro Fintek terus berkomitmen menyalurkan p

Kuartal III, Pendapatan Industri Asuransi Jiwa Melambat 15%

Industri asuransi jiwa pada kuartal ketiga 2018 mencata

Portofolio

2019, Pasar modal syariah akan lebih baik dari 2018

Perbaikan itu bukan disebabkan oleh pasar modal syariah

ASCORT ASIA: SBI Jangka Pendek Cocok untuk Pembiayaan Proyek Infrastruktur

SBI JP merupakan alternatif pilihan investasi menarik b

Penyelesaian Transaksi Bursa Dua Hari (T+2) Berjalan Lancar

Percepatan transaksi bursa T+2, memiliki tujuan untuk m

Dorong Milenial Investasi, SGE Gelar Festival

Berdasarkan data terbaru dari Bursa Efek Indonesia, gen

Interview

Glen Alexander Winata: Utamakan Proteksi Nasabah, Komisi Pasti Mengikuti

Pada awalnya, kebanyakan agen asuransi pemikirannya sel

Pengamat Syariah: Dorongan Pemerintah Adalah Kunci

"Pemerintah itu harus ada inisiatif, misalnya proyek Rp

Tren Kendaraan Komersial Menurun

Harga komoditas global yangterus berada di level terend

Satelit adalah Kekuatan BRI

Jalan sejarah sedang ditapaki oleh Bank Rakyat Indonesi

Riset

INDEF: Reformasi Agraria butuh Regulasi

payung hukumnya untuk membagikan kan harus ada. Payung

Tidak Merata, Pulau Jawa Dominasi Pertumbuhan Negara

Apabila sumber pertumbuhan dapat lebih tersebar maka ke

Inklusi Keuangan Meningkat Jadi 67,82 Persen

Indeks inklusi keuangan Indonesia meningkat pada angka

Tax Amnesty Berpotensi Masuki Jilid II

Tax amnesty itu diperpanjang katakanlah setahun lagi bi