Governance, Risk Management & Compliance

Catatan CEO Tunanetra Sukses

Minggu 7 Agustus 2016 9:19:0

“Libatkan orang-orang di dalam hidupmu dan buang kesepian mereka. Dan yang terakhir, lakukan sesuatu yang baik maka kebaikan akan kembali kepada Anda.”

Sukses bukan monopoli seseorang atau segolongan orang atau orang yang terlahir normal. Hal itu terjadi Srikanth Bolla, seorang pengusaha dari India. Pada usianya masih relatif muda, tahun ini dia menginjak usia 23 tahun, Srikanth Bolla sudah berada di posisi puncak kariernya dengan menjadi seorang CEO sebuah perusahaan yang bernilai lebih dari 7,5 juta dollar AS. Akan tetapi yang lebih mengejutkan lagi, ia melakukan semua itu dengan seluruh keterbatasan fisiknya: tunanetra sejak lahir.
Bollant Industries, perusahaan yang dibangun pemuda kelahiran Andhra Pradesh, India ini sekarang bernilai miliaran rupiah. Srikanth membangun Bollant Industries bersama Swarnalatha, gurunya di sekolah, mentor sekaligus teman yang telah membantunya untuk berkembang.
Bolla memulai percetakan braille untuk anak-anak dengan cacat ganda di Hyderabad, India, yang menyediakan materi pendidikan yang bisa diakses oleh siswa cacat. Pada tahun 2012, Bolla memulai karirnya dengan mendirikan Bollant Industries , yang menyediakan lapangan kerja bagi beberapa ratus orang penyandang cacat, dengan pendanaan dari Ratan Tata.
Perusahaannya sudah maju pesat dan fokus Srikanth sekarang ini adalah membuka pabrik kelima yang beroperasi dengan panel surya dan kini dia sedang mencari sumber pendanaan untuk mewujudkan hal tersebut.
Meski demikian, Srikanth menganggap dirinya sebagai pria paling beruntung di dunia, bukan karena kesuksesannya, tapi karena memiliki orangtua yang selalu mendukung dirinya. Cerita itu berawal dari kisah sedih kehidupan Srikanth kecil. Ketika ia lahir dengan keterbatasan dalam melihat, sejumlah teman orangtua dan saudara sempat berniat menelantarkannya. Waktu itu, saran tersebut terdengar masuk akal karena kedua orangtua Srikanth sangat miskin dan hanya berpenghasilan 300 dolar AS atau Rp 4 juta setahun.
Namun, mereka memilih untuk memelihara, membesarkan dan mencintai Srikanth, meski terlahir tidak dalam kondisi yang sempurna. “Mereka adalah orang paling kaya yang pernah saya kenal,” ujar Srikanth mengenang kedua orangtuanya.
Jerih payah orangtua Bolla tidak sia-sia, ia kini menjabat sebagai CEO Bollant Industries. Perusahaan berlokasi di Hyderabad, yang mempekerjakan staf dengan keterbatasan fisik untuk membuat pengemasan yang bersifat ramah lingkungan dari daun dan kertas daur ulang. Perusahaan ini memproduksi produk-produk ramah lingkungan seperti piring dari daun pinang, cangkir, nampan, alat makan, dan sendok, cangkir, dan piring sekali pakai. Perusahaan ini juga memproduksi bahan perekat dan tinta untuk keperluan percetakan.

Perusahaan itu kini memiliki empat pabrik di tiga negara bagian India -- Andhra Pradesh, Telangana dan Kartnataka. Kerja keras Srikanth dan kesuksesannya dalam dunia usaha juga berhasil menarik perhatian konglomerat India seperti Ratan Tata untuk membiayainya.

Masuk MIT

Namun, perjalanan hidup Srikanth tidak mudah. Sejumlah rintangan pun dihadapinya, seperti penolakan berteman dari anak-anak lain di sekolah desanya. Akhirnya, Srikanth kecil dipindahkan ke sekolah luar biasa di mana perkembangan terhadap akademik serta ketertarikan dalam permainan catur dan cricket kian terasah.
Meski mengalami masalah di bangku SMA, ia menemukan seorang guru berhati mulia yang mau mengalihkan semua pelajarannya ke dalam bentuk audio, memberikannya panduan agar mendapatkan nilai tertinggi saat ujian akhir.
Penolakan juga dialami Srikanth saat bercita-cita untuk melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah, ia ditolak oleh Indian Institute of Technology (IIT), institusi teknologi pertama di India. Meski dirinya memenuhi standar nilai yang diperlukan untuk masuk. Pihak universitas menolak memberikannya ‘tiket masuk’, hanya karena ia tak bisa melihat.
Srikanth pun tak putus asa, ia membuktikan diri dan berhasil masuk ke Massachusetts Institute of Technology (MIT) AS dengan beasiswa penuh dan memperoleh nilai-nilai akademis yang luar biasa. Ia pun lulus pada 2012.
Setelah lulus dengan gelar di bidang Ilmu Komputer dan Manajemen Bisnis, Srikanth memutuskan untuk kembali ke India dan mendedikasikan hidupnya untuk membantu masyarakat penyandang cacat seperti dirinya di negara itu.”Kasih sayang bukan berarti memberi koin kepada pengemis di lampu merah,” katanya.
“Tapi kasih sayang adalah memperlihatkan seseorang cara untuk hidup dan memberikan mereka peluang berkembang dan membuat mereka kaya. Libatkan orang-orang di dalam hidupmu dan buang kesepian mereka. Dan yang terakhir, lakukan sesuatu yang baik maka kebaikan akan kembali kepada Anda.”


Non Bank

OJK Minta Lembaga Keuangan Beri Keringanan Cicilan

Bank/Leasing wajib melakukan asesmen dalam rangka membe

Menkeu Lantik Febrio Nathan Kacaribu Sebagai Kepala BKF

Pelantikan Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama ini merupa

LPS Dapat Kewenangan Baru Jalankan Perppu

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mendukung penerbitan Pe

Portofolio

Segera Diluncurkan, Kupon SBR-009 Sebesar 6.3 Persen

Instrumen Savings Bond Ritel seri SBR009 sebagai instru

Jelang Tutup Tahun, Kinerja Pasar Modal Positif

IHSG masih mencatatkan pertumbuhan positif meskipun dal

Tamasia Targetkan Jual 150 Kg Emas

CEO dan Co Founder Tamasia Muhammad Assad mengungkapkan

Unilever Raup Laba Rp21,5Triliun

Penjualan di pasar domestik mendominasi pendapatan bers

Interview

Glen Alexander Winata: Utamakan Proteksi Nasabah, Komisi Pasti Mengikuti

Pada awalnya, kebanyakan agen asuransi pemikirannya sel

Pengamat Syariah: Dorongan Pemerintah Adalah Kunci

"Pemerintah itu harus ada inisiatif, misalnya proyek Rp

Tren Kendaraan Komersial Menurun

Harga komoditas global yangterus berada di level terend

Satelit adalah Kekuatan BRI

Jalan sejarah sedang ditapaki oleh Bank Rakyat Indonesi

Riset

INDEF: Reformasi Agraria butuh Regulasi

payung hukumnya untuk membagikan kan harus ada. Payung

Tidak Merata, Pulau Jawa Dominasi Pertumbuhan Negara

Apabila sumber pertumbuhan dapat lebih tersebar maka ke

Inklusi Keuangan Meningkat Jadi 67,82 Persen

Indeks inklusi keuangan Indonesia meningkat pada angka

Tax Amnesty Berpotensi Masuki Jilid II

Tax amnesty itu diperpanjang katakanlah setahun lagi bi