Governance, Risk Management & Compliance

Cederai Kerjasama, Perusahaan Selandia Baru Somasi Bangun Cipta Kontraktor

Kamis 15 Agustus 2019 10:46:0

HIL merasa dirugikan lantaran pihak BCK dianggap tidak melaksanakan bagian dari pekerjaannya secara professional.

JAKARTA, Stabilitas - Perusahaan konstruksi terbesar di Selandia Baru, H Infrastructure Limited (HIL) secara resmi melayangkan surat teguran (somasi) kepada PT Bangun Cipta Kontraktor (BCK) pada tanggal 24 Mei 2019 dan 13 Agustus 2019 lalu. Somasi tersebut dilayangkan terkait dengan Perjanjian Kerjasama Operasional (Joint Operation Agreement/JOA) yang telah disepakati oleh HIL dan BCK pada 29 Januari 2015 lalu sehubungan dengan pelaksanaan pekerjaan Engineering, procurement and Constructions (EPC) dalam proyek sistem pengumpulan uap dan pembangkit listrik bertenaga 1x30MW di Karaha, Jawa Barat.

‘Duet’ kerjasama operasional HIL-BCK merupakan salah satu pihak yang telah ditunjuk oleh PT Pertamina Geothermal Energy untuk turut ambil bagian dalam Proyek Karaha tersebut.

Dalam perjalanan kerjasama JOA yang telah disepakati, HIL merasa dirugikan lantaran pihak BCK dianggap tidak melaksanakan bagian dari pekerjaannya secara professional. Termasuk diantaranya tidak menyetorkan modal partisipasi sebesar 2.598.683,13 dollar Amerika Serikat sebagaimana diatur dalam kesepakatan JOA.

"Selain itu, pihak BCK juga tidak berpartisipasi secara penuh dalam pelunasan pembayaran tagihan-tagihan dari pihak ketiga kepada joint operation sebagaimana telah disepakati di awal kerjasama. Nah, dengan somasi ini, pihak HIL ingin mendapatkan hak-haknya yang harus dipenuhi oleh pihak BCK," ujar Anthony Hutapea, perwakilan dari kantor hukum Anthony L.P. Hutapea & Partners, Jakarta, yang telah ditunjuk oleh HIL sebagai kuasa hukumnya dalam kasus ini.

Menurut Anthony, total kerugian yang telah diderita HIL dari tidak terpenuhinya kewajiban BCK dalam kerjasama JOA diperkirakan mencapai 7.519.028,13 dollar AS. Dalam somasi yang telah dilayangkan, pihak HIL mewajibkan BCK untuk segera melakukan pembayaran atas kerugian tersebut dalam waktu tujuh hari sejak tanggal somasi kedua diserahkan.

"Selain mendesak agar pembayaran segera dilakukan, upaya hukum juga terus kami lakukan. Salah satu yang kami pertimbangkan adalah pengajuan status pailit terhadap BCK bila tidak juga merespon somasi yang kami layangkan," tutur Anthony.

Dalam skala yang lebih besar, Anthony juga menyayangkan bahwa tidak terlaksananya perjanjian kerja sama sebagaimana mestinya antara perusahaan dalam negeri dengan rekanan dari luar negeri bakal berpotensi mencederai iklim investasi di Indonesia. Hal ini justru kontraproduktif terhadap upaya pemerintah untuk mengundang investor asing agar berminat menanamkan investasinya dalam berbagai sektor bisnis di Indonesia.

"Atas pertimbangan itu, secara tidak langsung kami juga mengimbau agar para pihak terkait, publik, Bursa Efek Indonesia, Instansi Pemerintah dan pejabat berwenang lainnya, agar dapat memahami dampak dari kasus ini demi kepentingan substansial iklim investasi kita," tegas Anthony.

Rayakan Ultah, SMGR Tegaskan Bidik Pasar Regional

Thu, 09 Jan 2020 - Di tengah persaingan industri yang semakin ketat, SMGR dapat terus mempertahankan kinerja positifnya sembari menyesuaikan diri pasca bergabungnya SMCB dalam keluarga besar Semen Indonesia Group.

OJK Dorong Pasar Modal Transparan & Kredibel

Fri, 03 Jan 2020 - Di pasar modal, IHSG pada 2019 masih mencatatkan pertumbuhan yang positif, yaitu 1,70%, ditutup di level 6.299,5.

KSEI Catat 2,48 Juta Investor Selama 2019

Mon, 30 Dec 2019 - Bursa Efek Indonesia juga berhasil meningkatkan jumlah investor syariah selama tahun 2019.

Morenzo Abadi Perkasa Siap Melantai di Bursa

Thu, 26 Dec 2019 - Hasil dana IPO akan digunakan untuk pembayaran utang pokok perseroan dan utang pokok anak perusahaan

Garap Tol Harbour Road II, CMNP Siapkan Dana Hingga Rp13,55 Triliun

Fri, 20 Dec 2019 - Untuk proses penggarapan di lapangan, CMNP kini tengah mempertimbangkan untuk juga bekerjasama dengan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA)

Kembangkan Bisnis, ATIC Akuisisi Tiga Perusahaan Fintech

Thu, 28 Nov 2019 - Setidaknya tiga perusahaan fintech telah diakuisisi ATIC dengan nilai investasi mencapai Rp50 miliar.



Non Bank

Jelang 2020 Taspen Ganti Logo Baru

Logo baru ini merupakan wujud komprehensif dalam mempe

Esta Kapital Kantongi Izin Usaha P2P Lending OJK

Esta Kapital menawarkan imbal hasil hingga 16 persen pe

Cowdo Peroleh Ijin Usaha dari OJK

Crowdo, platform peer to peer lending Asia Tenggara men

Dukung Safety Riding, Sequis Life Perkenalkan Asuransi Super Safe Protection

Banyak hal tak terduga yang dapat terjadi saat kita ber

Portofolio

Jelang Tutup Tahun, Kinerja Pasar Modal Positif

IHSG masih mencatatkan pertumbuhan positif meskipun dal

Tamasia Targetkan Jual 150 Kg Emas

CEO dan Co Founder Tamasia Muhammad Assad mengungkapkan

Unilever Raup Laba Rp21,5Triliun

Penjualan di pasar domestik mendominasi pendapatan bers

Interview

Glen Alexander Winata: Utamakan Proteksi Nasabah, Komisi Pasti Mengikuti

Pada awalnya, kebanyakan agen asuransi pemikirannya sel

Pengamat Syariah: Dorongan Pemerintah Adalah Kunci

"Pemerintah itu harus ada inisiatif, misalnya proyek Rp

Tren Kendaraan Komersial Menurun

Harga komoditas global yangterus berada di level terend

Satelit adalah Kekuatan BRI

Jalan sejarah sedang ditapaki oleh Bank Rakyat Indonesi

Riset

INDEF: Reformasi Agraria butuh Regulasi

payung hukumnya untuk membagikan kan harus ada. Payung

Tidak Merata, Pulau Jawa Dominasi Pertumbuhan Negara

Apabila sumber pertumbuhan dapat lebih tersebar maka ke

Inklusi Keuangan Meningkat Jadi 67,82 Persen

Indeks inklusi keuangan Indonesia meningkat pada angka

Tax Amnesty Berpotensi Masuki Jilid II

Tax amnesty itu diperpanjang katakanlah setahun lagi bi