Governance, Risk Management & Compliance

Gagal Moral

Kamis 24 Nopember 2016 16:48:0

Pperiode pertama yang dengan nilai lokasi strategisnya. Kemudian di ujung acara, host di bulan

PROGRAM sudah lewat sekilas mirip acara di televisi yang menawarkan properti miliaran, dengan menyebut harganya sangat murah jika dibandingkan Tax Amnesty periode pertama yang dengan nilai lokasi strategisnya. Kemudian di ujung acara, host biasanya berkata, “Senin, harga naik.” Atau mirip pusat perbelanjaan yang menawarkan ‘diskon gila-gilaan di bulan promosi’, yang menggarisbawahi penawarannya hanya untuk bulan ini.

Karena tawaran diskon gila-gilaan di tambah ‘ancaman’ “Senin harga naik”, masyarakat pun berbondong-bondong membeli barang-barang yang ditawarkan dengan dua alasan itu, karena diskon dan karena nantinya harga naik.

Fenomena munculnya puluhan konglomerat yang berturut-turut mendatangi Kantor Pajak untuk melaporkan asetnya dan membayar tunggakan pajaknya, tidak bisa dilepaskan dari alasan diskon gila-gilaan dan “Senin harga naik”.

Sebut saja, pengusaha kakap James Riyadi, bos Lippo Grup bersama saudara iparnya Dato Sri Tahir pendiri Grup Mayapada. Atau Aburizal Bakrie, bos kelompok usaha Bakrie, Arifn Panigoro, Bos Medco, dan Anthony Salim, dari BCA. Bersama sederet nama konglomerat beken lainnya, mereka mendatangi Kantor Pajak untuk mengikuti program pemerintah yaitu ungkap, tebus, lega.

Mereka –jika tidak mau dibilang semua, sangat percaya diri, menebar senyum di bawah kilatan lampu media, saat melaporkan kekayaan mereka yang selama ini tidak dilaporkan. Akan tetapi, kalau kita mau berpikir jernih, mereka ini sesungguhnya adalah para pengemplang pajak kakap yang selama ini menyembunyikan hartanya untuk menghindari setoran wajib kepada negara. Lha kok malah mendapat sambutan sedemikian rupa.

Pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak, di sisi lain, pun juga tak kalah girang menyambut konglomerat tersebut sambil membayangkan jumlah rupiah yang mengikuti di belakang pengusaha-pengusaha tersebut. Para pengemplang pajak disambut seolah-seolah berjasa kepada negara.

Kita, orang Indonesia, memang acapkali gagal membedakan pihak yang memang merugikan negara dan berjasa kepada negara. Hal-hal semacam itu, oleh sebagian teman saya disebut sebagai gagal moral. Peristiwa lain, mungkin bisa menjadi perbandingan yang jelas mengenai gagal moral itu. Buronan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia yang juga mantan Presiden Komisaris PT Bank Modern, Tbk, Samadikun Hartono tertangkap oleh aparat negara kita di luar negeri.

Ketika dipulangkan ke Indonesia dan mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma pada Kamis 21 April 2016 malam, tidak kurang dari Kepala Intel Negara dan juga Jaksa Agus turut menyambut buronan itu. Bahkan dia sempat melambai-lambaikan tangan kepada awak media yang menunggunya, dan bersalaman hangat dengan dua petinggi negara.

Tampaknya kita memang harus mulai dari nol lagi menilai diri kita sebagai bagian dari masyarakat yang beradab dan bermoral, yang mampu mendudukkan persoalan pada tempatnya. Karena sifat masyarakat yang paternalistik, maka perubahan itu harus dimulai dari para pengelola negara. Para pejabat harus bisa membedakan mana orang yang memang merugikan negara dan mana berjasa kepada negara. Sehingga perlakuannya pun bisa sesuai. Saat ini pemerintah mungkin sedang terancam gagal fskal, tapi jangan sampai terbenam oleh gagal moral.  

***



Non Bank

Pelanggaran Fintech, Pertemuan OJK dan LBH Belum Ada Titik Temu

Belum ada titik temu disebebkan belum ada kesepahaman m

Industri Halal Indonesia Masih Tertinggal

Dalam mengembangkan Industri halal, tentunya tidak terl

Amartha Konsisten Gandeng UMKM Perempuan

PT Amartha Mikro Fintek terus berkomitmen menyalurkan p

Kuartal III, Pendapatan Industri Asuransi Jiwa Melambat 15%

Industri asuransi jiwa pada kuartal ketiga 2018 mencata

Portofolio

2019, Pasar modal syariah akan lebih baik dari 2018

Perbaikan itu bukan disebabkan oleh pasar modal syariah

ASCORT ASIA: SBI Jangka Pendek Cocok untuk Pembiayaan Proyek Infrastruktur

SBI JP merupakan alternatif pilihan investasi menarik b

Penyelesaian Transaksi Bursa Dua Hari (T+2) Berjalan Lancar

Percepatan transaksi bursa T+2, memiliki tujuan untuk m

Dorong Milenial Investasi, SGE Gelar Festival

Berdasarkan data terbaru dari Bursa Efek Indonesia, gen

Interview

Glen Alexander Winata: Utamakan Proteksi Nasabah, Komisi Pasti Mengikuti

Pada awalnya, kebanyakan agen asuransi pemikirannya sel

Pengamat Syariah: Dorongan Pemerintah Adalah Kunci

"Pemerintah itu harus ada inisiatif, misalnya proyek Rp

Tren Kendaraan Komersial Menurun

Harga komoditas global yangterus berada di level terend

Satelit adalah Kekuatan BRI

Jalan sejarah sedang ditapaki oleh Bank Rakyat Indonesi

Riset

INDEF: Reformasi Agraria butuh Regulasi

payung hukumnya untuk membagikan kan harus ada. Payung

Tidak Merata, Pulau Jawa Dominasi Pertumbuhan Negara

Apabila sumber pertumbuhan dapat lebih tersebar maka ke

Inklusi Keuangan Meningkat Jadi 67,82 Persen

Indeks inklusi keuangan Indonesia meningkat pada angka

Tax Amnesty Berpotensi Masuki Jilid II

Tax amnesty itu diperpanjang katakanlah setahun lagi bi