Governance, Risk Management & Compliance

Industri Keuangan Menghadapi 2014

Selasa 7 Januari 2014 3:21:59

Perubahan-perubahan ekonomi yang cukup besar telah terjadi di sepanjang tahun ini. Bahkan menjelang matahari terakhir 2013 terbenam masih ada perubahan yang terjadi dalam industri jasa keuangan, yaitu berpindahnya pengawas perbankan dari Bank Indo

Perubahan-perubahan ekonomi yang cukup besar telah terjadi di sepanjang tahun ini. Bahkan menjelang matahari terakhir 2013 terbenam masih ada perubahan yang terjadi dalam industri jasa keuangan, yaitu berpindahnya pengawas perbankan dari Bank Indonesia ke Otoritas Jasa Keuangan. Seperti halnya dengan entitas lainnya, lembaga jasa keuangan tidak kebal terhadap berbagai risiko yang menghadang. Risiko itu banyak juga dipengaruhi oleh berbagai perubahan eksternal, baik perekonomian nasional maupun global. Di tingkat nasional menurunnya pertumbuhan ekonomi dan juga naiknya suku bunga menjadi isu penting yang akan mengiringi peningkatan intensitas risiko tahun depan. Sementara di tingkat global, dampak dari rencana Bank Sentral Amerika dalam mengurangi stimulusnya, karena terdapatnya tanda-tanda perbaikan ekonomi mereka, diikuti dengan rencana kenaikan suku bunga, dianggap ikut andil menyumbang ketidakpastian perekonomian nasional. Dengan kondisi lingkungan makro dan perubahan-perubahannya, berbagai risiko perlu diwaspadai oleh masing-masing lembaga jasa keuangan dan regulator secara cermat. Lembaga jasa keuangan dikenal dengan ciri-cirinya yang padat modal, bisnis yang berbasis kepercayaan, mengandalkan reputasi dan citra, serta nama baik. Karena bisnis ini sarat dengan risiko (highly risk), oleh karena itu sarat dengan regulasi (highly regulated). Industri jasa keuangan paling tidak memiliki delapan jenis risiko yang menonjol, yaitu: risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko hukum, risiko operasional, risiko kepatuhan, risiko stratejik dan risiko reputasi. Profil risiko mereka sangat dipengaruhi oleh kondisi internal dan eksternal. Saat terjadi kenaikan BI Rate hingga menjadi 7,5 persen, risiko kredit kini lebih terekspos. Kenaikan suku bunga dikhawatirkan memicu bertambahnya jumlah debitur/nasabah yang mengalami gagal bayar. Wajar saja, karena penambahan beban bunga akan meningkatkan beban biaya dan utang para debitur/nasabah ini. Sebaliknya, risiko pasar bisa muncul saat terjadi kerugian akibat pergerakan variabel pasar (berupa suku bunga, nilai tukar, harga komoditi, dan harga saham) yang berlawanan dari posisi portofolio yang dimiliki perusahaan jasa keuangan. Risiko pasar meningkat sejalan dengan lebarnya kesenjangan antara posisi aset dan utang perusahaan (disebut dengan net open position). Pada saat berlangsungnya kebijakan uang ketat seperti sekarang ini, risiko likuiditas pun bisa naik, karena adanya kerugian akibat perusahaan tidak mampu memenuhi kewajiban yang jatuh tempo. Biaya untuk mengatasi risiko likuiditas ini menjadi semakin mahal, manakala suku bunga di pasar uang juga meningkat. Selanjutnya, risiko hukum dikenal dengan kerugian akibat kelemahan aspek yuridis yang melekat di perusahaan, misalnya cacat hukum pada dokumen perjanjian, kesalahan penafsiran dan kesalahan penerapan perjanjia, peraturan, dan ketentuan yang berlaku. Di saat krisis keuangan, kerap terjadi risiko hukum, contohnya adalah saat perusahaan pembiayaan tidak mampu memenuhi komitmennya dalam menyediakan pendanaan untuk pembelian barang modal yang telah diperjanjikan, timbullah suatu tuntutan hukum kepada kreditur. Sementara itu, risiko operasional perusahaan jasa keuangan merupakan risiko yang paling banyak cakupannya, menyebar ke segala aspek operasional perusahaan. Dalam upayanya bertahan di masa krisis keuangan, jangan sampai kemudian perusahaan melakukan berbagai program penghematan, namun menabrak asas tata kelola yang baik, sehingga peluang terjadinya risiko operasional meningkat. Hal ini dimungkinkan ketika perusahaan hanya memikirkan upaya penghematan, namun mengabaikan fungsi dan pemisahan tugas, serta tanggung jawab jabatan-jabatan kunci, terjadinya benturan kepentingan (conflict of interest), dan duplikasi tugas. Alih-alih program efisiensi yang dilakukan perusahaan memberikan nilai tambah, malah menimbulkan kerugian operasional. Di saat kondisi perekonomian tidak kondusif, perusahaan jasa keuangan kadangkala gagal mematuhi ketentuan dan peraturan dari otoritasnya. Bila demikian, risiko kepatuhan pun meningkat yang ditandai dengan kerugian perusahaan berupa sanksi, teguran, hingga pencabutan ijin operasi perusahaan oleh otoritas yang berwenang. Risiko kepatuhan ini perlu mendapat perhatian dari industri perbankan, khususnya saat berpindahnya otoritas pengawasan BI ke OJK, yang mungkin terdapat perubahan dan adendum berbagai peraturan yang berlaku. Risiko stratejik adalah kerugian perusahaan akibat dari ketidaktepatan manajemen dalam perencanaan dan pengambilan keputusan strategis, serta kegagalan dalam implementasinya. Kegagalan pengambilan keputusan manajemen bisa berupa salah dalam mengantisipasi perubahan lingkungan usaha dan salah merespons gejolak perekonomian nasional dan global yang mempengaruhi usahanya. Terlebih bila lingkungan usahanya sangat kompetitif, siklus bisnisnya pendek, selera dan harapan konsumen berubah-ubah. Sebaiknya, sebelum perubahan eksternal dan gejolak kondisi perekonomian terjadi, perusahaan telah melakukan simulasi dampak gejolak terhadap pencapaian target perusahaan. Bahkan bila perlu, melakukan stress test menggunakan variabel ekonomi dengan skenario terburuk. Namun bila perencanaan perusahaan telah dilakukan dengan tepat, komprehensif dan terpadu, pemantauan tinggal pada tataran implementasinya, apakah perusahaan masih menghadapi kendala. Kunci sukses implementasi terutama adalah: pemahaman visi dan misi, serta strategi perusahaan yang jelas dan lengkap ke seluruh jajaran (shared vision), alokasi sumberdaya yang memadai, insentif yang adil dan transparan bagi yang sukses mencapai target, monitoring, kontrol dan koordinasi jajaran kunci, serta manajemen perubahan yang efektif. Sebagai puncaknya adalah risiko reputasi, yaitu kerugian perusahaan akibat dari menurunnya tingkat kepercayaan para pemangku kepentingan, yang bersumber dari persepsi negatif terhadap perusahaan. Persepsi negatif bisa timbul karena berkembangnya opini dan publikasi negatif yang terkait dengan kegiatan, program kerja, atau kejadian musibah yang menimpa perusahaan. Kesulitan pengendalian risiko reputasi terletak pada upaya mengubah persepsi yang berkembang di masyarakat luas, ketika suatu peristiwa mencoreng citra perusahaan dan terkuak di ranah publik. Namun risiko reputasi bisa muncul gara-gara kegagalan mengendalikan risiko-risiko yang lain (misalnya risiko kredit, risiko likuiditas, risiko hukum, dan risiko kepatuhan). Pada saat perekonomian bergejolak dan penuh ketidakpastian, perusahaan jasa keuangan disarankan melakukan komunikasi dan publikasi aktif kepada para pemangku kepentingan: baik pemegang saham, pelanggan, nasabah, debitur dan mitra kerjanya, untuk menjelaskan mengenai antisipasi dan posisi perusahaan dalam menghadapi krisis. Tantangan berat yang menghadang industri jasa keuangan adalah menghadapi risiko politik di tahun 2014. Hal ini perlu diwaspadai agar para pengelola jasa keuangan tetap profesional di tengah-tengah arus dan gelombang aktivitas politik para pelaku pesta demokrasi dalam pemilu legislatif dan Presiden serta Wakil Presiden. Pelaku jasa keuangan perlui memahami situasi di tahun politik ini, pasalnya para pembuat kebijakan strategis negeri ini mungkin banyak terpecah perhatiannya dengan kesibukan pemilu, sehingga kurang fokus pada kinerja perekonomian nasional. Harapannya adalah jangan sampai risiko politik menjadi tinggi dan tidak terkendali, sehingga menguras energi kita dan tidak tersisa lagi untuk mengendalikan risiko-risiko lainnya. Kemampuan perusahaan untuk menerapkan manajemen risiko dengan tepat sangat dibutuhkan dalam menghadapi tantangan tahun depan. Jika ini bisa dipastikan, maka jenis risiko apa pun yang dihadapi, perusahaan sedang menuju pencapaian nilai tambah pemegang saham yang paling optimal. Semoga.



Non Bank

Bhinneka Life Kenalkan Asuransi pada Petani Tasikmalaya

“Dalam tiga tahun ke depan, kita akan memberikan eduk

Dorong Profesionalisme, AAJI Berharap 50% Agen Asuransi Jiwa Masuk MDRT

Kendati anggota MDRT Indonesia masih sekira 1 persen da

"The Gade Clean and Gold" Menukar Sampah menjadi Tabungan Emas

Masyarakat bisa menjual sampah dan hasil penjualannya b

PEFINDO Biro Kredit dan Trimegah Sekuritas Resmikan Perjanjian Keanggotaan

“Kami menyambut baik bergabungnya Trimegah Sekuritas

Portofolio

Ini 57 Entitas Yang Aktivitasnya Dilarang Satgas Waspada Investasi OJK

Imbauan ini dikeluarkan mengingat entitas tersebut tida

Gandeng China Galaxy Securities, CIMB Awali Bisnis Pialang Saham di Asia

Usaha patungan berpeluang tumbuh untuk mendukung aktivi

Menkeu Berharap Pemda Manfaatkan Investasi untuk Bangun Daerah

Menkeu mencontohkan daerah Halmahera Utara dan Tabanan

Masyarakat Indonesia Mulai Minati Cryptocurrency

puluhan ribu masyarakat Indonesia diklaim telah mulai t

Interview

Glen Alexander Winata: Utamakan Proteksi Nasabah, Komisi Pasti Mengikuti

Pada awalnya, kebanyakan agen asuransi pemikirannya sel

Pengamat Syariah: Dorongan Pemerintah Adalah Kunci

"Pemerintah itu harus ada inisiatif, misalnya proyek Rp

Tren Kendaraan Komersial Menurun

Harga komoditas global yangterus berada di level terend

Satelit adalah Kekuatan BRI

Jalan sejarah sedang ditapaki oleh Bank Rakyat Indonesi

Riset

INDEF: Reformasi Agraria butuh Regulasi

payung hukumnya untuk membagikan kan harus ada. Payung

Tidak Merata, Pulau Jawa Dominasi Pertumbuhan Negara

Apabila sumber pertumbuhan dapat lebih tersebar maka ke

Inklusi Keuangan Meningkat Jadi 67,82 Persen

Indeks inklusi keuangan Indonesia meningkat pada angka

Tax Amnesty Berpotensi Masuki Jilid II

Tax amnesty itu diperpanjang katakanlah setahun lagi bi