Governance, Risk Management & Compliance

Kemendag Dorong Penyediaan Fasilitas Pembiayaan Ekspor Produk Organik

Minggu 31 Mei 2020 0:22:0

UMKM diharapkan memasok produk yang tidak tersedia karena pembatasan dari negara lain

JAKARTA, STabilitas -- Kementerian Perdagangan melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN) mendorong peningkatan penyediaan fasilitas pembiyaan ekspor untuk produk organik Indonesia. Untuk itu, Ditjen PEN bekerja sama dengan Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian menggelar seminar virtual dengan tema "Aktivasi Kerja Sama Pengembangan Ekspor Melalui Seminar Pembiayaan Ekspor" di Jakarta.

Seminar ini merupakan implementasi nota kesepahaman (MoU) tentang pengembangan ekspor produk organik komoditas perkebunan antara Ditjen PEN dengan Ditjen Perkebunan. Seminar diikuti perwakilan dari sepuluh kelompok tani penerima manfaat Mou, perwakilan Ditjen Perkebunan, serta pendamping Kelompok Tani dari Dinas Pertanian tempat penerima manfaat MoU.

Narasumber seminar tersebut adalah Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor, Asisten Deputi Permodalan Kementerian koperasi dan UMKM, serta Kepala Divisi Trade Finance-Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI).

Plt. Direktur Jenderal PEN Kasan menegaskan pelaku usaha organik, UMKM, maupun koperasi perlu mendapatkan informasi yang komprehensif dan lengkap mengenai pembiayaan dan prosedur untuk memperoleh pembiayaan ekspor. Hal ini tentu untuk mendorong pengembangan usahanya dalam memasarkan produk, baik di pasar domestik, maupun ekspor.

"UMKM merupakan salah satu tantangan bagi Indonesia untuk bertahan dari kondisi darurat akibat COVID-19. Keberadaan UMKM diharapkan dapat memasok kebutuhan produk yang tidak tersedia karena pembatasan dari negara lain," ujar Kasan.

Lebih lanjut, Kasan mengatakan bahwa pelaku usaha produk organik tersebut diharapkan dapat menyikapi setiap perubahan dengan cepat guna menentukan strategi penjualan dan mempertahankan usahanya. Salah satu kendala ekspor yang dihadapi pelaku usaha organik adalah sulitnya mendapatkan akses pembiayaan yang diperlukan guna pemenuhan bahan baku dan promosi serta sulitnya pemasaran.

"Selain mencari solusi terhadap kendala pembiayaan, pelaku usaha organik perlu melakukan inovasi atau diversifikasi produk, sehingga dapat menyesuaikan dengan pola perilaku konsumen saat ini, termasuk beradaptasi terhadap pendistribusian pemasaran secara daring melalui ecommerce. Untuk itu, pemerintah dan lembaga keuangan terkait telah memiliki berbagai metode pembiayaan yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha. Bahkan, dengan adanya COVID-19, pemerintah memberikan relaksasi kebijakan yang dapat mempermudah pelaku usaha," ungkap Kasan.

Di sisi lain, secara teknis dijelaskan Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor Ditjen PEN Marolop Nainggolan, pelaku usaha diharapkan dapat mematuhi persyaratan yang telah ditentukan. Salah satunya, kelompok tani harus berbadan usaha untuk memudahkan koordinasi dengan pihak-pihak terkait lainnya, dan sebagai salah satu persyaratan menjadi eksportir.

Dikatakan Marolop, Kementerian Perdagangan selalu berupaya memberikan dukungan kepada para pelaku usaha, terutama untuk yang dapat memberikan kontribusi terhadap kinerja ekspor Indonesia. "Selain fasilitas pembiayaan ekspor, dukungan yang diberikan antara lain berupa pelatihan ekspor, pemberian informasi peluang pasar ekspor, dan pengembangan desain produk. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kinerja ekspor dan membangun citra merek Indonesia ke pasar nontradisional," katanya.

Produk organik Indonesia memiliki potensi cukup besar untuk bersaing di pasar internasional. Hal ini ditandai dengan meningkatnya jumlah petani yang mengelola pertanian organik dari tahun ke tahun serta meningkatnya jumlah gerai produk organik di supermarket dan rumah makan. Selain itu, di Indonesia sendiri juga bermunculan organisasi pecinta organik dan berbagai Lembaga Sertifikasi Organik (LSO).

Hal lain yang dapat dicatat adalah pandemi COVID-19 juga mengakibatkan kebutuhan konsumen akan produk sehat mengalami peningkatan. COVID-19 berpotensi memacu permintaan bahan makanan organik, vegetarian dan makanan sehat lainnya. Contohnya salah satu perusahaan makanan organik di Inggris, Nourish Organic bahkan mengalami peningkatan penjualan makanan organik dan sayuran organik sekitar 30 persen sejak masa pandemi ini atau terhitung Maret 2020.

Menurut data Organic Trade Association (OTA), penjualan produk organik pada 2018 mencapai USD 47,9 juta dan hal ini diprediksi akan terus meningkat hingga USD 60 juta pada 2022. Sedangkan pertumbuhan nilai investasi komoditas organik ini di dunia juga diprediksi akan terus meningkat mencapai USD327.600 juta pada 2022 yang sebelumnya tercatat sebesar USD 115.984 pada tahun 2015.

Amerika dan beberapa negara di Eropa, seperti Jerman, Perancis, Italia, dan Belanda serta Swiss merupakan potensi pasar yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku usaha produk organik Indonesia. Amerika dan Eropa merupakan dua pasar potensial bagi produk organik Indonesia karena memilik konsumen yang cukup besar.

"Perubahan gaya hidup dan konsumsi masyarakat dunia kembali ke alam. Untuk itu bahan natural, organik, atau bahan tanpa bahan pengawet, serta bahan yang tidak mengandung pestisida dan bahan kimia lainnya sangat diminati konsumen saat ini. Melihat peluang dan potensi yang ada, Kementerian Perdagangan memandang produk organik merupakan salah satu produk strategis peningkatan ekspor nonmigas Indonesia dan diharapkan dapat menjadi produsen organik terkemuka di pasar global," tutup Kasan.

IA-CEPA Berlaku, Wamendag: Bukan Hanya Perdagangan Barang

Tue, 07 Jul 2020 - Perdagangan barang Indonesia dengan Australia mengalami defisit tetapi perdagangan jasanya mengalami surplus.

Kemenperin Buka Jalan Pelaku IKM Ikut Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah

Tue, 30 Jun 2020 - 15 satker Kemenperin prioritaskan belanja barang kepada IKM

Mendag Paparkan Lima Fase New Normal Bidang Perdagangan

Tue, 02 Jun 2020 - Pembukaan aktivitas perdagangan secara bertahap dengan patuh terharap protokol pencegahan Covid-19

Wamendag Dorong Pengembangan UMKM di Indonesia

Mon, 18 May 2020 - Kemendag menggandeng Google untuk mengembangkan industri digital di Indonesia, salah satunya di sektor UMKM.

Warung Mitra Bukalapak Salurkan 10 Ribu Paket Sembako

Sat, 16 May 2020 - Bukalapak berharap program ini dapat menjadi salah satu kontribusi yang manfaatnya langsung bisa dirasakan pelaku UMKM



Non Bank

Menkeu Tetapkan Aturan Penjaminan untuk UMKM dalam Rangka PEN

Selain penjaminan, melalui PMK ini pemerintah juga memb

Menkeu Tetapkan Aturan Penempatan Uang Negara pada Bank Umum Mitra

Sri Mulyani menetapkan empat bank mitra untuk penempata

AAJI: Pembayaran Klaim Meningkat di Tengah Pandemi Corona

Pembayaran Total Klaim dan Manfaat naik sebesar 4,1%, y

Pengamat Sebut Investasi di Indonesia Masih Menarik

Kondisi fundamental yang baik membuat investor asing ke

Portofolio

Selidiki Kasus Jiwasraya, Internal BPK Dinilai 'Terbelah'

Yang menarik, langkah pelaporan yang ditempuh oleh Agun

Tawarkan SBN, PermataBank: Manfaatkan Potensi Reksadana dan ORI 017

Data riset Bank Permata soal kepemilikan asing pasar ob

Berharap Pada Prospek Saham BUMN

Saham-saham Bank BUMN seperti BRI, Mandiri, BNI dan BTN

Interview

Glen Alexander Winata: Utamakan Proteksi Nasabah, Komisi Pasti Mengikuti

Pada awalnya, kebanyakan agen asuransi pemikirannya sel

Pengamat Syariah: Dorongan Pemerintah Adalah Kunci

"Pemerintah itu harus ada inisiatif, misalnya proyek Rp

Tren Kendaraan Komersial Menurun

Harga komoditas global yangterus berada di level terend

Satelit adalah Kekuatan BRI

Jalan sejarah sedang ditapaki oleh Bank Rakyat Indonesi

Riset

INDEF: Reformasi Agraria butuh Regulasi

payung hukumnya untuk membagikan kan harus ada. Payung

Tidak Merata, Pulau Jawa Dominasi Pertumbuhan Negara

Apabila sumber pertumbuhan dapat lebih tersebar maka ke

Inklusi Keuangan Meningkat Jadi 67,82 Persen

Indeks inklusi keuangan Indonesia meningkat pada angka

Tax Amnesty Berpotensi Masuki Jilid II

Tax amnesty itu diperpanjang katakanlah setahun lagi bi