Governance, Risk Management & Compliance

Kolaborasi Ketimbang Kompetisi

Rabu 7 Maret 2018 18:32:0

Fintech bisa tumbuh dengan cepat memanfaatkan basis jaringan Bank.

Oleh Agustaman

Sejak tahun 2015, layanan keuangan yang berbasis teknologi atau biasa disebut technology financial, memang telah menjadi isu penting dan perlahan menjadi isu sentral di industri keuangan Tanah Air. Bahkan fintech sudah merambah kepada layanan pemberian kredit dengan menghubungkan pemilik dana dengan yang membutuhkan dana, atau biasa disebut peer to peer lending.

Dengan layanan fintech yang mengambil ‘jatah’ sebagai saluran pembayaran saja, bank sudah ketar-ketir, kini malah fintech sudah menjalar kepada fungsi utama bank: intermediasi. Oleh karena itu wajar saja jika bank makin khawatir.

Akan tetapi, dalam pertempuran dengan teknologi kali ini, bank dinilai bisa memilih strategi berbeda. Alih-alih berperang secara terbuka, bank bisa menempuh ‘cara damai’ dengan berkolaborasi atau bersinergi dengan perusahaan-perusahaan startup itu.

Dengan bergandengan tangan, keduanya tidak harus saling berebut nasabah existing yang dimiliki masing-masing (dalam hal ini bank lebih banyak menjadi korban), tetapi malah bisa memperluas cakupan nasabah. Di Indonesia masih banyak masyarakat yang belum tersentuh layanan keuangan yang jumlahnya mencapai tiga perempat dari populasi Indonesia.

Hal itu diungkapkan Senior Executive Vice Presiden of Strategic Information Technology BCA Hermawan Thendean. Menurutnya, fintech dapat melengkapi layanan bank karena dapat memenuhi kebutuhan masyarakat secara cepat, mudah, dan murah. Fitur yang ditawarkan pun menarik.

"Bank mengalami kesulitan untuk masuk ke sana (wilayah terpencil) tidak seperti fintech, karena bank harus mengikuti aturan dan regulasi berlaku. Kemudian ada uji kelayakan dahulu bila ingin ganti fitur, tidak bisa langsung seperti fintech," ujar Hermawan.

Meski begitu, bank memiliki beberapa kelebihan yang tidak dimiliki fintech. Di antaranya memiliki lisensi untuk memindahkan dana, mempunyai aset dan modal lebih besar, serta pengalaman memadai. Dalam praktiknya, fintech atau e-commerce membutuhkan konektivitas sistem yang solid dengan dunia perbankan agar transaksi pembayaran pengguna aplikasi atau situs mereka bisa berjalan lancar. “Maka daripada jalan sendiri-sendiri, kenapa tidak berkolaborasi," tegas Hermawan.

Itulah sebabnya, bank swasta terbesar bersama anak usahanya BCA Finance mendirikan perusahaan model ventura bernama PT Central Capital Ventura (CCV) dengan modal awal Rp 200 miliar untuk menyinergikan usaha mereka dengan perkembangan fintech.

Sejak CCV berdiri pada 2017 lalu, perusahaan ini telah membiayai dua perusahaan rintisan, yakni garasi.id dan klikacc. Garasi.id merupakan perusahaan rintisan yang bergerak di bidang jual beli mobil bekas. Sedangkan klikacc merupakan platform pendanaan digital dengan sistem kemitraan. Garasi.id tercatat merupakan perusahaan rintisan milik Grup Djarum yang diharapkan menjadi marketplace khusus otomotif.

Yanuar Suhardiman, Manajer Operasional Garasi.id mengatakan, kelebihan Garasi.id adalah mampu memberikan asistensi dan inspeksi sebelum membeli mobil. "Inspeksi kami membantu mengecek mobil, bagus atau tidak. Sedangkan asistensi adalah pendampingan," ujar Yanuar yang enggan merinci berapa total dana yang telah dikeluarkan CCV untuk membiayai startup itu.

Selain Garasi.id, juga ada klikacc yang bergerak di bidang peer to peer lending (P2P). Tujuan pendirian klikacc ini untuk memudahkan akses finansial bagi UMKM di Indonesia. Iwan, Marketing and Sales Director KlikAcc menjelaskan, salah satu kelebihan klikacc yakni mempunyai kerjasama kemitraan. "Kami membiayai saluran distribusi," terang Iwan.

Sejumlah mitra yang sudah digandeng klikacc diantaranya tokopedia serta PT Indosat. Jenis pinjaman yang diberikan klikacc antara lain pembiayaan UKM, yaitu berkisar antara Rp 20 juta hingga Rp 40 juta.

Jan Hendra, Sekretaris Perusahaan BCA mengatakan, ke depan CCV juga akan menginvestasikan dananya pada perusahan layanan gerbang pembayaran digital. "Untuk perusahaan lain, BCA masih dalam tahap due diligence," imbuh Jan Hendra.

Sama seperti BCA, Bank Mandiri lewat anak usahanya Mandiri Capital Indonesia (MCI) juga telah berkolaborasi dengan beberapa perusahaan fintech sebagai investee company mereka. Sejak 2017 lalu MCI telah menyalurkan penyertaan modal kepada beberapa perusahaan rintisan. Nilai penyertaan modal yang ditelah diberikan Mandiri Capital sekitar Rp300 miliar sampai Rp400 miliar.

MCI bersama dengan Lynx Asia Partners, Beenext dan Midplaza Holding sudah berinvestasi antara 2 dan 5 miliar dolar AS untuk PT Amartha Mikro Fintek, pelopor plaform P2P micro lending di Indonesia. Selain Amartha ada lagi start up fintech lain yang menerima dana yaitu Mitra Transaksi, Moka dan beberapa perusahaan lain yang sudah masuk dalam pipeline. Sampai akhir 2017 setidaknya MCI sudah membiayai sembilan perusahaan rintisan. Perusahaan rintisan ini nantinya diharapkan bisa mendukung bisnis Bank Mandiri secara grup.

Eddie Danusaputro, Direktur Utama Mandiri Capital mengatakan, nilai penyertaan modal yang ditelah diberikan Mandiri Capital sekitar Rp300 miliar sampai Rp400 miliar. Ke depan, MCI akan terus memberikan dukungan permodalan untuk perusahaan rintisan potensial di Indonesia.

Bank Mandiri, lewat anak usaha lainnya yang bergerak di pengelolaan aset manajemen, Mandiri Investasi juga menggandeng startup tanamduit.com. Tanamduit adalah ber-platform layanan reksadana yang merupakan produk dari sebuah perusahaan pengelolaan investasi PT Star Mercato Capitale. Tanamduit sendiri baru akan diluncurkan pada Februari 2018.

“Selain dengan Mandiri Investasi, tanamduit saat ini telah bekerja sama dengan dua perusahaan pengelolaan aset manajemen lainnya, Batavia Prosperindo dan Bahana TCW Investment Management,” terang Agung Ari Wibowo, Head of Marketing Communication Star Mercato Capitale kepada Stabilitas.

Di ranah startup penyedia layanan finansial reksa dana Indonesia, tanamduit sendiri akan bersaing dengan layanan sejenis seperti yang ditawarkan oleh Bareksa dan Bukalapak yang meluncurkan layanan BukaReksa (bersama Bareksa dan CIMB Principal Asset Management) di awal 2017 lalu.

***

Pilihan Kolaborasi Bank dan Fintech

Dengan berinvestasi kepada perusahaan fintech, bank mempunyai akses langsung kepada teknologi-teknologi terbaru untuk meningkatkan layanan perbankan mereka. Ada dua isu teknologi penting saat ini, yaitu Big Data dan Blockchain.

Teknologi big data menawarkan efektivitas bagi perbankan dalam menjaring nasabah baru, juga untuk membina dan mempertahankan existing nasabah mereka. Sementara blockchain disebut-sebut sebagai the next big thing setelah internet, karena memungkinkan bank untuk merevolusi sistem pembayaran mereka menjadi lebih cepat dan efisien.

Teknologi lain yang bisa dimanfaatkan Bank adalah internet of things. Jika selama ini skema pembiayaan kepemilikan mobil atau mesin produksi hanya berdasar pada jangka waktu, internet of things memungkinkan skema pembiayaan yang lebih aktual misalnya dengan berdasarkan pada kilometer pemakaian atau kapasitas pemakaian. Sedangkan bank-bank kecil, dapat memanfaatkan teknologi cloud untuk memangkas investasi infrastruktur mereka agar bisa bersaing dengan Bank-Bank besar.

                Beberapa pola kerja sama yang bisa dilakukan bank dan fintech itu, pertama, menjadi kustodian. Bentuk kerja sama ini dilakukan bank dengan startup fintech adalah menjadi kustodian, alias pihak penampung sekaligus penjamin seluruh dana pemberi pinjaman. Dengan mempunyai bank kustodian, sebuah startup P2P lending bisa menjamin keamanan dan transparansi setiap dana dari pemberi pinjaman yang mereka salurkan. Contoh bentuk kerja sama seperti ini dilakukan oleh Bank Sinarmas, yang menjadi bank kustodian untuk startup P2P lending Modalku.

Kedua, memberi investasi.Hal lain yang bisa dilakukan bank adalah dengan memberi investasi untuk membantu perkembangan startup P2P lending. Langkah ini dilakukan oleh Bank Mandiri yang memberikan pendanaan Seri A kepada Amartha lewat perusahaan modal ventura mereka, Mandiri Capital Indonesia.

Ketiga, manajemen dana. Berbeda dengan bank lain, Bank Danamon justru menjalin kerja sama dengan salah satu startup P2P lending bernama Investree dalam menyediakan layanan host-to-host. Dengan layanan tersebut, Investree bisa memberikan seluruh data transaksi yang ingin mereka lakukan dalam bentuk file text di sebuah software khusus. Dengan begitu, proses transfer dana yang terjadi di dalam platform mereka pun akan berlangsung lebih cepat.

Keempat, membantu pemasaran. Contoh kerja sama ini adalah antara startup Investree dengan Bank Woori Saudara (BWS). Dengan kerja sama ini, BWS akan menawarkan produk pinjaman Investree kepada para nasabah mereka. Sebagai timbal balik, BWS akan mendapatkan sebagian dari komisi yang didapat Investree dari transaksi pinjaman tersebut. Selain itu, BWS juga bisa menawarkan kepada para nasabah mereka yang memiliki banyak uang, untuk turut menginvestasikan uang tersebut di Investree.

Kelima, asuransi kredit. Selain dengan bank, perusahaan fintech bisa menjalin kerja sama dengan perusahaan asurnasi. Lewat kerja sama tersebut, para peminjam di perusahaan fintech P2P akan mendapat perlindungan asuransi yang bisa memberikan ganti rugi apabila terjadi hal-hal tidak diinginkan. Dengan begitu, para pemberi pinjaman tidak perlu khawatir dengan uang yang mereka berikan. Contoh kerja sama ini adalah antara Investree dengan Zurich Topas Life dan startup P2P lending Koinworks dengan Allianz.

Keenam, opsi jaminan baru. Contoh kerja sama ini adalah antara startup P2P lending Crowdo dengan perusahaan multifinance BFI Finance. Cara memungkinkan mereka untuk menerima jaminan pinjaman dalam bentuk motor, mobil, atau rumah. Sebelumnya, mereka hanya bisa menerima jaminan berupa tagihan (invoice), emas, perhiasan, hingga working order.

Sumber: id.techinasia.com

Fintech Do-It dan AIQQON Jalin Kerja Sama Strategis

Mon, 07 Oct 2019 - Kerja sama ini menargetkan jutaan UMKM Go Digital.

Waspadai Pinjaman Online Ilegal

Mon, 07 Oct 2019 - Secara total kegiatan usaha yang diduga dilakukan tanpa izin dari otoritas yang berwenang dan berpotensi merugikan masyarakat yang telah dihentikan oleh Satgas Waspada Investasi selama tahun 2019 sebanyak 250 entitas.

BI dan OJK Dorong Ekonomi Digital

Mon, 07 Oct 2019 - Data tahun 2018 menunjukkan jumlah penduduk Indonesia sebanyak 265.4 juta jiwa dengan pengguna internet sebanyak 132.7 juta, pengguna sosial media aktif sebanyak 130 juta, pengguna ponsel sebanyak 177.9 juta dan pengguna sosial ponsel aktif sebanyak 120

Modalku & Hipmi Jaya Bagikan Kiat Melancarkan Arus Kas Bisnis

Thu, 03 Oct 2019 - Proses Invoice Financing yang cepat menjadikan pinjaman ini cocok bagi usaha yang perlu segera melancarkan arus kas

Amartha dan Rumah Zakat Kolaborasi Bangun Sanitasi Umum

Sun, 29 Sep 2019 - Pada tahap pertama, Program Desa Sejahtera Amartha akan dijalankan di tiga desa binaan Amartha di wilayah Cirebon, Jawa Barat.

Meriahkan Fintech Expo 2019, Fintech P2P Do-It Komit Dorong Inklusi Keuangan

Thu, 26 Sep 2019 - Per Agustus 2019, Do-It telah menyalurkan pinjaman ke lebih dari 300.000 pengguna.



Non Bank

CIMB Niaga dan BPJPH Sinergi Dukung Industri Halal

Kerja sama CIMB Niaga melalui Unit Usaha Syariah (UUS)

Digibank Jadi Mitra Distribusi Obligasi Ritel Indonesia

ORI016 adalah salah satu instrumen SBN yang ditawarkan

Fintech Do-It dan AIQQON Jalin Kerja Sama Strategis

Kerja sama ini menargetkan jutaan UMKM Go Digital.

Modalku & Hipmi Jaya Bagikan Kiat Melancarkan Arus Kas Bisnis

Proses Invoice Financing yang cepat menjadikan pinjaman

Portofolio

Tamasia Targetkan Jual 150 Kg Emas

CEO dan Co Founder Tamasia Muhammad Assad mengungkapkan

Unilever Raup Laba Rp21,5Triliun

Penjualan di pasar domestik mendominasi pendapatan bers

Interview

Glen Alexander Winata: Utamakan Proteksi Nasabah, Komisi Pasti Mengikuti

Pada awalnya, kebanyakan agen asuransi pemikirannya sel

Pengamat Syariah: Dorongan Pemerintah Adalah Kunci

"Pemerintah itu harus ada inisiatif, misalnya proyek Rp

Tren Kendaraan Komersial Menurun

Harga komoditas global yangterus berada di level terend

Satelit adalah Kekuatan BRI

Jalan sejarah sedang ditapaki oleh Bank Rakyat Indonesi

Riset

INDEF: Reformasi Agraria butuh Regulasi

payung hukumnya untuk membagikan kan harus ada. Payung

Tidak Merata, Pulau Jawa Dominasi Pertumbuhan Negara

Apabila sumber pertumbuhan dapat lebih tersebar maka ke

Inklusi Keuangan Meningkat Jadi 67,82 Persen

Indeks inklusi keuangan Indonesia meningkat pada angka

Tax Amnesty Berpotensi Masuki Jilid II

Tax amnesty itu diperpanjang katakanlah setahun lagi bi