Governance, Risk Management & Compliance

Ladies, Ayo Bangun Kecerdasan Finansial!

Senin 25 Nopember 2013 7:45:14

Ada beragam wajah kecerdasan, meski pada awalnya kita hanya mengenal satu jenis kecerdasan yang disebut intelligence quotient (IQ). Para ahli menyakini kecerdasan IQ telah tertanam di dalam DNA setiap manusia sejak ia dilahirkan. Oleh karena itu,

Ada beragam wajah kecerdasan, meski pada awalnya kita hanya mengenal satu jenis kecerdasan yang disebut intelligence quotient (IQ). Para ahli menyakini kecerdasan IQ telah tertanam di dalam DNA setiap manusia sejak ia dilahirkan. Oleh karena itu, kecerdasan IQ bersifat tetap. Tidak akan berubah sepanjang hayat manusia.

Namun, dalam perkembangannya, ‘lahir’ bentuk-bentuk kecerdasan baru. Salah satu yang paling populer adalah berbagai tipologi kecerdasan yang dikenalkan oleh Howard Gardner pada tahun 1983. Psikolog terkemuka dari Universitas Harvard ini membagi kecerdasan dalam delapan jenis, yaitu: kecerdasan linguistik, kecerdasan matematik atau logika, kecerdasan spasial, kecerdasan kinetik dan jasmani, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis.

Berbeda dengan pendahulunya, Gardner meyakini, kecerdasan ada yang bersifat tetap, namun ada pula yang bisa berubah. Dalam delapan jenis kecerdasan yang ia kemukakan, nampaknya hanya kecerdasan matematik saja yang bersifat tetap, sementara tujuh lainnya dapat berkembang, tergantung dari proses yang dialami dan stimulasi yang diterima seseorang.

Pendapat Gardner ini menjadi titik tolak Psikolog Universitas Harvard yang lain, Peter Salovey, yang kemudian mengenalkan kecerdasan sosial atau emotional quotient (EQ) pada tahun 1990. Salovey mendefinisikan EQ sebagai: “kemampuan untuk memahami perasaan diri sendiri, untuk berempati terhadap perasaan orang lain dan untuk mengatur emosi, yang secara bersama berperan dalam peningkatan taraf hidup seseorang”. Salovey juga meyakini, alih-alih IQ, justru EQ-lah yang paling bertanggung jawab terhadap sukses atau tidaknya seseorang.

Popularitas EQ ini kemudian melahirkan cabang-cabang kecerdasan turunan yang bersifat variabel, seperti kecerdasan spiritual (spiritual quotient/SQ), kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan kecerdasan finansial (financial quotient/FQ). Sejumlah karya tulis, artikel hingga buku, lantas banyak bermunculan mengupas berbagai sudut pandang tentang bagaimana jenis kecerdasan variabel ini dapat meningkatkan kebahagiaan dan kesejahteraan manusia.

Buku ini pun demikian. Meski judulnya sedikit provokatif, ‘Ladies, Belanjakan Saja Semua Uangmu!’ yang mengesankan himbauan agar para perempuan menghambur-hamburkan uangnya untuk konsumsi, tetapi isinya lebih pada tips membangun kecerdasan finansial para kaum hawa. Judul buku ini sendiri tampaknya terinspirasi dari stigma yang sudah melekat pada kaum perempuan, sebagai kelompok yang suka belanja. Bertolak dari cap negatif ini, penulis berusaha mengubah paradigma belanja konsumtif menjadi belanja produktif.

Bagaimana belanja secara produktif, inilah tampaknya yang menjadi benang merah dari seluruh isi buku perdana Ai Nur Bayinah yang terdiri dari lima bab tersebut. Perencanaan belanja produktif ini sudah dimulai sejak kita berencana untuk membentuk rumah tangga, temasuk memikirkan untuk memilih karier sebagai ibu rumah tangga atau wanita karier (bab 1, hal 9 – 21), masa awal-awal berumah tangga (bab 2, hal 31 – 67), saat memiliki anak dan kebutuhan mulai membengkak (bab 4, hal 116 – 169), hingga ketika mempersiapkan masa tua (bab 5, 181 – 209).

Namun, yang tak kalah pentingnya adalah mengubah cara berpikir (midset) kita dalam membelanjakan uang. Dalam bahasa penulis, belanja yang produktif seyogyanya berdasarkan pada kebutuhan dan bukan karena keinginan (bab 3, hal 77 – 100).

Sebagai buku yang bertujuan men-cerdas-finansial-kan masyarakat, khususnya para perempuan, kehadiran karya dosen STEI SEBI ini patut diapresiasi. Terlebih mengingat perempuan adalah tulang punggung yang mengatur lalu lintas keuangan rumah tangga. Sebab, kegagalan seorang istri mengelola keuangan rumah tangga, tidak perduli berapa besar penghasilan pasangannya, bukan hanya berpotensi merubuhkan bahtera perkawinan, tetapi juga menjadi bahaya laten bagi suburnya korupsi yang adalah sumber utama penyebab kemiskinan bangsa ini.

Pada akhirnya, dengan membaca buku ini, memahami, dan terpenting mengamalkannya, niscaya akan membantu mengerek kecerdasan keuangan kita, tidak peduli berapa kecil penghasilan kita, dan sekaligus menjadi jembatan membangun kehidupan rumah tangga yang sakinah (menentramkan), mawadah (saling mencintai), dan warohmah (memberi kebaikan).



Non Bank

PEFINDO Biro Kredit dan Trimegah Sekuritas Resmikan Perjanjian Keanggotaan

“Kami menyambut baik bergabungnya Trimegah Sekuritas

Indofood dan Anak Usaha Bagi-bagi Dividen

PT Indofood Sukses Makmur Tbk dan anak usahanya PT Indo

PMK 75/2011 Direvisi, LPDB KUMKM Bisa Langsung Biayai UMKM

"Selama ini kita hanya bisa membiayai skim pembiayaan u

Laba Bersih Bersih Sinarmas MSIG Life Tumbuh 49 Persen di 2017

Selain mengumumkan catatan pertumbuhan positif selama 2

Portofolio

Ini 57 Entitas Yang Aktivitasnya Dilarang Satgas Waspada Investasi OJK

Imbauan ini dikeluarkan mengingat entitas tersebut tida

Gandeng China Galaxy Securities, CIMB Awali Bisnis Pialang Saham di Asia

Usaha patungan berpeluang tumbuh untuk mendukung aktivi

Menkeu Berharap Pemda Manfaatkan Investasi untuk Bangun Daerah

Menkeu mencontohkan daerah Halmahera Utara dan Tabanan

Masyarakat Indonesia Mulai Minati Cryptocurrency

puluhan ribu masyarakat Indonesia diklaim telah mulai t

Interview

Pengamat Syariah: Dorongan Pemerintah Adalah Kunci

"Pemerintah itu harus ada inisiatif, misalnya proyek Rp

Tren Kendaraan Komersial Menurun

Harga komoditas global yangterus berada di level terend

Satelit adalah Kekuatan BRI

Jalan sejarah sedang ditapaki oleh Bank Rakyat Indonesi

Profesional Indonesia Berpotensi Pindah Negara

Pasar bebas ASEAN yang berlaku efektif awal tahun 2016

Riset

INDEF: Reformasi Agraria butuh Regulasi

payung hukumnya untuk membagikan kan harus ada. Payung

Tidak Merata, Pulau Jawa Dominasi Pertumbuhan Negara

Apabila sumber pertumbuhan dapat lebih tersebar maka ke

Inklusi Keuangan Meningkat Jadi 67,82 Persen

Indeks inklusi keuangan Indonesia meningkat pada angka

Tax Amnesty Berpotensi Masuki Jilid II

Tax amnesty itu diperpanjang katakanlah setahun lagi bi