Governance, Risk Management & Compliance

Mengetat Tapi Tak Mengkhawatirkan

Rabu 17 Oktober 2012 20:22:53

Likuiditas asing dinilai akan makin mengetat terutama karena kebutuhan akan dollar AS yang terus meningkat demi memenuhi impor. Meski demikian, para pelaku perbankan menganggap kondisi itu tidak akan mengancam dan hanya akan berlangsung sementara.

Likuiditas asing dinilai akan makin mengetat terutama karena kebutuhan akan dollar AS yang terus meningkat demi memenuhi impor. Meski demikian, para pelaku perbankan menganggap kondisi itu tidak akan mengancam dan hanya akan berlangsung sementara.

Harus diakui, makroekonomi Indonesia sedang bergeser dari posisi sebelumnya. Sayangnya perubahan itu cenderung ke arah yang tidak menggembirakan. Menurunnya ekspor yang dibarengi melonjaknya impor telah menciptakan defisit dalam neraca transaksi berjalan sebagaimana terjadi pada triwulan pertama dan kedua tahun ini. Kondisi itu tak pelak membuat kebutuhan akan dollar AS lebih besar dari tambahan pasokannya dan lambat tapi pasti akan membuat likuditas valuta asing mengetat.

Hal itulah yang kemudian disimpulkan oleh lembaga pemeringkat Fitch Ratings yang memprediksi akan terjadi pengetatan likuiditas di Indonesia, terutama untuk denominasi valuta asing. Pernyataan itu dikeluarkan dalam ‘Special Reports’ tanggal 17 September lalu itu diperkuat lagi setelah memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi Asia bergerak melambat.

Lembaga itu menyatakan, likuiditas yang mengetat (terutama dalam mata uang asing) dan rendahnya kapitalisasi menjadi konsekuensi dari tingginya pertumbuhan kredit dan kuatnya pertumbuhan ekonomi. Dijelaskan Fitch, pertumbuhan kredit yang cepat dan meningkatnya aset memicu indikator risiko ekonomi makro (Macro Prudential Risk Indicator/MPI) bergerak ke angka 3 di Desember 2011. Hal tersebut menimbulkan kekhawatiran tentang laju pertumbuhan, terutama potensi volatilitas jika terjadi perlambatan ekonomi. “Fitch memperkirakan rasio kredit bermasalah (NPL) trennya meningkat dari posisi terendahnya sepanjang sejarah,” jelas laporan itu.

Dalam laporannya, Bank Indonesia menyatakan bahwa NPL perbankan hingga Agustus masih berada dalam level terjaga yaitu di bawah 5 persen. sebelumnya, pejabat BI sempat melontarkan pernyataan bahwa penyaluran kredit perbankan saat ini cenderung sangat tinggi yang bisa memicu perekonomian ke dalam kondisi overheating.

Memang jika melihat perkembangan kredit hingga paro pertama tahun ini terlewati, pernyataan itu sangat beralasan. Hingga akhir Juni lalu, BI mencatat pertumbuhan kredit perbankan sudah mencapai 25,8 persen. Angka itu sudah melampui tren yang terjadi di tahun sebelumnya yang hanya berkisar di 20 hingga 24 persen.

Sebagai informasi, pertumbuhan kredit tercatat 10 persen pada tahun 2009 silam, lalu melesat menjadi 22,8 persen di tahun 2010. Terakhir, pada 2011 lalu, pertumbuhan kredit meningkat lagi menjadi 24,5 persen. Dan berdasarkan rencana bisnis semester kedua, bank-bank tampaknya akan meningkatkan kredit lebih besar dari yang direncanakan di awal tahun. Awal tahun mereka menetapkan angka 23 persen dan pada rencana di semester kedua angka itu akan ditingkatkan menjadi 25-26 persen.

Akan tetapi kekhawatiran akan mengetatnya likuiditas valas itu tidak tergambar pada wajah-wajah para bankir. Arwin Rasyid, salah satunya. Direktur Utama Bank CIMB Niaga itu tidak terlalu memusingkan prediksi dari Fitch Ratings, terutama karena rasio kredit bank berada dalam level yang sangat terjaga.

Jika rata-rata rasio loan to deposit ratio (LDR) di 2008 mencapai di atas 100 persen, kini angkanya sudah turun ke kisaran 75 persen. Kondisi itu tentu menyediakan ruang yang cukup bagi bank untuk mengelola likuiditasnya. Ditambah lagi dengan terjaganya posisi cadangan devisa RI yang dinilai masih sangat aman dalam menahan kemungkinan pembalikan mendadak (sudden reverse) modal asing. Jika di 2008 cadangan devisa hanya sebesar 25 miliar dollar AS sehingga sangat rentan menghadapi krisis, kini angkanya sudah melampaui 120 miliar dollar AS.

“Jadi sangat terkendali dan kondisi perbankan amat sangat kuat,” tutur Arwin Rasyid. Di samping itu, berdasarkan data BI per Juli 2012, dana pihak ketiga perbankan masih cukup besar yaitu mencapai Rp2.961,42 triliun atau tumbuh 20,18 persen (yoy). Dari kenaikan itu, dana valas tercatat menyumbang kenaikan sebesar 23,24 persen jauh lebih tinggi ketimbang dana rupiah yang hanya 3 persen. Namun memang penyaluran kredit valas juga tumbuh cukup besar mencapai 27,87 persen atau menjadi Rp395,56 triliun (yoy).

Meski begitu, memasuki semester kedua ini, bank-bank sudah mulai mengetatkan penyaluran kredit valas. Bank Mandiri adalah salah satu bank yang selektif menyalurkan pembiayaan valas baru. Direktur Keuangan Bank Mandiri Pahala Nugraha Mansury mengatakan pihaknya hanya akan menyalurkan valas pada perusahaan yang pendapatannya juga dalam dollar AS.

Saat ini LDR valas bank tersebut berada dalam rentang 70-75 persen dan akan terus dijaga di bawah 85 persen. Likuiditas valas bank tersebut dijaga berkisar 1,5 miliar dollar AS sementara posisi DPK berkisar 6-6,5 miliar dollar AS. Menurut Pahala, Bank Mandiri berpeluang meningkatkan kredit valas jika banknya berhasil memperoleh pinjaman valas dari hasil penjualan aset obligasi rekapitalisasi (obligasi rekap) ke pasar. Terakhir, penjualan obligasi rekap pada Standard Chartered Bank Singapura dilakukan dengan strategi dikombinasikan dengan pinjaman valas. Skemanya Bank Mandiri meminjam 250 juta dolar AS sementara Standard Chartered membeli obligasi rekap sebesar Rp 1,8 triliun.

Tambahan Pasokan

Optimisme yang sama juga terpancar dari pernyataan Direktur Business Banking BNI Krishna R Suparto. Namun berbeda dengan dua kolega, dia menyatakan bahwa kebijakan quantitatif easing (QE3) ketiga kalinya yang dilakukan bank sentral AS, akan menambah pasokan valas di dalam negeri dan mengikis kekhawatiran akan keringnya likuiditas.

“Dananya akan akan masuk Indonesia karena Indonesia menawarkan imbal hasil yang menarik. Dana dalam bentuk portofolio ini akan masuk ke perbankan sehingga pasokan valas akan semakin besar,” ujar Krishna sembari mengatakan bahwa BNI tidak khawatir dengan likuiditas valas.

Quantitative easing adalah kebijakan otoritas moneter untuk menyuntikkan uang baru pada pasar untuk membeli aset atau obligasi milik korporasi. The Federal Reserve mengumumkan rencana mengeluarkan QE ke-3 dengan membeli utang kredit pemilikan rumah (KPR) dan melanjutkan pembelian aset setiap bulan. Kebijakan tersebut diharapkan dapat mendorong perekonomian AS dan membuka lapangan kerja.

Darmin Nasution, Gubernur BI sebelumnya juga yakin European Central Bank (ECB) akan melakukan hal yang serupa. Jika benar maka keduanya akan memperbesar peluang apresiasi rupiah yang sempat tertekan beberapa waktu belakangan. Rupiah masih dalam kondisi tertekan dan bergerak di sekitar Rp 9.450 hingga Rp 9.500 per dollar AS pada pekan ketiga bulan lalu.

BI menambahkan bahwa pergerakan rupiah tetap akan lebih bergantung pada kondisi eksternal. “Kita defisit di transaksi berjalan sehingga bagaimanapun itu akan memengaruhi keseimbangan eksternal baik pada akhirnya tertuang dalam nilai tukar rupiah terutama terhadap dollar AS atau mata-mata uang lain,” kata Darmin.

Seperti diketahui, neraca transaksi berjalan per Juni 2012 tercatat mencapai 3,1 persen dari produk domestik bruto. Kondisi itu sempat membuat rupiah berfluktuasi lebih aktif. Namun demikian BI berpendapat pergerakan nilai tukar masih dalam batas normal dan sesuai dengan fundamental ekonomi. BI berjanji tidak membatasi likuiditas valas di pasar, bahkan tetap menambah pasokan karena permintaan dari korporasi dalam negeri masih tinggi untuk membayar impor dan utang luar negeri.

Tapi pertanyaannya, sampai kapan kondisi itu bisa dipertahankan BI?



Non Bank

Allianz Life Indonesia Perkenalkan Asuransi Jiwa Unit Link Terbaru

Sampai 2019 produk asuransi jiwa unitlink masih mendomi

MTF Beri Restrukturisasi Rp 5 Triliun bagi Pelanggan Terdampak Covid-19

Mandiri Tunas Finance menyalurkan 11.000 Paket Sembako

Menkeu Jelaskan Latar Belakang Perppu Nomor 1 Tahun 2020

Sri Mulyani menjelaskan, Perppu dikeluarkan untuk bisa

Portofolio

Berharap Pada Prospek Saham BUMN

Saham-saham Bank BUMN seperti BRI, Mandiri, BNI dan BTN

Mandiri Sekuritas Permudah Proses Pembukaan Rekening Efek

Mandiri Sekuritas mendorong masyarakat berinvestasi di

Kemenkeu Terbitkan SUN dengan Tenor 50 Tahun

SUN tersebut diterbitkan guna memenuhi kebutuhan pembia

Segera Diluncurkan, Kupon SBR-009 Sebesar 6.3 Persen

Instrumen Savings Bond Ritel seri SBR009 sebagai instru

Interview

Glen Alexander Winata: Utamakan Proteksi Nasabah, Komisi Pasti Mengikuti

Pada awalnya, kebanyakan agen asuransi pemikirannya sel

Pengamat Syariah: Dorongan Pemerintah Adalah Kunci

"Pemerintah itu harus ada inisiatif, misalnya proyek Rp

Tren Kendaraan Komersial Menurun

Harga komoditas global yangterus berada di level terend

Satelit adalah Kekuatan BRI

Jalan sejarah sedang ditapaki oleh Bank Rakyat Indonesi

Riset

INDEF: Reformasi Agraria butuh Regulasi

payung hukumnya untuk membagikan kan harus ada. Payung

Tidak Merata, Pulau Jawa Dominasi Pertumbuhan Negara

Apabila sumber pertumbuhan dapat lebih tersebar maka ke

Inklusi Keuangan Meningkat Jadi 67,82 Persen

Indeks inklusi keuangan Indonesia meningkat pada angka

Tax Amnesty Berpotensi Masuki Jilid II

Tax amnesty itu diperpanjang katakanlah setahun lagi bi