Governance, Risk Management & Compliance

Menjauhkan Ekonomi dari Tubir Krisis

Kamis 6 Oktober 2016 16:55:0

Para pemimpin negara G20 mewaspadai kemungkinan terjadinya risiko peningkatan kesenjangan pendapatan. Jika hal ini terjadi, manfaat pertumbuhan tidak akan dirasakan secara merata dalam tataran ekonomi global.

Para pemimpin negara anggota G20 berangsur-angsur meninggalkan Hangzhou, Provinsi Zhenjiang, China, Senin (5/9/2016), meninggalkan Konferensi Tingkat Tinggi dua hari, dengan tema “Menuju Ekonomi Dunia yang Inovatif, Dinamis, Interkonektif dan Inklusif” di kota itu.

Pertemuan yang baru pertama kali diselenggarakan di China itu seperti ingin mengingatkan betapa pelemahan pertumbuhan negara itu telah berdampak pada perekonomian global. Ekonomi China belum menunjukkan tanda-tanda kembali ke jalur pertumbuhan positif dan menjadi mesin ekonomi global seperti satu dekade lalu.

Oleh karena itu tidak berlebihan jika dalam pembukaan KTT, Presiden China Xi Jinping menegaskan kembali betapa berat perekonomian global ke depan. “Banyak tantangan dan risiko yang dialami perekonomian global dan terkait itu, saya ingin menyampaikan beberapa hal guna memulihkan kembali situasi ekonomi global,” katanya dalam pidato pembukaan KTT G20 ke-11 tersebut.

Dia menambahkan bahwa perekonomian global sedang berada dalam ‘titik kritis’ karena pasar yang bergerak cepat dan perdagangan yang lemah. Oleh karena itu negara-negara yang tergabung dalam 20 negara ekonomi utama dunia itu, kata Xi, harus memperkuat koordinasi dalam merumuskan kebijakan makro ekonomi yang komprehensif, guna mendukung pertumbuhan global.

Selain itu, G20 juga harus segera merumuskan pendekatan baru untuk menciptakan pertumbuhan global untuk jangka menengah dan panjang.
“Tahun ini kita telah memiliki cetak biru menciptakan pertumbuhan yang inovatif, reformasi struktural yang inovatif, revolusi industri baru dan pembangunan ekonomi digital,” kata Xi.

Kelompok G20 juga diminta untuk meningkatkan tata kelola ekonomi global, perkuatan sistem keuangan dan moneter, serta peningkatan tata kelola lembaga keuangan global. “Kita juga harus meningkatkan jaring pengaman keuangan global, dan merumuskan kebijakan perpajakan secara bersamasama, serta peningkatan upaya antikorupsi untuk mengurangi risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi. Terlebih tahun ini, telah dibentuk kelompok kerja G20 untuk keuangan global dalam,” katanya.

Untuk mencapai pertumbuhan global yang stabil, Presiden Xi juga menekankan pentingnya membangun ekonomi global yang lebih terbuka memberikan fasilitasi dan liberalisasi dalam perdagangan dan investasi guna mendongrak pertumbuhan ekonomi global. Termasuk pula pembangunan infrastruktur dan interkonektivitas khususnya bagi UMKM dan negara berkembang berpartisipasi dalam global value chain.

Tercatat beberapa puluhan pemimpin dunia menghadiri pertemuan itu, di antaranya adalah Kanselir Jerman, Angela Merkel, Presiden AS Barack Obama, Perdana Menteri Inggris, Theresa May, PM Jepang Shinzo Abe dan Presiden Rusia Vladimir Putin, Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde, dan juga Presiden Joko Widodo.

Barack Obama, yang merupakan terakhir kalinya hadir di pertemuan sebelum lengser tahun depan, menyoroti banyaknya keluarga dan pekerja yang merasa bahwa ekonomi tidak berpihak kepada mereka. Untuk itu, G20 harus lebih banyak bertindak untuk meningkatkan upah dengan cepat, mengurangi kesenjangan dengan cepat, memberikan kesempatan bagi semua masyarakat, serta menjamin keamanan dalam kondisi ekonomi yang berubah.

“Ini harus dikedepankan oleh G20, memastikan bahwa manfaat tren globalisasi dan kemajuan teknologi dibagi secara meluas kepada lebih banyak pekerja dan keluaga,” ujar Obama seperti dikutip dari CNN Money.

Permasalahan mengenai kesenjangan pendapatan bukan perkara baru. Masyarakat berpendapatan rendah dengan keterampilan dan kualifkasi rendah merupakan pihak yang dianggap bertanggung jawab sosok di balik voting keluarnya Inggris dari keanggotaan Uni Eropa.

Sementara itu, Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde menyebut, obat paling mujarab untuk mengatasi kesenjangan ini adalah adanya kesadaran dari pemimpin dunia untuk memikirkan pertumbuhan yang seimbang dan setara. “Negara-negara harus memiliki perangkat guna mengurangi kesenjangan yang berlebihan dan meningkatkan prospek ekonomi, khususnya bagi masyarakat dan pekerja berpendapatan rendah,” ujar Lagarde.

Komitmen Indonesia

Presiden Indonesia, Joko Widodo yang diundang berpidato di hadapan para pemimpin G20, berharap negaranegara anggota dapat saling bekerja sama menyinergikan kebijakan fiskal, moneter, dan reformasi struktural dalam rangka perbaikan ekonomi dunia. Selain itu, ia juga berharap, G20 dapat menghindari kebijakan ekonomi yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi sesama anggota.

“G20 harus meningkatkan komunikasinya dan menghindari kebijakan ekonomi yang menciptakan dampak negatif. Selain itu, setiap kebijakan ekonomi harus memiliki agenda pertumbuhan yang solid dan inklusif,” jelas Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi mengungkapkan bahwa perekonomian Indonesia saat ini diarahkan untuk lebih terbuka dan kompetitif. Tumbuh lebih tinggi dibanding rata-rata pertumbuhan ekonomi negara G20, perekonomian Indonesia diharapkan mampu memberikan peran besar bagi perkembangan ekonomi global.
“Indonesia berkomitmen untuk menjaga ekonominya terbuka dan kompetitif. Saya juga akan terus mempertahankan ekonomi yang inklusif,” jelasnya.

Di akhir pertemuan KTT ke-11 ini para pemimpin G20 juga sepakat untuk membuat kebijakan-kebijakan yang lebih kuat dan komprehensif guna meningkatkan pertumbuhan serta berkelanjutan yang lebih tinggi dan inklusif. “Kami bersepakat meningkatkan kesepahaman, guna menghadapi titik henti krusial bagi perekonomian dunia,” kata Presiden Tiongkok Xi Jinping.

Presiden Xi mengatakan, G20 bersepakat melakukan tindakan baru untuk membawa perekonomian dunia yang inovatif, terbarui, terinterkoneksi, dan inklusif, serta putaran pertumbuhan yang solid.

Negara-negara G20 juga sepakat untuk meningkatkan koordinasi dalam merumuskan kebijakan makro ekonomi untuk mendongkrak pertumbuhan global dan memberikan keuntungan, baik bagi negara maju maupun negara berkembang. Xi mengatakan, G20 bersepakat menggabungkan langkahlangkah kebijakan moneter, fskal dan reformasi struktural–untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, termasuk kerja sama perpajakan.

Presiden Xi juga mengatakan negara-negara G20 bersepakat meningkatkan langkah nyata antigratifkasi, termasuk membangun pusat kerja sama antikorupsi internasional dan pengembalian aset di China. “Kerja sama tersebut didasarkan pada rencana aksi Antikorupsi G20 2014-2018,” ungkapnya. 

Terkait itu negara G20 akan mematangkan kerangka kerja sama antikorupsi internasional dengan memadukan prinsip, mekanisme dan rencana aksi yang ada, tambah Presiden Xi.



Non Bank

Allianz Life Indonesia Perkenalkan Asuransi Jiwa Unit Link Terbaru

Sampai 2019 produk asuransi jiwa unitlink masih mendomi

MTF Beri Restrukturisasi Rp 5 Triliun bagi Pelanggan Terdampak Covid-19

Mandiri Tunas Finance menyalurkan 11.000 Paket Sembako

Menkeu Jelaskan Latar Belakang Perppu Nomor 1 Tahun 2020

Sri Mulyani menjelaskan, Perppu dikeluarkan untuk bisa

Portofolio

Berharap Pada Prospek Saham BUMN

Saham-saham Bank BUMN seperti BRI, Mandiri, BNI dan BTN

Mandiri Sekuritas Permudah Proses Pembukaan Rekening Efek

Mandiri Sekuritas mendorong masyarakat berinvestasi di

Kemenkeu Terbitkan SUN dengan Tenor 50 Tahun

SUN tersebut diterbitkan guna memenuhi kebutuhan pembia

Segera Diluncurkan, Kupon SBR-009 Sebesar 6.3 Persen

Instrumen Savings Bond Ritel seri SBR009 sebagai instru

Interview

Glen Alexander Winata: Utamakan Proteksi Nasabah, Komisi Pasti Mengikuti

Pada awalnya, kebanyakan agen asuransi pemikirannya sel

Pengamat Syariah: Dorongan Pemerintah Adalah Kunci

"Pemerintah itu harus ada inisiatif, misalnya proyek Rp

Tren Kendaraan Komersial Menurun

Harga komoditas global yangterus berada di level terend

Satelit adalah Kekuatan BRI

Jalan sejarah sedang ditapaki oleh Bank Rakyat Indonesi

Riset

INDEF: Reformasi Agraria butuh Regulasi

payung hukumnya untuk membagikan kan harus ada. Payung

Tidak Merata, Pulau Jawa Dominasi Pertumbuhan Negara

Apabila sumber pertumbuhan dapat lebih tersebar maka ke

Inklusi Keuangan Meningkat Jadi 67,82 Persen

Indeks inklusi keuangan Indonesia meningkat pada angka

Tax Amnesty Berpotensi Masuki Jilid II

Tax amnesty itu diperpanjang katakanlah setahun lagi bi