Governance, Risk Management & Compliance

Menunggu Respons Bank Atas Fintech

Rabu 7 Maret 2018 19:21:0

Agar tidak tergerus bisnisnya, bank dipaksa untuk menentukan sikap yang tepat.

Oleh Romualdus San Udika

Bank adalah lembaga yang sudah terbiasa menghadapi ancaman dari perubahan zaman dan teknologi. Dan hampir semuanya bisa diatasi dengan penyempurnaan sistem dan juga operasional serta strategi. Namun semaraknya layanan keuangan berbasis teknologi dinilai lebih tricky dari ancaman-ancaman sebelumnya dan memaksa bank mengubah pendekatannya.

Pada tahun 70-an bank mulai mengadopsi teknologi tarik tunai otomatis sehingga nasabah bisa mengambil uangnya tanpa harus datang ke kantor bank. Kemudian ketika telepon fix line mulai merambah, bank bisa menyesuaikan operasinya dengan menghadirkan phone banking.

Kemudian pada akhir 90-an ketika telepon genggam mulai mewabah bank pun bisa berkelit dengan menghadirkan layanan dari SMS Banking dan juga mobile banking. Munculnya Internet dihadapi bank dengan menghadirkan Internet banking, atau electronic banking.

Kini ketika berhadapan dengan teknologi digital dan maraknya layanan financial technology (fintech), bank kembali diuji. Awalnya bank seperti menafikan ancaman tersebut karena masih terlena dengan cara bisnis lama. Empat tahun berjalan, fintech telah disadari pelaku bank sebagai ancaman yang tak lagi kecil.

Oleh karena itu bank sudah menyiapkan respons yang tepat. Bank kemudian mulai menyiapkan diri untuk mewujudkan digital banking. Andreas Hassim, Corporate Change Management Group Head Bank BRI menilai setidaknya ada tiga langkah dalam mewujudkan digital banking yang sesungguhnya.

Pertama, mempersiapkan Application Programming Interface (API) layanan dan produk bank. API ini merupakan media penghubung antara layanan fintech dengan layanan perbankan. Ini merupakan upaya mendigitalkan produk dan layanan bank sebagaimana layanan fintech memanjakan para nasabahnya dengan berbagai kemudahan dan customer experience. Melalui layanan semacam inilah produk dan layanan perbankan terdisruptif dan perlahan akan terus menggerogoti teknologi layanan perbankan yang kini eksis seperti halnya mesin Automatic Teller Machine (ATM), Cash Deposit Machine (CDM), Electronic Data Capture (EDC), dll.

Digital banking yang ditawarkan oleh para fintech seperti payment channel, online/digital insurance, Peer-to-Peer (P2P) Lending, dan crowdfundingbukanlah berbentuk layanan fisik yang mengundang kehadiran nasabah menuju outlet fisik sehingga bank pun perlu memperhatikan hal ini,” kata Andrian yang kini tengah menjalani tugas belajar pasca sarjana di Cleveland State University, Ohio, Amerika Serikat dalam sebuah tulisannya.

Selain itu, menurut Andreas, kehadiran fintech seyogianya direspons dengan upaya kolaborasi dan bukan sebaliknya. Sebab sejatinya fintech pun masih membutuhkan kehadiran bank sebagai bagian dari sistem pembayaran dan lembaga intermediasi. Melalui pendistribusian API, berbagai produk dan layanan perbankan kepada publik serta menjalin hubungan yang baik dengan para pelaku fintech perlu menjadi perhatian. Sehingga diharapkan produk dan layanan perbankan akan sendirinya digunakan oleh konsumen sebagai pengguna akhir (end user). Tentunya dengan pemanfaatan kolaborasi (co-creation) semacam ini dapat meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi bank.

Kedua, mempersiapkan proses bisnis digital. Upaya mendigitalkan layanan dan produk perbankan tidak berhenti pada layanan di lini depan (front end). Namun demikian, perbankan perlu melakukan penyesuaian proses bisnis yang lebih efisien untuk mendukung proses bisnis digital di lini depan (front end). Penyesuaian proses bisnis tidak hanya terpaku pada otomasi proses manual namun harus lebih dari itu. Penyesuaian proses bisnis semestinya merekayasa ulang proses bisnis yang telah eksis atau dikenal dengan istilah business process reengineering sehingga menemukan solusi atas hambatan (bottleneck) atau mampu mempersingkat proses. Tentunya, upaya ini baru akan signifikan menaikkan produktivitas maupun efisiensi.

Ketiga, menciptakan customer experience dan operational excellence melalui pemanfaatan data. Era saat ini yang ditandai dengan perlengkapan yang terkoneksi dengan internet (Internet of Things) telah menciptakan sekumpulan data besar (Big Data) yang dapat dimanfaatkan dengan penciptaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Melalui proses ini diharapkan akan muncul produk dan layanan perbankan yang memberikan customer experience positif.

Sementara Asmawi Syam, Direktur Utama PT Askrindo, yang juga mantan Dirut Bank BRI menilai transformasi digital tidak sekedar menciptakan aplikasi, tetapi juga perlu device, dan jaringan. Dia mencontohkan langkah penguatan digitalisasi yang telah dimulai oleh BRI dengan meluncurkan satelit sendiri. “Ini supaya device dan aplikasi digital banking-nya bisa dirasakan nasabah, dan tentu bisa bersaing dengan fintech yang sudah mulai tumbuh pesat,” kata mantan Direktur Utama BRI ini.

Maka, ketika pelaku industri perbankan mengklaim telah siap dengan digitalisasi saat ini, Asmawi mempertanyakan sejauh mana kesiapan perbankan? Apa yang sudah dilakukan?Sebabnya, banyak pelaku industri perbankan bicara digital, tetapi sebatas menyiapkan aplikasi, tanpa memperkuat networking dan device-nya. BRI menurutnya, berani memilki satelit karena nyawanya di situ jiga ingin memenangkan persaingan di era digital. Apalagi kehadiran Fintech dengan layanan digitalnya tidak lagi sebatas gangguan, tetapu telah menjadi ancaman bagi perbankan.

Seperti dikatakan Direktur Penelitian dan Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Antonius Harie di dalam seminar bertajuk Pengembangan Manajemen Risiko dalam Menghadapi Era Digitalisasi di Indonesia Banking Expo 2017 silam.Kata dia, keberadaan fintech yang memanfaatkan teknologi, bisa mengancam perbankan dari segi bisnis. Jika bisnis terancam, maka bisa berdampak kepada pengurangan karyawan back office.

Kolaborasi

Sementara itu, Direktur Perencanaan & Operasional BNI, Bob Tyasika Ananta menyebut keberadaan fintech merupakan keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Untuk itu diperlukan kolaborasi sebab bank memiliki database dan platform, sedangkan fintech memiliki ide-ide yang kreatif.

Konsep fintech ialah mengadaptasi perkembangan teknologi yang dipadukan dengan bidang finansial yang diharapkan bisa menghadirkan proses transaksi keuangan yang lebih praktis, aman serta modern. Ada banyak hal yang bisa dikategorikan ke dalam bidang Fintech, diantaranya adalah proses pembayaran, transfer, jual beli saham, proses peminjaman uang secara peer to peer dan masih banyak lagi.

Semua layanan Fintech tersebut tersedia melalui aplikasi smartphone yang memungkinkan masyarakat dapat bertransaksi dengan sangat mudah. Tak hanya mampu menawarkan jasa keuangan tanpa harus ke kantor bank atau ATM, namun juga bertransaksi antarpengguna aplikasi dengan kode tertentu, termasuk menyimpan uang dalam bentuk uang elektronik dengan gimmick yang menarik.

Memang, sebenarnya fitur produk dan jasa semacam ini sudah terdapat di dalam layanan mobile banking atau internet banking yang disediakan bank, namun sayangnya belum terhubung secara langsung dengan kebutuhan utama masyarakat serta gimmick yang ditawarkan terhitung relatif konvensional.

Asosiasi FinTech Indonesia (AFTECH) mencatat pada akhir 2017 ada sekitar 235 pemain fintech di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 39 persen dari pelaku fintech bermain pada bisnis pembayaran, 32 persen pada fasilitas pinjaman, dan sisanya sebanyak 11 persen berasal dari sub sektor market provisioning, 11 persen dari manajemen investasi, 4 persen dari insurtech dan 3 persen dari equity capital raising.

Tentunya jumlah itu masih akan bertambah dengan melihat potensi yang masih terbuka. Potensi itu di antaranya bisa dilihat dai jumlah akun bank yang dimiliki masyarakat dewasa baru menyentuh 36 persen.Juga bisa dilihat dari nilai transaksi online yang dikenal dengan istilah gross merchandise volume (GMV) yang diprediksi oleh Oxford Business Group (The Report of Indonesia 2017) mencapai 3,7 miliar dollar AS (setara dengan Rp48 triliun) pada tahun 2016 dan akan menjadi 157 miliar dollar AS (setara Rp2.000 triliun) pada tahun 2025.

Jadi akan seperti apa respons perbankan nanti?

Babak Baru ‘Perang’ Bank vs Teknologi

Wed, 07 Mar 2018 - ‘Perseteruan’ bank dengan teknologi kali ini memasuki babak baru. 

Mengubah Mindset Regulator

Wed, 07 Mar 2018 - Bisnis inovatif seperti fintech memang harus direspons dengan aturan yang berimbang.

Kolaborasi Ketimbang Kompetisi

Wed, 07 Mar 2018 - Fintech bisa tumbuh dengan cepat memanfaatkan basis jaringan Bank.



Non Bank

PEFINDO Biro Kredit dan Trimegah Sekuritas Resmikan Perjanjian Keanggotaan

“Kami menyambut baik bergabungnya Trimegah Sekuritas

Indofood dan Anak Usaha Bagi-bagi Dividen

PT Indofood Sukses Makmur Tbk dan anak usahanya PT Indo

PMK 75/2011 Direvisi, LPDB KUMKM Bisa Langsung Biayai UMKM

"Selama ini kita hanya bisa membiayai skim pembiayaan u

Laba Bersih Bersih Sinarmas MSIG Life Tumbuh 49 Persen di 2017

Selain mengumumkan catatan pertumbuhan positif selama 2

Portofolio

Ini 57 Entitas Yang Aktivitasnya Dilarang Satgas Waspada Investasi OJK

Imbauan ini dikeluarkan mengingat entitas tersebut tida

Gandeng China Galaxy Securities, CIMB Awali Bisnis Pialang Saham di Asia

Usaha patungan berpeluang tumbuh untuk mendukung aktivi

Menkeu Berharap Pemda Manfaatkan Investasi untuk Bangun Daerah

Menkeu mencontohkan daerah Halmahera Utara dan Tabanan

Masyarakat Indonesia Mulai Minati Cryptocurrency

puluhan ribu masyarakat Indonesia diklaim telah mulai t

Interview

Pengamat Syariah: Dorongan Pemerintah Adalah Kunci

"Pemerintah itu harus ada inisiatif, misalnya proyek Rp

Tren Kendaraan Komersial Menurun

Harga komoditas global yangterus berada di level terend

Satelit adalah Kekuatan BRI

Jalan sejarah sedang ditapaki oleh Bank Rakyat Indonesi

Profesional Indonesia Berpotensi Pindah Negara

Pasar bebas ASEAN yang berlaku efektif awal tahun 2016

Riset

INDEF: Reformasi Agraria butuh Regulasi

payung hukumnya untuk membagikan kan harus ada. Payung

Tidak Merata, Pulau Jawa Dominasi Pertumbuhan Negara

Apabila sumber pertumbuhan dapat lebih tersebar maka ke

Inklusi Keuangan Meningkat Jadi 67,82 Persen

Indeks inklusi keuangan Indonesia meningkat pada angka

Tax Amnesty Berpotensi Masuki Jilid II

Tax amnesty itu diperpanjang katakanlah setahun lagi bi