Governance, Risk Management & Compliance

Musim Semi di Jazirah Arab

Rabu 11 Januari 2012 22:3:23

Gelombang perubahan yang menjalar di sejumlah negara kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara masih belum menghasilkan pemerintahan yang stabil. Pertumbuhan ekonomi pun ikut melambat sehingga berpotensi menimbulkan ketegangan sosial global. Oleh:

Gelombang perubahan yang menjalar di sejumlah negara kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara masih belum menghasilkan pemerintahan yang stabil. Pertumbuhan ekonomi pun ikut melambat sehingga berpotensi menimbulkan ketegangan sosial global.

Oleh: Ainur Rahman

 

Musim semi biasanya hanya ditandai dengan berseminya bunga-bunga dan segala jenis tetumbuhan atau binatang-binatang yang bermunculan kembali setelah berhibernasi di musim dingin. Juga biasanya hanya ditandai dengan siang hari yang lebih panjang dari pada malam hari serta udara yang terasa hangat karena menjelang musim panas.

Namun tidak dengan musim semi di jazirah Arab tahun lalu. The Arab Spring, menjadi pertanda adanya perubahan politik drastis di beberapa negara di kawasan Timur Tengah. Di Tunisia, musim yang juga disebut musim bunga itu, perubahan dimulai saat seorang pedagang bernama Muhammed Bouazizi membakar diri sebagai aksi unjuk rasa kepada pemerintah 17 Desember 2010.

Peristiwa itu kemudian menyulut demonstrasi besar-besaran di Tunisia menuntut perubahan politik dan reformasi ekonomi. Aksi bergelombang itupun akhirnya memaksa Presiden Zine El Abidine Ben Ali mundur dari jabatannya pada 14 Januari 2011 setelah 23 tahun berkuasa. Saat ini pemulihan kondisi ekonomi dan politik Tunisia masih dalam proses transisi.

Bagai api yang menyulut ilalang, apa yang terjadi di Tunisia itu merambat ke Mesir. Presiden Hosni Mubarak yang telah berkuasa selama 30 tahun pun akhirnya menyatakan mundur dari jabatannya pada 10 Februari 2011 setelah beberapa bulan digoncang aksi demonstrasi.

Penyebab yang terjadi di Libya mungkin agak berbeda, karena kemudian berubah menjadi pemberontakan bersenjata dan menghasilkan revolusi yang lebih mengenaskan. Presiden Libya Khadafi tewas di tangan para pemberontak bersenjata yang dibantu oleh negara barat.

Suriah dan Yaman kondisinya juga tidak bisa disebut tenang meski kedua negara itu berbeda dalam dampaknya bagi pemimpin negara. Sementara Suriah masih terus berjuang menenangkan gejolak dalam negerinya, Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh yang sudah berkuasa selama 33 tahun resmi turun dari jabatannya setelah menandatangani perjanjian transfer kekuasaan di Arab Saudi.

Tak pelak gejolak yang terjadi di semenanjung Arab dan Afrika Utara yang merupakan wilayah penghasil minyak bumi membuat seluruh dunia khawatir. Mesir dan Libya adalah dua negara dengan cadangan minyak yang termasuk 10 terbesar di dunia. Mesir dengan 18,3 miliar barel minyak yang merupakan tingkat tertinggi cadangannya selama 2009-2010 dan Libya sekitar 44 miliar barel yang baru akan habis sekitar 71 tahun lagi.

Maka dari itu banyak pihak yang sangat mengkhawatirkan jika kisruh yang meletup di kawasan itu akhirnya merembet ke Arab Saudi. Apa pasal? Negara dengan sistem pemerintahan monarki absolut itu merupakan negeri dengan cadangan minyak terbesar di kawasan Timur Tengah yaitu mencapai 267 juta barrel.

Tak heran, begitu kawasan tersebut bergolak pada awal 2011, harga minyak pun meningkat. Pada Februari harga minyak mentah mencapai 105 dollar AS per barrel tertinggi sejak 2008. Bahkan pada pertengahan tahun lalu harganya sempat mendekati 120 dollar AS meski pada akhir tahun harganya turun di kisaran110 dollar AS per barrel.

Kenaikan harga minyak juga terjadi di tengah upaya negara-negara Eropa untuk keluar dari krisis di kawasan tersebut yang mengancam tingkat permintaan minyak. Misalnya keputusan Perdana Menteri Italia Mario Monti yang mengumumkan penghematan anggaran senilai 30 miliar euro atau 40 miliar dollar AS.

Krisis utang Eropa juga telah menjungkalkan beberapa pemimpin di sana. Krisis telah memaksa Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi lengser, menyusul PM Yunani dan membuat tanda bahwa krisis makin memburuk.

Memburuknya perekonomian di kawasan Eropa juga disusul dengan melambatnya pemulihan ekonomi dan meningkatnya pengangguran di AS. Secara global, masalah ini jelas akan berpengaruh terhadap kondisi ekonomi internasional.

Menurut Kepala Departemen Informasi dan Humas Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) Angela Agoawike ketidakstabilan harga minyak mentah memang diakibatkan oleh situasi geopolitik di dunia Arab yang menurunkan produksi minyak.

Ancaman Ekonomi Dunia

Kondisi itu tentu tidak hanya akan berpengaruh kepada anggota OPEC atau negara-negara di kawasan Timur Tengah saja akan tetapi akan berdampak pada perekonomian dunia. Bahkan ekonomi dunia yang masih di bawah ancaman krisis Eropa akan mendapatkan tantangan baru yaitu krisis politik di Timur Tengah dan Afrika Utara.

Oleh karena itu wajarlah jika lembaga Dana Moneter Internasional (IMF) sampai menyiratkan dengan jelas kekhawatirannya akan adanya krisis tersebut.

Direktur Pelaksana (IMF) Christine Lagarde dalam sebuah kesempatan menghimbau kepada para pemimpin politik agar mengelola perubahan politik di Timur Tengah dan Afrika Utara supaya tidak menimbulkan ketegangan sosial secara global.

Sebab kondisi politik yang tidak stabil di Timur Tengah dan Afrika Utara sejalan dengan perlambatan ekonomi negara-negara pengimpor minyak di Eropa sehingga mendorong tingkat pengangguran yang sudah tinggi dan meningkatkan ketegangan sosial. “Ini secara alami sebuah periode yang berisiko dan tidak pasti,” kata Lagarde.

Kondisi politik dan ekonomi yang tidak pasti terjadi di sejumlah produsen minyak ditambah krisis utang di kawasan Eropa diperkirakan bakal mengganggu pemulihan dunia dan menyimpan potensi pelemahan baru ekonomi dunia.

Ketidakpastian politik dan melemahnya ekonomi di negara-negara maju pun membuat prospek pertumbuhan ekonomi negara di jazirah Arab suram. Dengan begitu, proses pemulihan ekonomi dunia pada 2012 nanti, akan jauh lebih melambat dari yang diperkirakan.

Indonesia diperkirakan juga akan terpengaruh akan kondisi tersebut lantaran produksi minyak masih sangat rendah, hanya sekitar 900.000 barel per hari, padahal pada 1999 masih sekitar 1,5 juta barel per hari. Di sisi lain kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri terus naik. Maka tak ayal kenaikan harga minyak dunia akan memberikan dampak negatif terhadap anggaran negara dan perekonomian nasional.

Akan tetapi Indonesia mungkin akan sedikit beruntung karena berdasarkan prediksi analis, pengamat, pemerintah dan Bank Indonesia, ekonomi nasional akan tetap tumbuh di kisaran 6 persen.

Tidak demikian halnya dengan negara-negara Timur Tengah. Lembaga donor internasional IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi negara-negara di Timur Tengah ini hanya sebesar 1,9 persen tahun ini. Angka ini menurun dari 2,3 persen dan menurun sangat tajam dari 2010 yang mencapai lebih dari 4 persen.

IMF memproyeksikan perekonomian Tunisia akan stagnan tahun ini. Tahun lalu, di bawah kepemimpinan Presiden Tunisa, Zine El Abedine Ben Ali yang kini sudah mundur, ekonomi Tunisa tumbuh 3,1 persen.

Penurunan juga diperkirakan terjadi untuk pertumbuhan ekonomi Mesir. Pasca lengsernya Presiden Hosni Mubarak, perekonomian negara dengan populasi terpadat kawasan Arab itu diproyeksikan tumbuh 1,2 persen. Angka itu jauh di bawah catatan pertumbuhan tahun lalu sebesar 5,1 persen.

Sementara perekonomian Libya, masih belum bisa diprediksikan akan membaik karena proses pemulihan ekonomi di sana hingga saat ini bahkan belum dimulai.

Nada pesimistis juga muncul untuk perekonomian Suriah yang diproyeksikan pertumbuhannya akan turun 2,0 persen. Padahal, tahun lalu pertumbuhan ekonomi Suriah dianggap cukup kuat. Perekonomian Yaman juga diperkirakan terkontraksi 2,5 persen menyusul aksi protes menuntut penggulingan Presiden Ali Abdullah Saleh.

Jadi apakah musim semi tahun ini akan memberikan pertanda yang lebih baik dari tahun sebelumnya atau hanya tanda-tanda yang biasanya terjadi? SP  



Non Bank

Bhinneka Life Gelar Literasi Keuangan untuk Guru Se-Yogyakarta

Mengajak peran serta para guru mata pelajaran ekonomi d

Mandiri Inhealth Tangani 447 Kasus di Asian Games 2018

Bukti dukungan Mandiri Inhealth dalam ajang Asian Games

OJK Temukan 182 Fintech dan 10 Entitas Penawaran Investasi Tanpa Izin

Jumlah peer to peer lendingtidak berijin yang ditemukan

Pendapatan Industri Asuransi Jiwa Melemah 22,9 Persen

Kendati demikian, secara total pendapatan industri asur

Portofolio

Ini 57 Entitas Yang Aktivitasnya Dilarang Satgas Waspada Investasi OJK

Imbauan ini dikeluarkan mengingat entitas tersebut tida

Gandeng China Galaxy Securities, CIMB Awali Bisnis Pialang Saham di Asia

Usaha patungan berpeluang tumbuh untuk mendukung aktivi

Menkeu Berharap Pemda Manfaatkan Investasi untuk Bangun Daerah

Menkeu mencontohkan daerah Halmahera Utara dan Tabanan

Masyarakat Indonesia Mulai Minati Cryptocurrency

puluhan ribu masyarakat Indonesia diklaim telah mulai t

Interview

Glen Alexander Winata: Utamakan Proteksi Nasabah, Komisi Pasti Mengikuti

Pada awalnya, kebanyakan agen asuransi pemikirannya sel

Pengamat Syariah: Dorongan Pemerintah Adalah Kunci

"Pemerintah itu harus ada inisiatif, misalnya proyek Rp

Tren Kendaraan Komersial Menurun

Harga komoditas global yangterus berada di level terend

Satelit adalah Kekuatan BRI

Jalan sejarah sedang ditapaki oleh Bank Rakyat Indonesi

Riset

INDEF: Reformasi Agraria butuh Regulasi

payung hukumnya untuk membagikan kan harus ada. Payung

Tidak Merata, Pulau Jawa Dominasi Pertumbuhan Negara

Apabila sumber pertumbuhan dapat lebih tersebar maka ke

Inklusi Keuangan Meningkat Jadi 67,82 Persen

Indeks inklusi keuangan Indonesia meningkat pada angka

Tax Amnesty Berpotensi Masuki Jilid II

Tax amnesty itu diperpanjang katakanlah setahun lagi bi