Governance, Risk Management & Compliance

Otak Atik Optimisme

Jumat 28 Februari 2014 14:47:52

Memang tidak ada yang pasti di atas bumi ini. Apalagi di Indonesia. Terutama soal kebijakan. Belum satu bulan, pemerintah telah memastikan akan mengubah sejumlah asumsi makro ekonomi dalam anggaran negara tahun ini. Perubahan asumsi makro ekonomi

Memang tidak ada yang pasti di atas bumi ini. Apalagi di Indonesia. Terutama soal kebijakan. Belum satu bulan, pemerintah telah memastikan akan mengubah sejumlah asumsi makro ekonomi dalam anggaran negara tahun ini. Perubahan asumsi makro ekonomi itu berkaitan dengan pelemahan nilai tukar rupiah yang konsisiten melampaui Rp12.000 per dollar AS sejak awal tahun ini. Seperti diketahui, asumsi kurs rupiah dalam APBN 2014 sebesar Rp10.500. Faktanya hingga kini posisi rupiah tidak pernah beranjak kurang dari Rp12.000. Perubahan asumsi itu tentu akan berdampak pada asumsi makro lainnya seperti inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Memang, pelemahan kurs rupiah berpotensi menggerak harga barang impor dan akan memicu revisi inflasi menjadi 5,5 persen tahun ini. Pengaruh depresiasi juga dapat mengerem konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah dan investasi, yang berisiko mengoreksi target pertumbuhan ekonomi 6 persen tahun ini. Memang di tengah kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian, banyak yang menilai wajar jika pemerintah ataupun lembaga dunia selalu mengubah-ubah asumsi ataupun target. Bahkan lembaga dunia semacam IMF atau World Bank, bisa mengganti asumsi dan target ekonomi dua kali dalam bulan yang sama, jika memang perkembangan dirasa sangat cepat berubah. Lalu apa yang harus dicermati oleh pemerintah dan dunia usaha dalam menghadapi ketidakpastian dunia ini. Pesan yang disampaikan dalam World Economic Forum (WEF) di Davos beberapa waktu lalu tentunya bisa dijadikan salah satu acuan untuk memperbaiki pelemahan ekonomi yang diperkirakan akan berlangsung di dunia. Tak terkecuali juga di negera berkembang termasuk Indonesia. Dalam pandangan terhadap situasi global, WEF melukiskan situasi dunia yang penuh risiko yang memiliki dampak sistemik, seperti yang terangkum dalam laporan Global Risk 2014. Setidaknya ada 10 risiko terbesar yang dihadapi dunia, di antaranya, krisis fiskal dinegara negara besar, tingkat pengguran tinggi, krisis air, ketimpangan pendapatan yang tinggi dan kegagalan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Risiko lainnya adalah, cuaca ekstrem, kegagalan govarnance global, krisis pangan, kegagalan mekanisme, serta instabilitas sosial dan politik. Tentunya, daftar risiko di atas akan saling terkait dan saling mempengaruhi satu negara dengan yang lain. Karena itu cara mengantisipasinyapun butuh kolaborasi global yang melibatkan pebisnis, pemerintah dan masyarakat luas. World Bank, seperti diketahui telah merevisi pertumbuhan ekonomi global dari 3 persen menjadi 3,2 persen pada 2014. Pertumbuhan ekonomi global itu dilatarbelakangi pertumbuhan ekonomi negara-negara maju seperti AS, negara-negara Eropa, dan Jepang setelah bertahan dari krisis keuangan global. Meskipun merevisi pertumbuhan ekonomi global, Bank Dunia tidak merevisi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2014 yang tetap pada angka 5,3 persen. Selain pertumbuhan ekonomi global, Bank Dunia juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Timur dan Pasifik pada 2014 masih sama seperti pertumbuhan pada 2013 sebesar 7,2 persen. Bank Dunia, dalam laporan terbaru mereka, menyebut proyeksi pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Timur dan Pasifik pada 2014 masih akan tetap dibanding tahun sebelumnya karena kawasan itu masih terkena dampak normalisasi akibat krisis keuangan global. Sementara itu, pemerintah tetap optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2014 sekitar 5,8 sampai 6,1 persen. Optimisme pemerintah didasari oleh kondisi domestik dan eksternal yang masih baik, meski ada risiko ketidakpastian global. Bahkan kata salah satu menteri, meski gejolak global akan memberi pengaruh negatif, namun pemerintah telah membuat berbagai langkah kebijakan untuk mengurangi dampak tersebut. Namun masalah tidak bisa lantas selesai dengan segala macam optimisme belaka. Dibutuhkan kerja keras di lapangan sebagai bukti. Selama ini, masyarakat sudah akrab dengan janji manis pemerintah yang berbungkus kata “optimisme, kondisi akan baik-baik saja, atau perekonomian kita masih kuat”. Akan tetapi yang terjadi seringkali sebaliknya.



Non Bank

Indofood dan Anak Usaha Bagi-bagi Dividen

PT Indofood Sukses Makmur Tbk dan anak usahanya PT Indo

PMK 75/2011 Direvisi, LPDB KUMKM Bisa Langsung Biayai UMKM

"Selama ini kita hanya bisa membiayai skim pembiayaan u

Laba Bersih Bersih Sinarmas MSIG Life Tumbuh 49 Persen di 2017

Selain mengumumkan catatan pertumbuhan positif selama 2

Untuk Kemudahan Nasabah, Sequis Life Luncurkan Aplikasi Polisku

Sequis Polisku yaitu aplikasi mobile dan website untuk

Portofolio

Ini 57 Entitas Yang Aktivitasnya Dilarang Satgas Waspada Investasi OJK

Imbauan ini dikeluarkan mengingat entitas tersebut tida

Gandeng China Galaxy Securities, CIMB Awali Bisnis Pialang Saham di Asia

Usaha patungan berpeluang tumbuh untuk mendukung aktivi

Menkeu Berharap Pemda Manfaatkan Investasi untuk Bangun Daerah

Menkeu mencontohkan daerah Halmahera Utara dan Tabanan

Masyarakat Indonesia Mulai Minati Cryptocurrency

puluhan ribu masyarakat Indonesia diklaim telah mulai t

Interview

Pengamat Syariah: Dorongan Pemerintah Adalah Kunci

"Pemerintah itu harus ada inisiatif, misalnya proyek Rp

Tren Kendaraan Komersial Menurun

Harga komoditas global yangterus berada di level terend

Satelit adalah Kekuatan BRI

Jalan sejarah sedang ditapaki oleh Bank Rakyat Indonesi

Profesional Indonesia Berpotensi Pindah Negara

Pasar bebas ASEAN yang berlaku efektif awal tahun 2016

Riset

INDEF: Reformasi Agraria butuh Regulasi

payung hukumnya untuk membagikan kan harus ada. Payung

Tidak Merata, Pulau Jawa Dominasi Pertumbuhan Negara

Apabila sumber pertumbuhan dapat lebih tersebar maka ke

Inklusi Keuangan Meningkat Jadi 67,82 Persen

Indeks inklusi keuangan Indonesia meningkat pada angka

Tax Amnesty Berpotensi Masuki Jilid II

Tax amnesty itu diperpanjang katakanlah setahun lagi bi