Governance, Risk Management & Compliance

Pasar Jasa Audit Belum Akan Berubah

Jumat 16 Desember 2011 20:50:7

Dominasi The Big Four di pasar jasa audit Indonesia belum tergoyahkan, dengan Ernst & Young tetap kokoh di puncak. Peraturan yang diterbitkan Februari 2011 lalu membuat mereka makin kuat menjejak pasar. Oleh : Lutfil Khakim  

Dominasi The Big Four di pasar jasa audit Indonesia belum tergoyahkan, dengan Ernst & Young tetap kokoh di puncak. Peraturan yang diterbitkan Februari 2011 lalu membuat mereka makin kuat menjejak pasar.

Oleh : Lutfil Khakim

 

Industri jasa audit keuangan telah berkembang pesat dalam beberapa dekade terakhir. Tak hanya di negara-negara yang secara ekonomi sudah maju, besarnya permintaan atas jasa audit juga merambah kawasan emerging market. Indonesia misalnya. Kemajuan pasar modal di kawasan tersebut berimbas pada kebutuhan perusahaan akan opini dan penilaian pihak ketiga. Salah satu yang memerlukannya adalah laporan keuangan perusahaan.

Perusahaan yang dimaksud di sini tentunya perusahaan publik. Memang, beberapa industri, perbankan misalnya, juga mensyaratkan hal tersebut. Namun menurut peraturan perundangan, perusahaan yang sudah go public itulah yang memang paling berkewajiban mencantumkan pernyataan auditor independen dari laporan keuangan mereka.

Bagi perusahaan yang sudah mencatatkan diri di bursa, men-disclose informasi yang bersinggungan dengan kepentingan publik merupakan sebuah keharusan. Di Indonesia, pasal 86 ayat 1a UU Pasar Modal No 8/1995 mensyaratkan emiten atau perusahaan publik untuk memberikan laporan secara berkala kepada Bapepam dan masyarakat.

Laporan berkala yang dimaksud adalah informasi reguler tentang kegiatan usaha dan keadaan keuangan emiten atau perusahaan publik. Bagi masyarakat (baca investor), laporan tersebut dibutuhkan untuk keputusan investasi. Salah satu laporan yang wajib mendapatkan opini auditor publik, dalam hal ini kantor akuntan publik (KAP), adalah laporan keuangan tahunan perusahaan.

Salah satu jasa yang diberikan KAP adalah atestasi. Mengutip Wikipedia, atestasi merupakan suatu pernyataan pendapat atau pertimbangan yang diberikan oleh pihak yang independen dan kompeten, yang menyatakan apakah asersi (assertion) suatu entitas sudah sesuai atau belum dengan kriteria yang telah ditetapkan. Asersi sendiri adalah suatu pernyataan yang dibuat oleh satu pihak yang dimaksudkan untuk digunakan oleh pihak lain, contoh asersi dalam laporan keuangan historis adalah adanya pernyataan manajemen bahwa laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.

Bagi KAP, pesatnya pertumbuhan pasar modal Indonesia merupakan sebuah berkah. Pasar modal yang tumbuh akan menarik banyak perusahaan untuk masuk bursa. Hal ini berarti makin besar pula pasar potensialyang bisa menjadi klien KAP. Dalam satu dekade terakhir, pasar modal nasional berhasil membukukan kinerja mengaggumkan. Dalam kurun waktu tersebut, total emisi saham dan obligasi korporasi telah meningkat dua kali lipat, yakni dari Rp263 triliun pada 2001 menjadi Rp539,71triliun pada awal November 2011. Sejak awal sejarah pasar modal Indonesia hingga saat ini, tercatat sudah 537 emiten yang melakukan emisi saham dan196 emiten yang melakukan emisi obligasi.

DOMINASI THE BIG FOUR

Dari total 420 emiten saham pada 2010, dominasi The Big Four di pasar jasa audit nasional belum tergoyahkan. Perhitungan pangsa pasar berdasarkan nilai aset klien menunjukan 81,11 persen dari total 420 aset emiten ditangani oleh The Big Four. Pangsa ini lebihrendah dibandingkan setahun sebelumnya yang mencapai 82,02persen.

Meski begitu, dari sisi jumlah emiten yang ditangani, klien The Big Four sebenarnya tidak begitu banyak. Total klien dari keempatnya hanya 36,19 persen pada 2010 dan 35,68 persen pada 2009. Meski begitu, klien mereka kebanyakan perusahaan-perusahaan beraset besar. KPMG misalnya. Meski hanya memegang 11 emiten, total aset klien KPMG mencapai Rp311 triliun atau 7,63 persen dari total. (lihat Grafik 1. Pangsa Pasar The Big Four di Bursa Efek Indonesia).

Istilah The Big Four mengacu pada empat kantor akuntan besar yang memiliki jaringan operasional global. Keempatnya adalah Deloitte Touche Tohmatsu, PricewaterhouseCoopers, Ernst & Young, dan KPMG. Dari segi pendapatan, keempatnyalah yang terbesar saat ini secara global.(lihat Grafik 2. Pemain Raksasa Global). The Big Four sendiri baru muncul sejak 2002, tepatnya setelah skandal Enron yang menghancurkan salah satu kantor akuntan raksasa, Arthur Andersen.

Mega merger yang terjadi pada awal era milenium kedua menandai konvergensi industri jasa audit global. Sebelumnya, hingga 1989, industri ini mengenal delapan kantor akuntan besar, yakni Arthur Andersen; Arthur Young & Co.; Coopers & Lybrand; Ernst & Whinney; Deloitte, Haskins & Sells; Peat Marwick Mitchell; Price Waterhouse; dan Touche Ross.

Peta industri kemudian berubah setelah Ernst & Whinney merger dengan Arthur Young membentuk Ernst & Young pada Juni 1989. Dua bulan kemudian menyusul aksi merger pemain besar lainnya, Deloitte, Haskins & Sells dengan Touche Ross membentuk Deloitte & Touche. Hampir satu dekade kemudian, tepatnya Juli 1998, giliran Price Waterhouse bergabung dengan Coopers & Lybrand membentuk PricewaterhouseCoopers. Dan skandal Enron yang menyeret Arthur Andersen dan menjadikannya bangkrut secara global menyisakan empat pemain raksasa global yang kini dikenal sebagai The Big Four.

Deloitte Touche Tohmatsu Limited, biasa disebut dengan Deloitte, merupakan perseroan terbatas swasta Inggris. Deloitte memiliki jaringan perusahaan-perusahaan anggota yang masing-masing merupakan badan hukum yang terpisah dan independen. Nama Deloitte Touche Tohmatsu diambil dari ketiga pendiri, yakni William Welch Deloitte, George Touche, danNobuzo Tohmatsu.

Dari segi pendapatan, Deloitte masih menjadi yang terbanyak dibandingkan tiga The Big Four lainnya. Deloitte berhasil membukukan pendapatan 28,80 miliar dollar AS pada 2011, naik 8,27 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut dihasilkan dari empat lini bisnis utamanya, yakni Consulting, Financial Advisory, Tax, dan Audit and Enterprise Risk Services (AERS). AERS memberikan kontribusi terbesar dengan 42,7 persen dari total pendapatan.

Saat ini jaringan Deloitte tersebar di 150 negara dengan 181,57 ribu karyawan. Jumlah karyawan ditargetkan bisa mencapai 250 ribu pada 2015. Di Indonesia, Deloitte diwakili oleh KAP Osman Bing Satrio & Rekan dan afiliasinya, yakni Deloitte Solusi Pajak dan PT Deloitte Konsultan Indonesia. Osman Bing Satrio & Rekan memiliki 30 mitra dengan lebih dari 800 karyawan. Di pasar modal Indonesia, khususnya untuk emiten saham, KAP ini memiliki 37 klien pada 2010 dengan total aset mencapai Rp288,18 triliun rupiah. Setahun sebelumnya, klien yang mereka tangani ada 36 emiten dengan total aset Rp237,34 triliun. Beberapa klien besar mereka misalnya Panin Bank, Berlian Laju tanker, Barito Pacific, dan Global Mediacom.

Raksasa kantor akuntan lainnya adalah PricewaterhouseCooper atau biasa disingkat PwC. Perusahan ini terbentuk dari hasil merger dua perusahaan: Price Waterhouse dan Coopers & Lybrand pada 1998. Pendapatan global PwC pada 2010 mencapai Rp27,47 miliar, naik 8,96 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Jaringan PwC saat ini sudah tersebar di 151 negara dengan 163 ribu karyawan.

Di Indonesia, partner PwC adalah KAP Tanudiredja, Wibisana & Rekan untuk jasa audit, PT Prima Wahana Caraka untuk konsultan perpajakan, dan PT PricewaterhouseCoopers Indonesia Advisory untuk jasa penasehat keuangan. Ketiganya biasa disebut dengan PwC Indonesia. PwC Indonesia merupakan salah satu pionir industri jasa audit di Indonesia. Cikal bakal PWC Indonesia, KAP Drs Tan Eng Oen berdiri pada 1938. Pada 2010,KAP Tanudiredja, Wibisana & Rekan menangani 25 emiten dengan total aset Rp1.094,61 triliun. Klien mereka bertambah 2 emiten pada 2009. Total aset keseluruhan klien pada 2009 mencapai Rp967,82 triliun. Mereka banyak menangani emiten-emiten yang termasuk index mover seperti Bank Mandiri, Bank CIMB Niaga, Astra Internasional, Telekomunikasi Indonesia, dan INCO.

Raksasa terbesar ketiga, Ernst &Young merupakan penguasa di Indonesia dengan pangsa pasar 39,52 persen pada 2010. Rekanan EY di Indonesia adalah KAP Purwantono, Suherman & Surja. Sebanyak 79 emiten mereka tangani dengan total aset mencapai Rp1.609,03 triliun. Jumlah tersebut lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang mana total asetnya Rp1.266,47 triliun dari 72 emiten. Beberapa bank besar nasional merupakan klien mereka, seperti BRI, BCA, BNI, BII, dan BTN.

EY yang ada seperti sekarang ini terbentuk dari serangkaian merger berbagai kantor akuntan yang telah mewarnai industri jasa audit global sejak 1849 hingga 1989. Saat ini jaringan EY tersebar di 140 negara dengan 151,84 ribu karyawan. Pendapatan global EY pada 2011 mencapai US$22,88 miliar, naik 7,6 persen dari tahun sebelumnya. Beberapa perusahaan besar yang masuk Fortune 1000 menjadi kliennya. Beberapa diantaranya seperti AOL Time Warner, Wal-Mart, Amazon.com, 3M, Oracle, McDonald’s, Google, Intel, Hewlett-Packard, Coca-Cola, dan Verizon.

Anggota The Big Four terakhir adalah KPMG. Menurut hasil riset konsultan tenaga kerja global, Universum, KPMG merupakan perusahaan yang paling menarik bagi pencari kerja nomor dua di dunia setelah Google. Riset pada 2010 tersebut melibatkan 130 ribu pelajar di seluruh dunia. Pada tahun sebelumnya KPMG berada diurutan ke-6.

Jaringan KPMG terbentuk sejak 1987, yakni dengan bergabungnya Peat Marwick International dan Klynveld Main Goerdeler. Saat ini KPMG telah beroperasi di 150 negara dengan 138 ribu karyawan. Pendapatan global KPMG pada 2010 mencapai US$20,63 miliar, naik 2,59 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Partner KPMG di Indonesia KAP Siddharta & Widjaja. KAP yang didirikan oleh Drs Basuki T Siddharta pada 1957 ini juga merupakan salah satu pionir industri jasa audit di Indonesia.KAP Siddharta & Widjaja memiliki pangsa pasar 7,63 persen pada 2010. Klien yang mereka tangani untuk emiten saham hanya 11 perusahaan saja. Meski begitu total asetnya mencapai Rp311,68 triliun. Beberapa klien mereka misalnya Bank Danamon, Bank Permata, Bank Mega, Gudang Garam, dan Bank Ekonomi Raharja.

Selain keempat KAP anggota The Big Four, beberapa KAP yang berpotensi memanaskan persaingan antara lain Tjiendradjaja & Handoko Tomo (Mazars), Mulyamin Sensi Suryanto (Moore Stephens), Aryanto, Amir Jusuf, Mawar & Saptoto (RSM Internasional), Tanubrata Sutanto Fahmi & Rekan (BDO Global Coordination), dan Tjahjadi, Pradhono & Teramihardja (Morison International). (Untuk lengkapnya lihat Tabel 2. Pemain Industri Jasa Audit Keuangan di Bursa Efek Indonesia).

Mazars Indonesia yang diwakili Tjiendradjaja & Handoko Tomo misalnya. Penerus Moores Rowland ini memegang hampir semua perusahaan di bawah Kelompok Bakrie. Total aset dari 12 emiten yang ditanganinya pada 2010 mencapai Rp257,87 triliun. Sementara Mulyamin Sensi Suryanto, dan Aryanto, Amir Jusuf, Mawar & Saptoto merupakan dua KAP yang memiliki jumlah klien lumayan banyak pada 2010, masing-masing 29 emiten dan 31 emiten.

Untuk sektor perbankan, meski dari persentase emiten bank terhadap total jumlah emiten sangat kecil, total aset bank mencapai lebih dari separuh aset seluruh emiten. Pada 2010, total aset dari 31 bank mencapai Rp2.355 triliun atau 57,87 persen dari keseluruhan aset 420 emiten. Persentase yang hampir sama terjadi pada 2009. Total aset dari 29 bank mencapai Rp1.907 triliun atau 57,37 persen dari keseluruhan aset 398 emiten. Karenanya, kantor akuntan publik yang memegang klien bisa dibilang lumayan beruntung.

KAP Purwantono, Suherman & Surja juga masih mendominasi di sektor perbankan ini. Dalam lima tahun terakhir, rata-rata pangsa pasarnya mencapai 60,96 persen. Pangsa pasar pada 2010 sebesar 51,82 persen. Dominasi mereka memang paling besar disumbangkan dari sektor ini. Total aset dari 8 emiten perbankan mencapai Rp1.220.40 triliun. Tanudiredja, Wibisana & Rekan (PwC) dan Siddharta & Widjaja (KPMG) masing-masing menangani 4 klien, namun dari total aset PwC menguasai 28,55 persen (Rp672,43 triliun) sementara KPMG 11,26 persen (Rp265,14 triliun). Terakhir, Deloittemenangani 3 emiten dengan total aset Rp113,18 triliun, atau 4,81 persen dari total aset emiten perbankan. (Lihat Tabel 1. Pangsa Pasar The Big Four di Emiten Perbankan Berdasarkan Aset Klien).

INDEPENDENSI DAN GOOD GOVERNANCE

Kondisi struktur pasar industri jasa audit di Indonesia terutama untuk klien dari emiten saham dan obligasi diperkirakan tidak akan banyak berubah untuk beberapa tahun mendatang. Peraturan baru tentang pembatasan penugasan jasa audit yang terbit Februari 2011 lalu malah bisa menguntungkan para anggota The Big Four.

Keputusan Ketua Bapepam-LK No 86/2011,yang merevisi keputusan Ketua Bapepam No 20/2002, menyebutkan KAP bisa memberikan jasa audit hingga 6 tahun buku berturut-turut. Masa penugasan ini lebih panjang dari peraturan sebelumnya yang mensyaratkan batas maksimal 5 tahun. Sementara untuk seorang akuntan masih sama seperti peraturan lama, yakni sampai 3 tahun buku berturut-turut.

Perubahan yang cukup signifikan dari peraturan baru adalah berkurangnya “masa iddah” dari KAP. Jika sebelumnya KAP tidak diperbolehkan melakukan audit klien yang sama sebelum jeda 3 tahun, kini diperingan hanya dengan masa jeda 1 tahun saja.

Perubahan tersebut bisa jadi akan memperpanjang hubungan kerja sama yang sudah terjalin selama ini. Selain itu, proses audit akan lebih efisien dan efektif. Dengan KAP yang masih sama, komunikasi auditor dan klien menjadi begitu mudah karena sudah terjalin sebelumnya. Namun yang perlu diwaspadai dari pelonggaran peraturan tersebut adalah melemahnya iklim kompetitif dalam industri jasa audit ini. Dan yang juga perlu dikhawatirkan adalah tercederainya semangat good governance yang sudah digalakan selama ini.

Jasa auditor keuangan merupakan salah satu profesi yang bisa digunakan untuk mendorong tegaknya prinsip-prinsip good governance. Jika menilik pada fungsi dan wewenang yang dimilikinya, profesi auditor keuangan (baca: akuntan) bisa menjadi motor pendorong implementasi Good Corporate Governance yang telah menjadi tren akhir-akhir ini. Prinsip-prinsip GCG diyakini bisa menjadi salah satu kunci sukses perusahaan untuk tumbuh dan menguntungkan dalam jangka panjang, sekaligus memenangkan persaingan bisnis global.

Lantas dengan pelonggaran batasan masa penugasan seperti peraturan baru tersebut, independensi dari akuntan publik sangat mungkin untuk berkurang. Makin lama masa hubungan berarti makin intim pula hubungan yang terjadi antara auditor dan klien. Keintiman ini pada akhirnya bisa menimbulkan konflik kepentingan dalam diri auditor. Kasus Arthur Andersen dalam skandal Enron bisa menjadi contoh.

Kolapsnya Bank Century (kini Bank Mutiara) pada November 2008 lalu juga patut ditelusuri. Bukannya menuduh adanya keterlibatan dari akuntan publik. Namun pandangan skeptis perlu dikemukakan saat auditor merevisi menjadi wajar dalam semua hal material. Sebelum kolaps, laporan keuangan Bank Century untuk tahun buku 2006 dan 2007 diaudit oleh auditor yang sama. Pendapat auditor untuk laporan keuangan 2006 meragukan kemampuan bank untuk merealisasikan aktiva produktif, yakni agunan tunai dan sertifikat deposito yang ditempatkan pihak ketiga. Pendapat tersebut kemudian direvisi setelah perusahaan memberikan bukti adanya kuasa atas pencairan untuk aktiva produktif tersebut. Hal ini mungkin saja karena begitu cerdiknya pihak manajemen perusahaan mengakali bukti. Namun faktanya, tujuh bulan setelah opini auditor keluar, Bank Century mesti diambil alih Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) per 21 November 2008.

Keintiman juga patut diwaspadai akan mencederai prinsip good governance saat auditor yang sama menangani beberapa perusahaan dalam satu grup. Kasus salah pencatatan akuntansi terkait simpanan sejumlah perusahaan Grup Bakrie di Bank Capital mungkin menarik diperbincangkan kembali. Tanpa berpretensi menuduh siapapun, lagi-lagi kita perlu berpikir skeptis bahwa apakah kasus pada 2010 tersebut hanya sekedar karena penerapan standar akuntansi?

Struktur pasar industri jasa audit belum akan berubah untuk beberapa tahun ke depan. Namun mungkin kita bisa berharap hasil survey Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) pada 2002 masih berlaku. Saat itu 32 persen responden menolak menggunakan jasa The Big Four karena biayanya lebih mahal dibanding KAP lainnya. Akan lebih menarik jika persentase reponden tersebut meningkat. Selain itu, independesi dan akuntabilitas KAP di luar The Big Four yang lebih rendah di mata investor dan kreditur sudah berubah menjadi lebih baik. Dengan begitu mungkin industri jasa audit akan lebih semarak dan berimbas pada perbaikan praktik good governance. SP

 



Non Bank

CIMB Niaga Persembahkan Film ‘Banda The Dark Forgotten Trail’

Film ini menuturkan ulang kisah sejarah Kepulauan Banda

Aset Jamkrindo Syariah Tumbuh 135 Persen

Aset JamSyar tumbuh 123 persen bila dibandingkan dengan

Zakat untuk UKM Dikembangkan

Zakat yang ditunaikan Jamkrindo Syariah menambah daftar

AAJI: Q1/2017 Pendapatan Industri Asuransi Jiwa Tumbuh 16,4 Persen

Total pendapatan premi merupakan kontributor terbanyak

Portofolio

Tradisi ‘Bendera Putih’ BEI

Lagi-lagi PT Bursa Efek Indonesia merevisi targetnya. K

Siap Go Private, Saham LAMI Dibuyback Pendirinya

BEI telah mengkonfirmasi bahwa sedikitnya dua emiten te

CIMB dan China Galaxy Jajaki Kerjasama Stockbroking

Dalam usaha patungan tersebut, kedua perusahaan yang te

AAEI Ajak Masyarakat Berinvestasi Saham

AAEI mengajak masyarakat agar tak ragu lagi untuk berin

Interview

Pengamat Syariah: Dorongan Pemerintah Adalah Kunci

"Pemerintah itu harus ada inisiatif, misalnya proyek Rp

Tren Kendaraan Komersial Menurun

Harga komoditas global yangterus berada di level terend

Satelit adalah Kekuatan BRI

Jalan sejarah sedang ditapaki oleh Bank Rakyat Indonesi

Profesional Indonesia Berpotensi Pindah Negara

Pasar bebas ASEAN yang berlaku efektif awal tahun 2016

Riset

INDEF: Reformasi Agraria butuh Regulasi

payung hukumnya untuk membagikan kan harus ada. Payung

Tidak Merata, Pulau Jawa Dominasi Pertumbuhan Negara

Apabila sumber pertumbuhan dapat lebih tersebar maka ke

Inklusi Keuangan Meningkat Jadi 67,82 Persen

Indeks inklusi keuangan Indonesia meningkat pada angka

Tax Amnesty Berpotensi Masuki Jilid II

Tax amnesty itu diperpanjang katakanlah setahun lagi bi