Governance, Risk Management & Compliance

Pengamat Sebut Investasi di Indonesia Masih Menarik

Selasa 16 Juni 2020 19:20:0

Kondisi fundamental yang baik membuat investor asing kembali melirik Indonesia.

JAKARTA, Stabilitas -- Hingga akhir Mei lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kinerja -24,54 persen sepanjang tahun ini. Sepanjang bulan Mei, IHSG melanjutkan rebound kembali dengan kenaikan tipis +0,79 persen dibanding pada bulan April.

Sementara kinerja pasar obligasi lebih unggul dibanding pasar saham di mana BINDO Index tercatat memiliki kinerja +1,38 persen sepanjang tahun ini dan +2,57 persen pada bulan Mei. Kenaikan nilai aset saham dan obligasi masih ditopang oleh relaksasi kebijakan moneter dari bank sentral serta stimulus fiskal yang masif dari hampir seluruh negara di dunia. Optimisme akan pembukaan kembali ekonomi setelah dicabutnya kebijakan karantina wilayah juga menambah sentimen positif di pasar keuangan.

Presiden Direktur Schroders Indonesia Michael T. Tjoajadi optimistis pasar saham akan kembali tumbuh pesat di tahun 2021 seiring dengan proyeksi membaiknya pertumbuhan ekonomi global. Menurutnya, dalam beberapa minggu terakhir bursa saham global mulai mengalami perbaikan didukung oleh sentimen positif dari pembukaan kembali negara-negara setelah masa karantina akibat covid-19.

Pasar masih akan berfluktuasi dalam beberapa bulan ke depan namun optimisme akan pengembangan vaksin covid-19 dan dimulainya kembali aktivitas perekenomian dan bisnis akan memberikan support untuk ekonomi dunia dan pasar.

"Dengan tatanan baru ini, ekonomi akan membaik di 2021, peluang investasi menjadi besar, karena kalau ekonomi membaik perusahaan akan membaik, ini yang kita lihat di 2021. Saat ini menjadi waktu yang tepat untuk berinvestasi. Ini memberikan confidence, nantinya capital market di negara emerging market seperti kita juga akan memberikan harapan untuk investasi," kata Michael saat Market Update online bersama Bank Commonwealth, hari ini, di Jakarta.

Pada kesempatan yang sama, Head of Wealth Management & Premier Banking Bank Commonwealth Ivan Jaya menyebutkan, jika dibandingkan stabilitas dan ketahanan ekonomi Indonesia saat ini dengan kondisi pada saat krisis sebelumnya, baik pada tahun 2008 maupun 1998, bisa dibilang jauh lebih baik. Sebagai contoh, inflasi saat ini yang stabil dan terjaga rendah di kisaran 3 persen (vs. 12 persen pada 2008 ; 82 persen pada 1998). Selain itu, cadangan devisa saat ini jauh lebih besar sehingga dapat dijadikan amunisi untuk menjaga stabilitas rupiah serta menahan laju pelemahan rupiah. Cadangan devisa Indonesia hingga akhir Mei berada pada level USD130,5 miliar (vs. $50 miliar pada 2008 ; $17 miliar pada 1998) atau setara dengan pembiayaan 8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Kondisi fundamental Indonesia yang cukup baik ini, lanjut Ivan, dapat membuat para investor asing kembali melirik Indonesia sebagai salah satu negara emerging market yang menjadi tujuan investasi. Pasar obligasi Indonesia saat ini menawarkan tingkat real yield yang cukup atraktif jika dibandingkan dengan negara emerging market lainnya yakni di sekitar 5,16 persen.

"Di sisi lain, pasar saham akan mendapatkan angin segar sejak mulai dibukanya kembali ekonomi di berbagai negara setelah karantina wilayah. Hal tersebut menandakan akan dimulainya pemulihan ekonomi dan bisa dijadikan momentum untuk berinvestasi jangka panjang,"jelas Ivan.

Meski demikian, volatilitas diperkirakan masih akan tinggi dalam beberapa bulan ke depan jika pandemi COVID-19 masih belum usai. Menurut Ivan, yang terpenting dilakukan investor di masa apapun terutama yang baik dilakukan dengan kondisi saat ini adalah diversifikasi aset.

Pada saat ini, Ivan menyarankan investor untuk menyesuaikan alokasi aset portofolionya. Untuk investor dengan profil risiko balanced direkomendasikan untuk sementara mengurangi porsi saham dan mengalihkan ke obligasi untuk menurunkan tingkat volatilitas portofolio, proporsi adalah 25 persen reksa dana saham, 40 persen reksa dana pendapatan tetap atau obligasi, 35 persen reksa dana pasar uang. Sedangkan untuk investor dengan profil risiko agresif idealnya memiliki portofolio yang terdiri dari 60 persen reksa dana saham, 25 persen reksa dana pendapatan tetap atau obligasi dan 15 persen reksa dana pasar uang, dan jangan lupa agar tetap aman investasi dari rumah saja melalui digital yaitu bisa dari internet atau mobile banking.



Non Bank

Menkeu Tetapkan Aturan Penjaminan untuk UMKM dalam Rangka PEN

Selain penjaminan, melalui PMK ini pemerintah juga memb

Menkeu Tetapkan Aturan Penempatan Uang Negara pada Bank Umum Mitra

Sri Mulyani menetapkan empat bank mitra untuk penempata

AAJI: Pembayaran Klaim Meningkat di Tengah Pandemi Corona

Pembayaran Total Klaim dan Manfaat naik sebesar 4,1%, y

Pengamat Sebut Investasi di Indonesia Masih Menarik

Kondisi fundamental yang baik membuat investor asing ke

Portofolio

Selidiki Kasus Jiwasraya, Internal BPK Dinilai 'Terbelah'

Yang menarik, langkah pelaporan yang ditempuh oleh Agun

Tawarkan SBN, PermataBank: Manfaatkan Potensi Reksadana dan ORI 017

Data riset Bank Permata soal kepemilikan asing pasar ob

Berharap Pada Prospek Saham BUMN

Saham-saham Bank BUMN seperti BRI, Mandiri, BNI dan BTN

Interview

Glen Alexander Winata: Utamakan Proteksi Nasabah, Komisi Pasti Mengikuti

Pada awalnya, kebanyakan agen asuransi pemikirannya sel

Pengamat Syariah: Dorongan Pemerintah Adalah Kunci

"Pemerintah itu harus ada inisiatif, misalnya proyek Rp

Tren Kendaraan Komersial Menurun

Harga komoditas global yangterus berada di level terend

Satelit adalah Kekuatan BRI

Jalan sejarah sedang ditapaki oleh Bank Rakyat Indonesi

Riset

INDEF: Reformasi Agraria butuh Regulasi

payung hukumnya untuk membagikan kan harus ada. Payung

Tidak Merata, Pulau Jawa Dominasi Pertumbuhan Negara

Apabila sumber pertumbuhan dapat lebih tersebar maka ke

Inklusi Keuangan Meningkat Jadi 67,82 Persen

Indeks inklusi keuangan Indonesia meningkat pada angka

Tax Amnesty Berpotensi Masuki Jilid II

Tax amnesty itu diperpanjang katakanlah setahun lagi bi