Governance, Risk Management & Compliance

Rancangan APBN 2014: Anggaran Untuk Ketidakpastian

Senin 25 Nopember 2013 6:16:24

Menyusun anggaran negara adalah seni, apalagi di tengah situasi ketidakpastian ekonomi seperti saat ini. Oleh karena itu, dalam beberapa tahun terakhir anggaran negara selalu direvisi di tengah jalan untuk menyesuaikan pada perubahan. Hal yang sam

Menyusun anggaran negara adalah seni, apalagi di tengah situasi ketidakpastian ekonomi seperti saat ini. Oleh karena itu, dalam beberapa tahun terakhir anggaran negara selalu direvisi di tengah jalan untuk menyesuaikan pada perubahan. Hal yang sama diperkirakan akan juga terjadi pada anggaran tahun depan.

Bulan lalu parlemen dan pemerintah menyepakati rancangan anggaran tahun depan. Di dalamnya pemerintah berasumsi bahwa kondisi ekonomi akan lebih baik dibanding tahun ini. Oleh karenanya pertumbuhan ekonomi ditetapkan sebesar 6,0 persen, inflasi 5,5 persen, dan nilai tukar Rp10.500.

Namun demikian, diperkirakan besaran-besaran itu akan direvisi kembali sebelum tahun 2014 berakhir. Seperti yang terjadi pada anggaran tahun ini, tahun lalu dan tahun sebelumnya. Apalagi asumsi yang disusun pada rancangan anggaran negara atau RAPBN itu didasarkan pada indikator-indikator ekonomi 2013 yang meleset.

Selain itu, situasi ekonomi global yang kian tak menentu juga tetapmenjadi ancaman serius target-targetekonomi yang dicantumkan dalam anggaran. Menteri Keuangan Chatib Basri mengakui hal itu. Menurut dia, ekonomi global masih menghadapi risiko pelemahan pada 2014 kendati diperkirakan lebih baik dibandingkan 2013. Pada 2014, masih terdapat potensi gejolak pada likuiditas global dan harga komoditas.

“Harus kita lihat juga di Timur Tengah ada gejolak geopolitik. Konflik di Suriah, apa yang terjadi di Mesir. Kita berada di kondisi dunia yang tidak pasti,” ujar Chatib.

Kondisi tersebut telah membuat asumsi makro pada 2013 meleset dari asumsi APBN-P 2013 dan berdampak pada perlunya dilakukan penyesuaian asumsi dasar makro RAPBN 2014.

Hal itu pula yang berpotensi memaksa pemerintah mengubah kembali asumsi makro pada 2014.

Berdasarkan laporan Panitia Kerja (panja) Asumsi Dasar RAPBN 2014, perekonomian masih akan menghadapi risiko tahun depan meski pada akhirnya kondisinya akan lebih baik.

Risiko yang dimaksud antara lain masih ada gejolak likuiditas global dan gejolak harga komoditas di pasar internasional.

Namun, Panja menegaskan bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi 2014. Ini terutama disebabkan ada bonus demografi serta ada pemilihan umum anggota legislatif dan pemilihan presiden.

Neraca perdagangan yang mulai membaik juga menjadi faktor pendorong pertumbuhan. “Ini karena kinerja ekspor berangsur-angsur pulih seiring perbaikan permintaan pasar global,” tulis laporan itu.

Faktor lain adalah peningkatan investasi, terutama oleh sumber-sumber domestik, dan inflasi yang kembali ke level normal. Dari sisi sektoral, pertumbuhan ekonomi terutama akan disumbang oleh sektor industri pengolahan sebesar 1,6 persen, sektor perdagangan-hotel-restoran 1,3 persen, serta sektor transportasi dan komunikasi 1,1 persen. Sementara sektor pertanian menyumbang 0,4 persen.

Terlalu Optimis

Sementara itu sebagian pengamat mengatakan pemerintah terlampau berani menempatkan besaran-besaran ekonomi pada RAPBN tahun depan padahal perekonomian global masih tidak stabil.

Salah satunya datang dari, pengamat ekonomi Agustinus Prasetyantoko yang menilai, asumsi pertumbuhan ekonomi 6 persen terlalu optimistis. Alasannya, semua sumber pertumbuhan ekonomi diperkirakan melambat tahun depan.

“Pemerintah punya kepentingan memberikan optimisme meski realitasnya berat. Namun, mestinya memang harus realistis. Saat ini perusahaan-perusahaan sedang menyusun rencana bisnis ke depan. Jadi, memang harus hati-hati dalam menentukan asumsi,” kata Prasetyantoko yang juga dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya, Jakarta.

Investasi sebagai sumber pertumbuhan terbesar setelah konsumsi rumah tangga, menurut doktor ekonomi dari Ecole Normale Superieure (ENS) Lyon, Perancis ini, akan turun pada tahun 2014. Ini menjadi konsekuensi kebijakan pengetatan likuiditas saat transaksi perdagangan defisit.

Dia juga menyoroti, kebijakan BI yang mematok suku bunga menjadi 7,25 persen akan menurunkan pertumbuhan kredit. Dampaknya baru akan berasa mulai triwulan terakhir tahun ini sampai sepanjang tahun 2014.

Hal ini tercermin pada proyeksi BI tentang pertumbuhan kredit pada tahun 2014 sebesar 15,3 persen-16,6 persen. Angka ini lebih rendah ketimbang pertumbuhan kredit tahun ini, yang diproyeksikan sekitar 20 persen.

Sementara pertumbuhan konsumsi rumah tangga, Prasetyantoko memperkirakan akan stagnan. Sumbangan kegiatan pemilihan umum bagi konsumsi rumah tangga tidak akan besar. Adapun ekspor diduga belum akan pulih.

“Maka dugaan saya, pertumbuhan tahun 2014 berkisar 5,5 persen-5,8 persen,” ujar Kepala ekonomi PT Bank Tabungan Negara Tbk ini. Sedangkan menurut pengamat ekonomi Faisal Basri, semua tekanan terhadap perekonomian Indonesia sudah mencapai puncak pada tahun 2013. Hal itu diantaranya tekanan pada kurs rupiah, inflasi, suku bunga, serta neraca perdagangan dan transaksi berjalan. Dengan kalimat yang lebih terang Faisal seolah ingin menyimpulkan bahwa perekonomian Indonesia pada tahun 2014 cenderung lebih baik.

BI sudah memproyeksikan inflasi akan berada pada angka 9 - 9,8 persen tahun ini dan angkanya akan turun menjadi ke 5,5 persen tahun depan. Namun, ekonom UI yang pernah mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI Jakarta itu memperkirakan inflasi bakal berada di bawah asumsi tersebut. Sementara suku bunga acuan, menurut Faisal, akan diturunkan pada kisaran 6 persen.

Di pihak lain, Bank Indonesia meramalkan pertumbuhan ekonomi di tahun depan akan membaik meski terjadi perubahan landscape ekonomi dunia. Pemulihan ekonomi global bakal ditopang dari pertumbuhan kinerja sektor keuangan, termasuk perbankan.

Gubernur BI, Agus Martowardojo mengatakan, perubahan landscape ekonomi yang justru akan memperkuat negara-negara maju menjadi tantangan perekonomian nasional pada 2014.

“Pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan baik, tapi landscape ekonomi bergeser. Negara maju semakin kuat, tapi kita harus bisa meninggalkan stimulus ketika ekonomi Amerika Serikat (AS) mengalami penguatan,” ujar pada seminar Outlook 2014 beberapa waktu lalu.

BI memproyeksikan ekonomi Indonesia akan bertumbuh pada kisaran 5,8 - 6,2 persen pada tahun depan. Patokan tersebut akan ditopang dari kinerja ekspor karena perbaikan ekonomi. “Permintaan domestik meningkat karena daya beli dan pendapatan masyarakat naik. Juga dibarengi dengan penurunan inflasi serta kontribusi dari penyelenggaraan pemilu 2014, serta harga pangan terkendali,” kata BI.

Untuk tahun ini, BI mengarahkan perbankan untuk menyesuaikan laju pertumbuhan kredit dari 23 persen menjadi 20 persen. Anjuran ini dianggap rasional dengan kebutuhan riil sektor ekonomi tertentu dan ketahanan permodalan di Indonesia. “Tapi kami tetap membuka kesempatan untuk bank lain supaya tumbuh secara alami sebesar 20 persen. Namun tetap harus memperhatikan tingginya nilai impor supaya bisa mengurangi defisit transaksi berjalan,” ujarnya.

Selain itu BI juga akan tetap mengarahkan inflasi ke level yang paling optimal bagi perekonomian agar tetap bisa menarik investasi. Inflasi yang terkendali membuat daya beli masyarakat meningkat. “Kondisi ini mendorong perekonomian domestik,” jelas Agus. Pertumbuhan ekonomi tahun 2014, kata mantan Menteri Keuangan ini, masih ditopang kinerja ekspor menyusul membaiknya ekonomi global. Selain itu, daya beli masyarakat meningkat dan inflasi yang terjaga juga mendorong ekonomi.

Agus mengungkapkan, beberapa tantangan ekonomi akan dihadapi Indonesia pada tahun 2014 mendatang. Menurutnya, meski ada sedikit pencerahan dari perekonomian global, namun bukan berarti tantangan akan dilewati dengan mudah. “Tahun 2014 diproyeksikan tantangan ekonomi tidaklah ringan,” papar Agus.

Ekonomi global yang membaik akan lebih ditopang oleh negara-negara maju yang telah membaik. Ini merupakan bentuk pondasi perekonomian yang baru dan dipastikan berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya. “Negara maju akan menopang pertumbuhan ekonomi dunia,” terangnya.

Sementara dari kondisi domestik, menurut Agus yang perlu menjadi perhatian adalah kestabilan ekonomi. Kesalahan yang terjadi pada dua tahun terakhir menurutnya menjadi evaluasi. “Arah kebijakan BI akan tetap melakukan penyelesaian kebijakan dengan fokus ke stabilitas,” ujarnya.

Seperti mendorong pertumbuhan ekonomi yang harusnya dapat dilakukan dengan arah yang lebih sehat. Kinerja ekspor akan menjadi andalan untuk mencapai hal tersebut.

“Pertumbuhan ekonomi akan membaik dalam kisaran 5,8 persen-6 persen. Ditopang kinerja ekspor akibat perbaikan ekonomi global,” ucapnya. Ia menghimbau para pelaku sektor keuangan agar tetap selalu waspada dan bergerak dengan penuh kehati-hatian. Ini penting untuk menghindari risiko yang dimungkinkan terjadi. “Kami menghimbau pelaku sektor keuangan agar dapat mencermati dengan baik. Agar menghindari risiko yang dapat terjadi pada tahun mendatang,” pinta Agus.



Non Bank

OJK Keluarkan Kebijakan Stimulus Lanjutan Bagi IKNB

Penyesuaian Pelaksanaan Teknis Pemasaran PAYDI Dan Kebi

Kredit Kuartal I CIMB Niaga Finance Tumbuh 52%

Kredit atau pembiayaan yang disalurkan CIMB Niaga Finan

Allianz Life Indonesia Perkenalkan Asuransi Jiwa Unit Link Terbaru

Sampai 2019 produk asuransi jiwa unitlink masih mendomi

Portofolio

Berharap Pada Prospek Saham BUMN

Saham-saham Bank BUMN seperti BRI, Mandiri, BNI dan BTN

Mandiri Sekuritas Permudah Proses Pembukaan Rekening Efek

Mandiri Sekuritas mendorong masyarakat berinvestasi di

Kemenkeu Terbitkan SUN dengan Tenor 50 Tahun

SUN tersebut diterbitkan guna memenuhi kebutuhan pembia

Interview

Glen Alexander Winata: Utamakan Proteksi Nasabah, Komisi Pasti Mengikuti

Pada awalnya, kebanyakan agen asuransi pemikirannya sel

Pengamat Syariah: Dorongan Pemerintah Adalah Kunci

"Pemerintah itu harus ada inisiatif, misalnya proyek Rp

Tren Kendaraan Komersial Menurun

Harga komoditas global yangterus berada di level terend

Satelit adalah Kekuatan BRI

Jalan sejarah sedang ditapaki oleh Bank Rakyat Indonesi

Riset

INDEF: Reformasi Agraria butuh Regulasi

payung hukumnya untuk membagikan kan harus ada. Payung

Tidak Merata, Pulau Jawa Dominasi Pertumbuhan Negara

Apabila sumber pertumbuhan dapat lebih tersebar maka ke

Inklusi Keuangan Meningkat Jadi 67,82 Persen

Indeks inklusi keuangan Indonesia meningkat pada angka

Tax Amnesty Berpotensi Masuki Jilid II

Tax amnesty itu diperpanjang katakanlah setahun lagi bi