Governance, Risk Management & Compliance

Robby Djohan ‘Saya Tahu Kapan Harus Berhenti’

Sabtu 4 Juni 2016 16:6:0

Dan kini, bankir yang kenyang makan asam garam industri perbankan, dengan segala keberhasilan dan kegagalannya itu, telah tiada. Namun demikian, warisan yang dia tinggalkan tidak hilang, terlihat dari puluhan bankir senior yang mengantar kepergiannya pad

Ketika membicarakan bankirbankir hebat di Indonesia, tidak sah kiranya kalau tidak membicarakan Robby Djohan. Nama itu begitu melekat dalam jajaran bankir-bankir yang pernah ada di Indonesia, bahkan tidak berlebihan jika disebut Robby adalah yang terhebat. Di kalangan bankir-bankir seangkatannya, Robby sering dipanggil Rodjo yang merupakan kependekan dari namanya. Sebagian juga ada yang mem- ‘plesetkan’-nya sebagai Raja. Robby memang seperti raja saat masa-masa keemasannya.

Tidak ada yang berani mendebatnya dalam urusan pilihan kebijakan saat dia dipercaya menjadi pimpinan di sebuah perusahaan. Dan, Jum’at, 13 Mei lalu, ‘Sang Raja’ telah berpulang. Bankir kelahiran Semarang 77 tahun silam itu meninggal karena serangan jantung. Namun demikian, Robby adalah sosok penting dalam perkembangan industri perbankan, bahkan dia merupakan sejarah industri perbankan itu sendiri. Pada saat belum ada bankir lokal yang bisa berkarier di Citibank, Robby malah memulai kariernya dan membangun fondasi kebankirannya di sana.

Ketika menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Ekonomi Universitas Padjajaran pada 1967, awalnya Robby ingin mengembangkan minatnya dalam berdagang. Sebab dia merasa punya bakat itu. Namun, ayahnya, Djapoet Djohan, tak merestui keinginan itu. Dia pun menuruti ayahnya untuk mengirimkan lamaran ke Bank Indonesia dan Bank BNI 46. Namun lamaran yang dikirimkannya tidak mendapat respon.

Lalu atas desakan sang ayah pula, Robby yang saat itu berusia sekitar 29 tahun melamar ke American Express (AMEX) dan First National Citibank (FNCB), dua bank asing yang baru membuka cabangnya di Indonesia pada 1967. Kedua bank asal AS itu menerimanya, namun Robby muda lebih memilih untuk memulai kariernya di Citibank. Menurutnya Citi sangat baik dalam soal pendidikan dan pengembangan karier.

Perhatian Robby pada pengembangan diri sebagai pegawai telah muncul saat memilih bank itu sebagai tempat berlabuh yang pertama. Dan di sinilah jalan sejarah mulai diretasnya.

Landasan Profesional

Robby memulai kariernya di Citibank dari bagian umum, menangani penerimaan barang-barang yang baru datang dari luar negeri di bandara. Karena kemampuan bahasa Inggrisnya yang bagus, kariernya menanjak. Hanya dua bulan di bagian umum dia kemudian dialihkan ke bagian akunting.

Di tugas barunya ini, tugas Robby bertanggung jawab menyortir surat, dokumen dan barang yang masuk. Saat itulah, dia menemukan sebuah laporan ekonomi yang diterbitkan Citibank yaitu Monthly Economic Letter, namun tidak menemukan analisis mengenai ekonomi Indonesia. Kemudian dia berinisiatif untuk membuat analisis soal perekonomian Indonesia seperti yang ada di laporan tersebut. Begitu selesai menulis analisis, dia lalu mengirimkan hasilnya kepada atasan. Tulisannya kemudian dibaca atasannya yang lalu mengirimkannya ke kantor pusat Citibank di AS.

Tak disangka, manajemen senang dengan apa yang dilakukan Robby, dan kebetulan analisis ekonomi soal Indonesia saat itu belum ada. Mulai saat itu, analisis ekonomi Indonesia muncul dalam Monthly Economic Letter milik Citibank. “Sejak itu karier saya makin meroket,” kata Robby. Menurut dia, Citibank sangat menghargai inisiatif pegawainya dan menilai lebih pegawai yang melakukan sesuatu di luar tugas yang diembannya. Manajemen Citibank kemudian mencantumkan nama Robby untuk mengikuti Executive Development Program (EDP) Citibank. Robby merupakan orang Indonesia pertama di program itu saat itu. Dalam waktu sembilan bulan, dia mempelajari semua bidang mulai dari masalah kredit, operasi pemasaran dan sebagainya dan belajar langsung dari kepala bagiannya masingmasing.

Setelah lulus, kariernya melesat. Dalam waktu kurang lima tahun dia telah memegang Group Individual Banking, travel cheques dan high net worth individual. Kariernya semakin meningkat ketika 1974 disekolahkan selama enam bulan di Manila. “Dapat saya katakan Citibank telah membangun fondasi saya sebagai profesional,” kata Robby saat menerima redaksi Stabilitas dalam wawancara empat tahun silam. Saat usianya 38 tahun, ada rasa gundah menghantui Robby yang ketika itu masih berada di Citibank.

Menurutnya, kariernya saat itu sudah mentok. Saat Robby memutuskan mundur dari Citi ada dua tawaran yang menantinya. Pertama sebagai agen pada Bank Dagang Negara (BDN) dan kedua sebagai Direktur Bank Niaga. Robby kemudian memilih Bank Niaga karena bank itu adalah bank pribumi yang kecil dan apabila nantinya bank itu bisa besar maka andilnya akan sangat menonjol.

Sejak tahun 1976, kariernya dimulai dengan ditunjuk sebagai general manager untuk Jakarta. Yang dilakukannya saat itu adalah dengan fokus pada retail banking dan bisnis orang-orang Tionghoa. Robby juga berhasil membina hubungan kembali Bank Niaga dengan Citibank yang saat itu sempat terputus melalui
koneksinya yang kuat di Citibank. Dan fokus bisnisnya pada retail banking dan pebisnis Tionghoa tak lepas dari masukan Citibank.

Setelah satu tahun berjalan dia lalu dipercaya memegang jabatan direktur untuk urusan semua cabang yang ada di Jakarta. “Saya yang memang dipersiapkan oleh Idham (Direktur Niaga saat itu) untuk menggantikannya,” kata Robby.

Sewaktu menjabat sebagai Dirut Bank Niaga tahun 1984 seperti momentum buat Robby untuk mengaplikasikan visinya dalam membangun bank. Dia memulai proyek pengembangan sumber daya manusia (SDM) di internal Bank Niaga. Hasilnya dalam waktu relatif singkat, bank itu menjadi yang terdepan dalam mencetak bankir-bankir handal namun tetap mencatatkan kinerja bisnis yang kinclong. Malahan tidak sampai lima tahun, Bank Niaga dibawanya menjadi bank swasta terbesar kedua setelah BCA. Padahal sewaktu dia bergabung, tiada yang memperhitungkan bank itu. Memimpin Mega Merger

Tampaknya itu bukan akhir cerita perjalanan karier Robby. Pada 1999, setelah Indonesia menandatangani perjanjian dengan IMF yang saat itu menekankan liberalisasi dan efisiensi pasar, Robby diminta memimpin mega merger bank milik negara. Saat itu empat bank pemerintah yaitu Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Ekspor-Impor Indonesia, dan Bappindo diminta untuk digabung menjadi Bank Mandiri. Awalnya Robby enggan menerima tawaran tersebut. Sebab saat itu usianya sudah 61 tahun dan pikirnya, itulah waktunya untuk memikirkan pensiun.

Namun desakan dari Presiden BJ Habibie dan Menteri Keuangan Marie Muhammad, waktu itu, membuat dirinya tertantang. Secara resmi Robby ditunjuk memimpin mega merger Bank Mandiri. Ketika bertemu dengan Presiden, Robby menyampaikan bahwa legal merger harus segera dilakukan dengan cepat dan kredit macet yang jumlahnya sangat besar itu harus segera direstrukturisasi.

Robby mengatakan bahwa sejak awal dirinya hanya ingin melaksanakan merger, merestrukturisasi dan merekapitalisasi bank-bank tersebut. Setelah itu, Bank Mandiri harus dijalankan oleh tenaga muda yang profesional, baik dari internal maupun dari luar. Ketika itu, yang ada dalam pikirannya hanya melakukan tiga tugas pokok dan mencari beberapa kandidat yang akan memimpin Bank Mandiri. “Bagi saya tugas di Bank Mandiri sematamata karena alasan national service,” kata dia.

Keempat bank itu masing-masing merugi Rp2 triliun setiap bulan. Maka langkah penting adalah dengan merekapitalisasi dengan jumlah yang sangat besar. Tidak hanya itu, masalah yang dihadapi juga berasal dari karyawan yang pasca merger berjumlah sekitar 26 ribu orang. Maka setelah merestrukturisasi kredit, Robby mengorganisasikan ulang Bank Mandiri. Jumlah cabang dikurangi 194 buah. Karyawannya dipangkas dari 26.600 menjadi 17.620 orang. Selain itu, Bank Mandiri berhasil mengimplementasikan core banking system baru yang terintegrasi menggantikan core banking system legacy yang terpisah. Singkat cerita, sampai Robby lengser pada tahun 2000, bank tersebut telah berjalan tegak dan berhasil mencatat laba Rp 1,8 triliun. Ketika ECW Noeloe masuk menggantikan dia menjadi nakhoda

Bank Mandiri, bank itu kemudian agak oleng. Ketika ditanyakan apakah hal itu membuatnya menyesal, Robby mengatakan, “Tidak, saya tidak lagi memikirkan Bank Mandiri, Bank Niaga dan Garuda. Saya hanya pikirkan anak sama bini saya. Emosi saya pada mereka. Saya ditawari jadi Presiden Komisaris di Bank Niaga, saya tidak mau. Demikian juga di Bank Mandiri. Saya harus tahu kapan harus berhenti. Jangan emosi pada jabatan, gedung. Harus emosi pada istri dan anak anak kamu,” kata dia.

Dan kini, bankir yang kenyang makan asam garam industri perbankan, dengan segala keberhasilan dan kegagalannya itu, telah tiada. Namun demikian, warisan yang dia tinggalkan tidak hilang, terlihat dari puluhan bankir senior yang mengantar kepergiannya pada Jum’at itu.


Non Bank

Presiden Jokowi: Pengembangan Ekonomi Digital Butuh Kebijakan yang Akomodatif

Pengaturan yang akomodatif menjadi semakin penting, aga

Bhinneka Life Gelar Literasi Keuangan untuk Guru Se-Yogyakarta

Mengajak peran serta para guru mata pelajaran ekonomi d

Mandiri Inhealth Tangani 447 Kasus di Asian Games 2018

Bukti dukungan Mandiri Inhealth dalam ajang Asian Games

OJK Temukan 182 Fintech dan 10 Entitas Penawaran Investasi Tanpa Izin

Jumlah peer to peer lendingtidak berijin yang ditemukan

Portofolio

Ini 57 Entitas Yang Aktivitasnya Dilarang Satgas Waspada Investasi OJK

Imbauan ini dikeluarkan mengingat entitas tersebut tida

Gandeng China Galaxy Securities, CIMB Awali Bisnis Pialang Saham di Asia

Usaha patungan berpeluang tumbuh untuk mendukung aktivi

Menkeu Berharap Pemda Manfaatkan Investasi untuk Bangun Daerah

Menkeu mencontohkan daerah Halmahera Utara dan Tabanan

Masyarakat Indonesia Mulai Minati Cryptocurrency

puluhan ribu masyarakat Indonesia diklaim telah mulai t

Interview

Glen Alexander Winata: Utamakan Proteksi Nasabah, Komisi Pasti Mengikuti

Pada awalnya, kebanyakan agen asuransi pemikirannya sel

Pengamat Syariah: Dorongan Pemerintah Adalah Kunci

"Pemerintah itu harus ada inisiatif, misalnya proyek Rp

Tren Kendaraan Komersial Menurun

Harga komoditas global yangterus berada di level terend

Satelit adalah Kekuatan BRI

Jalan sejarah sedang ditapaki oleh Bank Rakyat Indonesi

Riset

INDEF: Reformasi Agraria butuh Regulasi

payung hukumnya untuk membagikan kan harus ada. Payung

Tidak Merata, Pulau Jawa Dominasi Pertumbuhan Negara

Apabila sumber pertumbuhan dapat lebih tersebar maka ke

Inklusi Keuangan Meningkat Jadi 67,82 Persen

Indeks inklusi keuangan Indonesia meningkat pada angka

Tax Amnesty Berpotensi Masuki Jilid II

Tax amnesty itu diperpanjang katakanlah setahun lagi bi