Governance, Risk Management & Compliance

Spirit Sejati Social Entrepreneur

Senin 14 Nopember 2011 22:5:30

Gerakan social entrepreneur dinilai dinilai lebih ideal ketimbang program corporate social responsibility (CSR). Selain karena gerakan tersebut akan berkesinambungan karena didorong oleh kegiatan bisnis, tujuan pemberdayaan rakyat pada gerakan soc

Gerakan social entrepreneur dinilai dinilai lebih ideal ketimbang program corporate social responsibility (CSR). Selain karena gerakan tersebut akan berkesinambungan karena didorong oleh kegiatan bisnis, tujuan pemberdayaan rakyat pada gerakan social entrepreneur lebih kental. Meski demikian tidak semua program CSR hanya dilakukan menggugurkan kewajiban.

 

Oleh: Syarif Fadilah

 

Kondisi bisnis selalu berubah, dan pebisnis adalah pihak yang pertama kali tahu akan perubahan itu, jika tidak, maka dia akan tergilas persaingan. Pebisnis adalah jenis manusia yang selalu siap dengan perubahan bahkan pakar manajemen sekelas Rhenald Kasali berani mengatakan “Berubah atau Mati” dalam sebuah bukunya.

Beberapa periode belakangan mulai mencuat tuntutan kepada para pengusaha dan perusahaan-perusahaan agar tidak lagi menomorsatukan motif ekonomi yang akhirnya mengorbankan kehidupan sosial. Tuntutan tersebut kian berkembang hingga akhirnya kini muncul kewajiban agar perusahaan memiliki tanggung jawab sosial di samping mencari keuntungan. Kewajiban itu bernama tanggung jawab sosial atau corporate social responsibility (CSR).

Akan tetapi penerapan CSR yang sudah diwajibkan dalam undang-undang perseroan terbatas pada 2007 itu tetapi memiliki loopholes. Menurut beberapa kalangan pegiat sosial, program atau bantuan yang dilakukan karena suatu kewajibkan, biasanya akan dilakukan sekedar menggugurkan kewajiban. Program itu akan dianggap selesai jika sudah dilaksanakan. Dengan kata lain, kesinambungan program dan juga tingkat kegunaannya bukanlah ukuran yang penting.

Kemudian timbul apa yang dinamakan social entrepreneur. Meski pun kemunculan gerakan yang jika diindonesiakan menjadi kewirausahaan sosial itu bukan untuk menjawab kekurangan CSR, namun gerakan tersebut dianggap lebih ideal jika ditujukan untuk memberdayakan rakyat. Keefektifan program social entrepreneur karena tidak harus dilakukan oleh perusahaan besar. Malah banyak yang dirintis oleh individu pengusaha yang tergolong kecil.

Salah satunya adalah Bambang Ismawan dengan organisasinya yang bernama Bina Swadaya. Yayasan yang dibentuk 24 Mei 1967 dengan nama Yayasan Sosial Tani Membangun ini awalnya bertujuan menjawab kebutuhan petani di pedesaan akan pendidikan, informasi, dan akses terhadap barang dan jasa. Pada akhirnya semua itu bermuara kepada peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Dalam yayasannya, Bambang melakukan beberapa usaha yang hasilnya digunakan untuk mencapai tujuan dari yayasan yang didirikannya. Bina Swadaya memiliki beberapa perseroan terbatas yang bergerak di bidang konsultasi, keuangan mikro, agrobisnis, percetakan, wisata alternatif, penyediaan fasilitas lokakarya, serta akomodasi pelatihan. Dan setelah usia yayasan itu 40 tahun, terdapat lebih dari 1.000 orang karyawan.

Menurut Rhenald Kasali, Guru Besar Manajemen UI, apa yang dilakukan oleh Bambang Ismawan adalah definisi paling bagus untuk menjelaskan apa itu social entrepreneurship (SE). “Gerakan social entrepreneurship adalah poverty alleviation sharing with entrepreneurship solution. Jadi social entrepreneurship adalah upaya mengatasi masalah kemiskinan dengan pendekatan kewirausahaan,” jelas dia.

Kendati demikian Rhenald mengatakan bahwa gerakan social entrepreneurship tidak sama dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang memang di dalamnya tidak ada entrepreneurship. Namun diakuinya banyak dari pegiat social enterprenur dulunyaadalah orang LSM.

Rhenald pun memiliki institusi yang dipimpinnya sendiri dalam kaitannya dengan kewirausahaan sosial itu. Melalui lembaga yang dinamakan Rumah Perubahan, Guru Besar Fakultas Ekonomi UI ini ingin berperan dalam memberdayakan masyarakat melalui misi perubahan. Rumah Perubahan, kata dia berperan sebagai katalisator, pusat jejaring, dan penggerak untuk memberikan kemajuan.

Meski demikian, gerakan SE tidak tertutup hanya dilakukan oleh individu-individu. Beberapa perusahaan besar dinilai memiliki program yang termasuk dalam gerakan SE. Beberapa di antaranya adalah Putera Sampoerna Foundation, Bank Mandiri, dan Bank BNI.

KEGIATAN PROFESIONAL

Putera Sampoerna Foundation (PSF) adalah yayasan yang berdiri sejak 2010. Sejak itu, PSF telah bertransformasi, dari organisasi filantropi profesional menjadi institusi bisnis sosial. Dengan demikian, berarti apa pun kegiatan yang dilakukan PSF sama saja dengan menjalankan suatu usaha atau bisnis. Hanya saja, dalam hal ini, apa pun yang diperoleh akan digunakan untuk kepentingan sosial. “Kami mulai dari tujuan sosialnya, baru kemudian mencari bisnis yang di arahkan untuk mendukung kegiatan sosial tersebut,” ujar Nenny Soemawinata, Direktur Pengelola PSF.

Laiknya sebuah perusahaan PSF berusaha merealisasikan target-target sosial yang menjadi tujuan utama yayasan dengan pendekatan manajemen bisnis. Tujuannya untuk menjamin keberlanjutan semua program-program sosial dari yayasan.

Salah satu cara yang dilakukan PSF adalah memiliki bisnis-bisnis unit yang semuanya berada di bawah Sampoerna Foundation. Beberapa unit bisnis itu di antaranya adalah Acces Education Beyond yang hasil dari kegiatan usahanya digunakan untuk membantu program pendidikan. Ada juga unit bisnis yang disebut ‘Mekar’ yang tugasnya mencari investor yang bersedia membiayai pengusaha muda dan membantu memperdayakan perempuan.

Meski demikian, yayasan tersebut bekerja secara profesional. Oleh karena itu tidak ada yang namanya voluntary worker atau pekerja sukarela melainkan karyawan. “Karena kami punya target tertentu. Kalau relawan mana mungkin kita bisa menetapkan target tertentu,” kata Nenny.

Hingga saat ini PSF telah memberikan sekitar 34.600 beasiswa. Yayasan ini juga telah bekerja sama dengan 170 perusahaan dan sekitar 1,2 juta individu yang secara keseluruhan menyumbang dana sekitar 56 juta dollar AS. Suatu angka yang tidak main-main untuk ukuran sebuah yayasan.

Dalam hal pengelolaan keuangannya, PSF sangat mengutamakan transparansi. Setiap triwulan yayasan ini mengeluarkan laporan keuangan, dan setiap tahun laporan keuangan tersebut diaudit oleh Deloitte. “Tiap triwulan kami mengeluarkan newsletter dan laporan keuangan. Itu bisa dilihat di website kami. Karena kami harus transparan, ini kan uang donatur. Donatur tentu ingin tahu, dan mereka bisa lihat sendiri laporannya,” ungkap Nenny.

Donatur, kata dia, berperan besar dalam bergulirnya program-program PSF selama ini. Di dalam gerakan social entrepreneur, donatur-donatur itu dinamakan angel investors. Mereka adalah sekumpulan pengusaha sukses yang mau menginvestasikan modal mereka di bisnis-bisnis baru. Selain menawarkan bantuan keuangan, angel investor juga mau berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan para pengusaha baru.

Nah, PSF melalui unit bisnis Mekar, mempertemukan pelaku-pelaku usaha kecil dan mikro dengan para “malaikat” pemberi dana ini melalui sebuah seminar. Dalam ajang itu, para pengusaha muda dapat menjelaskan ide-ide bisnis mereka secara langsung kepada para angel investor. Mekar juga menyediakan program-program pelatihan dan konsultasi bagi para pengusaha muda untuk membantumereka menyusun rencana bisnis.

PRAKTIK PERUSAHAAN BANK

Contoh lain dari praktik social entrepreneur yang diterapkan perusahaan adalah program Wirausaha Mandiri dari Bank Mandiri. Program ini sengaja ditujukan untuk meningkatkan kontribusi Bank Mandiri bagi pertumbuhan ekonomi dengan memberdayakan orang-orang muda yang kebanyakan mahasiswa untuk dibentuk dan diarahkan menjadi pengusaha. Program ini digelar secara berkesinambungan.

Program yang sudah digelar sejak 2007 itu telah melahirkan pengusaha yang berasal dari mahasiswa berjumlah 6.545 orang. Industrinya pun beragam dari mulai bidang boga, jasa dan industri kreatif.

Bahkan pada penyelenggaraan tahun ini, Bank Mandiri akan menambah fokus bidang usaha yaitu teknologi. Sehingga tahun ini Program Wirausaha Muda Mandiri bernama technopreneur, yang meliputi tiga bidang yaitu energi terbarukan, air bersih, dan teknologi informasi. Untuk itu bank beraset terbesar itu juga menyelenggarakan Mandiri Young Technopreneur Award.

“Kami ingin menekankan pada pengembangan teknologi, khususnya di sektor energi terbarukan, air bersih dan teknologi informasi, sehingga mempunyai dampak sosial yang tinggi dan dapat dikembangkan ke skala industri,” ujar Direktur Utama Bank Mandiri Zulkifli Zaini.

Tak mau kalah dengan koleganya, BNI pun menggelar program yang diberi nama Kampoeng BNI. Istilah ini disematkan perseroan karena merupakan penamaan pada kelompok usaha secara kluster dengan memiliki usaha sejenis hasil program kemitraan BNI. Sejak tahun 2008, BNI telah mengembangkan Kampoeng BNI di Desa Cirangkong, Kecamatan Cijambe, Subang, Jawa Barat, dengan kredit kemitraan dan kredit ketahanan pangan dan energi (KKPE).

BNI juga telah mengembangkan konsep Kampoeng BNI di daerah lain. Di antaranya, Kampoeng BNI untuk usaha komoditi jagung di Ciamis, Jawa Barat, dengan potensi lahan seluas 1.946 hektar melibatkan hampir 10.000 petani. Kampoeng BNI untuk usaha kain tenun di Desa Panembung, Kecamatan Indralaya, Ogan Hilir, Sumatra Selatan, juga sedang dikembangkan oleh BNI.

Sejatinya, kegiatan yang dilakukan Bank Mandiri dan BNI merupakan penerapan dari program CSR melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungannya (PKBL).

Meskipun begitu, Rhenald Kasali tetap mengatakan bahwa yang dilakukan keduanya juga termasuk gerakan kewirausahaan sosial karena ikut berperan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Apapun kegiatannya jika bertujuan meningkatkan kehidupan sosial dengan dana yang berasal dari keuntungan sebuah bisnis termasuk gerakan social entrepreneur,” kata dia

Program CSR yang seperti itu dilakukan oleh perusahaan dengan menggelar kegiatan sosial. Menurut Rhenald ada dua hal di sana yaitu charity dan social enterpreneur. Itulah yang membedakan dengan kegiatan filantropis a la konglomerat atau orang kaya macam Bill Gates ataupun Warren Buffet. “Sekarang orang berpikir bahwa saat ini tidak bisa hanya sekedar charity, tidak sekedar filantropis tetapi harus membuat orang berkembang,” kata Rhenald lagi. SP

 



Non Bank

"tanamduit", Digital Platform Beli Reksa Dana

Di tengah munculnya berbagai digital platform yang memb

Perkoperasian Diharapkan Jadi Materi Kuliah Magister Kenotariatan PTN

“Sekurang-kurangnya peningkatan kualitas koperasi dim

Asuransi Cakrawala Proteksi Resmikan Cabang Medan

Pada kuartal III / 2017 ACP mencatat pencapaian premi s

Kolaborasi Tekfin Indonesia dan Australia

Perjanjian yang ditandatangani pada tanggal 1 Desember

Portofolio

Gandeng China Galaxy Securities, CIMB Awali Bisnis Pialang Saham di Asia

Usaha patungan berpeluang tumbuh untuk mendukung aktivi

Menkeu Berharap Pemda Manfaatkan Investasi untuk Bangun Daerah

Menkeu mencontohkan daerah Halmahera Utara dan Tabanan

Masyarakat Indonesia Mulai Minati Cryptocurrency

puluhan ribu masyarakat Indonesia diklaim telah mulai t

Tradisi ‘Bendera Putih’ BEI

Lagi-lagi PT Bursa Efek Indonesia merevisi targetnya. K

Interview

Pengamat Syariah: Dorongan Pemerintah Adalah Kunci

"Pemerintah itu harus ada inisiatif, misalnya proyek Rp

Tren Kendaraan Komersial Menurun

Harga komoditas global yangterus berada di level terend

Satelit adalah Kekuatan BRI

Jalan sejarah sedang ditapaki oleh Bank Rakyat Indonesi

Profesional Indonesia Berpotensi Pindah Negara

Pasar bebas ASEAN yang berlaku efektif awal tahun 2016

Riset

INDEF: Reformasi Agraria butuh Regulasi

payung hukumnya untuk membagikan kan harus ada. Payung

Tidak Merata, Pulau Jawa Dominasi Pertumbuhan Negara

Apabila sumber pertumbuhan dapat lebih tersebar maka ke

Inklusi Keuangan Meningkat Jadi 67,82 Persen

Indeks inklusi keuangan Indonesia meningkat pada angka

Tax Amnesty Berpotensi Masuki Jilid II

Tax amnesty itu diperpanjang katakanlah setahun lagi bi