Governance, Risk Management & Compliance

Strategi Transformasi Sasmaya

Sabtu 4 Juni 2016 22:18:0

“Kita harus mempunyai mimpi, mimpi untuk menjadi besar. Kemudian, mimpi itu harus kita percayai dan kita wujudkan, pasti kita akan mencapai tujuan yang telah kita tetapkan”

George Bernard Shaw pernah mengatakan, “Kemajuan takkan pernah terjadi tanpa perubahan. Dan mereka yang tak bisa mengubah cara berpikir takkan pernah bisa mengubah apa pun.’’ Entah disadari atau tidak, kalimat sastrawan besar Amerika tersebut sedang benar-benar dilakukan sang nakhoda Bank Kesejahteraan Ekonomi saat ini, Sasmaya Tuhuleley. Direktur Utama Bank Kesejahteraan Ekonomi ini perlahan mengubah beberapa hal yang ada di bank yang dirintis oleh Begawan Ekonomi Soemitro Djojohadikusumo. Sebut saja business model, perubahan produk, hingga cara berpikir.

Sasmaya yang resmi menduduki kursi Dirut sejak awal Januari 2015 bercerita, dia ditunjuk pemegang saham saat bank tersebut mengalami kerugian cukup besar, sekitar Rp15 miliar per Desember 2014. Menurut data dari OJK, kredit macetnya kurang lebih Rp109 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan tahun 2014, pemegang saham pengendali Bank Kesejahteraan adalah Induk Koperasi Pegawai Republik Indonesia (IKPRI) yang menguasai saham sebesar 46,43 persen. Berikutnya PT Reliance Securities Tbk (20,55 persen), PT Recapital Advisors (19,68 persen), serta PT Dana Tabungan Dan Asuransi Pegawai Negeri (PT Taspen) 9,93 persen.

“Saya resign dari BTN karena tawaran untuk membenahi Bank Kesejahteraan yang sedang bermasalah. Jadi memilih ke sini karena tantangannya. Tantangan mengembangkan bank ini sebenarnya menarik. Bank ini sejarahnya pernah mengurusi pegawai negeri kecil, koperasi-koperasi, dan itu menarik buat saya,” jelas mantan bankir BTN kelahiran Maluku, 5 Juli 1964 ini.

Menurut alumnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini, meski bank kecil, Bank Kesejahteraan punya potensi yang luar biasa untuk berkembang. Persoalannya, tidak semua sumber daya manusianya tahu potensi bank ini untuk tumbuh dan berkembang. Sasmaya pun berusaha membangkitkan kepercayaan mereka. “Saya selalu bilang, di sini kita harus mempunyai mimpi, mimpi untuk menjadi besar. Kemudian, mimpi itu harus kita percayai dan kita wujudkan, Sasmayapasti kita akan mencapai tujuan yang telah kita tetapkan,” kisah pemegang Master of Business Management dari ASEAN Institute of Management Manila, Filipina ini.

Tentu saja untuk mewujudkan mimpi tersebut, katanya, kita harus bekerja keras, punya strategi, punya punya program-program kerja untuk dieksekusi. “Persoalannya kebanyakan dari kita pintar membuat perencanaan tapi lemah dalam eksekusi. Kami ingin eksekusi menjadi bagian dari strategi. Makanya, kita bisa melakukan berbagai macam program perubahan dengan sangat cepat dan berdampak sangat signifikan.”

Perubahan itu misalnya, Bank Kesejahteraan yang semula hanya punya single business, hanya membiayai koperasi pegawai negeri, kemudian melakukan diversifikasi dengan business engine baru, seperti membiayai juga koperasi swasta atau dengan para pensiunan. Sejak April 2015, bank telah melakukan kerjasama dengan 170 perusahaan kategori blue chip. Lalu bagian SDM bank ini telah melaksanakan program ODP angkatan ke III bekerjasama dengan Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) pada tahun 2015.

Didukung Karyawan Muda

Sasmaya mengaku beruntung, program yang dilakukannya didukung oleh para karyawan muda dan beberapa bankir profesional muda lainnya yang telah direkrut untuk posisi strategis tertentu. “Pola pikir anak-anak muda ini beda dengan generasi sebelumnya. Mereka mudah menerima perubahan dan cepat belajar. Jadi perubahan yang kami lakukan tidak terlalu menemui hambatan berarti,” aku bankir yang juga kolumnis keuangan, bank, properti dan UMKM di beberapa media ini.

Selain didukung oleh tenaga-tenaga muda, perubahan yang dilakukan Sasmaya terlihat mudah lantaran dirinya punya pengalaman mengimplementasikan strategi transformasi di BTN saat menjadi Vice President/Change Management Office Coordinator BTN periode 2008-2012 silam. Saat itu, Sasmaya dan timnya melakukan pengembangan dan implementasi mulai dari struktur organisasi perusahaan, pengembangan produk-produk tabungan dan kredit, pengembangan dan implementasi budaya kerja perusahaan dan human capital management system, sampai terlibat aktif persiapan penawaran saham perdana BTN.

Bank BTN memang menjadi pelabuhan pertama karier bankir seorang Sasmaya. Sedari awal, ia ingin menjadi bankir setelah lulus kuliah. Apalagi saat itu, bank di Tanah Air sedang bertumbuh pasca Pakto 88. “Waktu itu melamar di beberapa bank, saya diterima di 3 bank, 2 bank swasta dan 1 di bank BUMN. Saya pilih BTN, masuk lewat program ODP tahun 1991. Ini program ODP pertama di BTN. Bekerja mulai dari staf, manajer, sampai terakhir menjadi Senior Vice President/Head of Strategic & Performance Management BTN tahun 2014,” papar anak keenam dari sepuluh bersaudara pasangan guru di Seram Timur, Maluku ini.

Saat ditanya sampai kapan menjadi bankir, bapak dua anak ini menjawab diplomatis, “selama saya masih bisa memberi manfaat untuk masyarakat kecil juga untuk karyawan (terus menjadi bankir). Atau kalau bank dianggap sudah tidak bermanfaat, saya mungkin berhenti.”


Non Bank

OJK Minta Lembaga Keuangan Beri Keringanan Cicilan

Bank/Leasing wajib melakukan asesmen dalam rangka membe

Menkeu Lantik Febrio Nathan Kacaribu Sebagai Kepala BKF

Pelantikan Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama ini merupa

LPS Dapat Kewenangan Baru Jalankan Perppu

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mendukung penerbitan Pe

Portofolio

Segera Diluncurkan, Kupon SBR-009 Sebesar 6.3 Persen

Instrumen Savings Bond Ritel seri SBR009 sebagai instru

Jelang Tutup Tahun, Kinerja Pasar Modal Positif

IHSG masih mencatatkan pertumbuhan positif meskipun dal

Tamasia Targetkan Jual 150 Kg Emas

CEO dan Co Founder Tamasia Muhammad Assad mengungkapkan

Unilever Raup Laba Rp21,5Triliun

Penjualan di pasar domestik mendominasi pendapatan bers

Interview

Glen Alexander Winata: Utamakan Proteksi Nasabah, Komisi Pasti Mengikuti

Pada awalnya, kebanyakan agen asuransi pemikirannya sel

Pengamat Syariah: Dorongan Pemerintah Adalah Kunci

"Pemerintah itu harus ada inisiatif, misalnya proyek Rp

Tren Kendaraan Komersial Menurun

Harga komoditas global yangterus berada di level terend

Satelit adalah Kekuatan BRI

Jalan sejarah sedang ditapaki oleh Bank Rakyat Indonesi

Riset

INDEF: Reformasi Agraria butuh Regulasi

payung hukumnya untuk membagikan kan harus ada. Payung

Tidak Merata, Pulau Jawa Dominasi Pertumbuhan Negara

Apabila sumber pertumbuhan dapat lebih tersebar maka ke

Inklusi Keuangan Meningkat Jadi 67,82 Persen

Indeks inklusi keuangan Indonesia meningkat pada angka

Tax Amnesty Berpotensi Masuki Jilid II

Tax amnesty itu diperpanjang katakanlah setahun lagi bi