Governance, Risk Management & Compliance

Tradisi ‘Bendera Putih’ BEI

Kamis 24 Nopember 2016 14:58:0

Lagi-lagi PT Bursa Efek Indonesia merevisi targetnya. Kondisi perekonomian yang kurang kondusif kembali jadi kambing hitam.

OTORITAS bursa saham sepertinya belum benar- benar bisa belajar dari pengalaman. Untuk kesekian kalinya otoritas kembali mengibarkan ‘bendera putih’ begitu merasa target akhir tahun susah untuk direalisasikan.

Terkini, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah mempersiapkan usulan untuk merevisi target jumlah perusahaan yang bakal melakukan penawaran saham perdana (Initial Public Offering/IPO). Target perusahaan yang go public tahun ini semula dipatok 35, namun karena kondisi ekonomi yang tidak mendukung, target itu direvisi menjadi hanya 25 perusahaan.

Usulan tersebut kabarnya akan dibahas dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) BEI yang akan digelar dalam waktu dekat. “Kami menganggap untuk mencapai target awal sebanyak 35 perusahaan bakal berat, karena faktanya tambahan IPO yang ada tidak terlalu banyak,” ujar Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Samsul Hidayat, di kantornya, awal Oktober.

Angka 25 perusahaan memang telah disiapkan untuk jadi revisi, meski begitu tampaknya untuk mencapainya bukan perkara mudah. Pasalnya hingga saat ini, baru 14 perusahaan saja yang sukses menjadi emiten baru di lantai bursa.

Sementara para calon emiten yang telah melakukan mini ekspos dalam pipeline BEI, tercatat baru lima perusahaan. Sebenarnya ada satu lagi perusahaan yang tengah dalam proses mengganti prospektusnya yang sebelumnya masih menggunakan laporan keuangan Maret 2016, sehingga sudah expired pada September 2016 lalu. Maka jika enam calon emiten tersebut pada akhirnya melantai di bursa, maka total baru ada 20 perusahaan saja yang bisa listing hingga akhir tahun.

Akan tetapi, otoritas bursa tampaknya masih tetap mempertahankan targetnya pada akhir tahun, hingga tiga bulan lalu. Optimisme untuk meraih 35 emiten baru yang melantai di bursa masih digelorakan oleh Direktur Utama BEI, Tito Sulistio. Saat itu, sekitar akhir semester pertama, Tito mengaku masih sangat yakin target IPO sebanyak 35 perusahaan tidak akan direvisi dan dapat dicapai hingga akhir tahun.

“Kenapa kami optimistis? Karena ada sudah ada sekitar 40 perusahaan yang telah datang ke kami dan menyatakan berminat untuk IPO. Bahkan beberapa di antaranya sudah ke proses penunjukan underwriter,” ungkap Tito dengan semangat, saat itu.

Namun apa lacur, fakta di lapangan saat ini ternyata tak seindah dengan yang diekspektasikan Tito waktu itu. Bahkan tidak hanya jumlah perusahaan listing yang terpaksa harus direvisi. Bersamaan dengan revisi target IPO, pihak BEI juga merevisi target rata-rata transaksi harian sahamnya. Semula target rata-rata nilai transaksi harian saham dipatok sebesar Rp7 triliun, kini diturunkan menjadi hanya Rp6,5triliun per hari. Revisi tersebut, menurut otoritas, dilakukan karena realita di pasar yang menunjukkan bahwa nilai transaksi secara year to date masih berada di bawah Rp6,5 triliun atau masih terlalu jauh dari posisi target yang Rp7 triliun. Dengan adanya revisi diharapkan pencapaian di akhir tahun dapat lebih realistis dan sesuai kondisi pasar.

Terkait aksi revisi tersebut, Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI Hamdi Hassyarbaini menyebut kondisi pasar yang kurang kondusif sebagai biang keladinya. Sedangkan kondisi pasar sendiri menurut Hamdi memiliki beragam faktor penentu yang turut mempengaruhi baik dari sisi internal maupun eksternal. “Ada banyak kondisi makro ekonomi, yang itu tidak dikendalikan sepenuhnya oleh kami,” tutur Hamdi.

Biar begitu, langkah BEI merevisi target-targetnya yang sempat dipatok di awal tahun mendapatkan apresiasi dari kalangan analis pasar modal nasional. Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo, misalnya, menilai bahwa memang sudah saatnya BEI kembali ‘membumi’ dengan melihat sejumlah fakta yang ada di lantai perdagangan.

Menurut Satrio, target-target BEI di awal tahun dibangun dengan sejumlah asumsi positif di mana prospek ekonomi di awal tahun diyakini sedang tinggitingginya. Asumsi tersebut di antaranya dibangun dari harapan yang sempat terlihat dari beragam kebijakan pemerintah, misalnya saja 13 paket kebijakan terkait relaksasi aturan hingga program amnesti pajak (tax amnesty). Atas asumsi positif tersebut, pasar saham bahkan sempat melonjak sekitar 10 persen dalam dua bulan awal semester kedua tahun ini. “Saat itu dipercaya ada harapan. Namun kini saatnya kembali ke realita,” tutur Satrio.

Berulang

Yang menarik, perpisahan jalan antara target-target yang dipatok BEI dengan pencapaian nyata dari targettarget tersebut tak hanya terjadi kali ini saja. Tahun 2014 lalu, otoritas pasar modal tersebut juga membuka tahun dengan optimisme tinggi ketika target jumlah perusahaan yang go public bakal mencapai 30 perusahaan. Sayang hingga akhir tahun, target tersebut hanya terpenuhi dua pertiganya alias cuma 20 perusahaan saja.

Seolah ingin menebus kesalahan, BEI kembali memasang target tinggi untuk jumlah perusahaan IPO pada tahun 2015. “Kami targetkan sebanyak 32 perusahaan (yang akan IPO). Kami sangat optimistis bakal tercapai. Dari tahun ini (2014) saja ada 10 perusahaan yang batal IPO dan akan dilakukan pada tahun depan (2015),” ujar Direktur Utama BEI kala itu, Ito Warsito, di depan wartawan, akhir Desember 2014 lalu.

Namun pada akhirnya, pihak otoritas kembali nharus gigit jari. Di sekitar pertengahan semester kedua tahun itu, pengelola bursa kembali harus merevisi targetnya dari semula 32 perusahaan yang IPO menjadi hanya 22 perusahaan saja. Kondisi ekonomi global kali ini disebut sebagai alasan. “Secara total faktornya berasal dari global. Faktanya tidak ada orang yang bisa mengatur ekonomi di negaranya sendiri, terutama soal currency,” ujar Tito Sulistio yang menggantikan Ito Warsito pada 2015.

Menurut Tito, posisi nilai tukar rupiah yang sudah sempat menyentuh level Rp14.700 per dollar AS menjadi salah satu kendala utama bagi perusahaan untuk merealisasikan rencana IPO-nya. Terkait kegemaran BEI mematok target tinggi di awal tahun dan kemudian merevisinya dalam perjalanan kinerjanya, kalangan analis menganggap hal tersebut masih bisa dimaklumi dan dinilai sebagai sesuatu yang wajar terjadi. Bagaimanapun, industri pasar modal secara alamiah pergerakannya sangat berkaitan erat dengan perseps masyarakat.

Hal itu membuat BEI dirasa perlu menggunakan asumsi-asumsi yang penuh optimisme dalam memasang target di awal tahun, sehingga diharapkan dapat menjadi sentimen positif di lantai perdagangan.

Namun apabila pada akhirnya asumsi optimistis tersebut harus terbentur dengan realita kondisi perekonomian dan pasar, bukan berarti pula BEI telah salah dalam memasang targetnya di awal tahun. “Bagaimanapun kan perusahaan yang IPO ingin mendapatkan dana sebanyak-banyaknya dari harga saham yang lebih tinggi. Kalau kondisi pasarnya melemah, (target) itu jadi susah terwujud. Jadi memang tidak bisa dipaksakan,” ungkap analis Satrio Utomo.

Belum lagi proses perubahan status perusahaan dari perusahaan privat menjadi perusahaan publik (Tbk) tidak melulu melibatkan hitung-hitungan secara keuangan, melainkan juga kesiapan perusahaan untuk bertransformasi. Misalnya saja kekhawatirkan manajemen terkait ‘dosa-dosa lama’ perusahaan mulai dari struktur pajak hingga kualitas good corporate governance (GCG)-nya.

Dengan kondisi pasar yang buruk, tentu perusahaan bakal berpikir ulang untuk melepas sahamnya ke lantai bursa. Alhasil, mau tidak mau perusahaan yang telah bersiap untuk IPO pun pada akhirnya menunda rencananya ketimbang target-target perolehan dananya dari lantai bursa tidak tercapai.

Akan tetapi, bila memang kondisi ekonomi terkini yang jadi penyebab, lalu mengapa keputusan untuk merevisi target selalu berulang, bahkan dalam tiga tahun terakhir? Mungkin otoritas bursa bukan saja belum benar-benar bisa belajar dari pengalaman, tetapi sekaligus selalu dihinggapi nasib buruk.  

***

BEI Anugerahi ANTM Predikat IDX Best Blue 2016

Mon, 03 Oct 2016 - BEI menganugerahkan predikat IDX Best Blue 2016 pada PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atas pertumbuhan kinerja perusahaan dalam satu tahun terakhir.

Genjot Invetor Syariah, Mandiri Sekuritas - BSM Gelar Gathering Pasar Modal

Fri, 04 Mar 2016 - Jumlah investor pasar modal syariah terus mengalami pertumbuhan secara signifikan. Jika di 2013 j baru mencapai 803 investor, hingga Desember 2015 telah mencapai 4.908 investor.



Non Bank

CIMB Niaga Persembahkan Film ‘Banda The Dark Forgotten Trail’

Film ini menuturkan ulang kisah sejarah Kepulauan Banda

Aset Jamkrindo Syariah Tumbuh 135 Persen

Aset JamSyar tumbuh 123 persen bila dibandingkan dengan

Zakat untuk UKM Dikembangkan

Zakat yang ditunaikan Jamkrindo Syariah menambah daftar

AAJI: Q1/2017 Pendapatan Industri Asuransi Jiwa Tumbuh 16,4 Persen

Total pendapatan premi merupakan kontributor terbanyak

Portofolio

Tradisi ‘Bendera Putih’ BEI

Lagi-lagi PT Bursa Efek Indonesia merevisi targetnya. K

Siap Go Private, Saham LAMI Dibuyback Pendirinya

BEI telah mengkonfirmasi bahwa sedikitnya dua emiten te

CIMB dan China Galaxy Jajaki Kerjasama Stockbroking

Dalam usaha patungan tersebut, kedua perusahaan yang te

AAEI Ajak Masyarakat Berinvestasi Saham

AAEI mengajak masyarakat agar tak ragu lagi untuk berin

Interview

Pengamat Syariah: Dorongan Pemerintah Adalah Kunci

"Pemerintah itu harus ada inisiatif, misalnya proyek Rp

Tren Kendaraan Komersial Menurun

Harga komoditas global yangterus berada di level terend

Satelit adalah Kekuatan BRI

Jalan sejarah sedang ditapaki oleh Bank Rakyat Indonesi

Profesional Indonesia Berpotensi Pindah Negara

Pasar bebas ASEAN yang berlaku efektif awal tahun 2016

Riset

INDEF: Reformasi Agraria butuh Regulasi

payung hukumnya untuk membagikan kan harus ada. Payung

Tidak Merata, Pulau Jawa Dominasi Pertumbuhan Negara

Apabila sumber pertumbuhan dapat lebih tersebar maka ke

Inklusi Keuangan Meningkat Jadi 67,82 Persen

Indeks inklusi keuangan Indonesia meningkat pada angka

Tax Amnesty Berpotensi Masuki Jilid II

Tax amnesty itu diperpanjang katakanlah setahun lagi bi