Governance, Risk Management & Compliance

Ujian Nyali Seorang Elia Massa Manik

Kamis 16 Maret 2017 14:27:0

Saya tidak ada tedeng aling-aling di sini. Jika ada yang korupsi, jangan disebut sebagai penyalahgunaan wewenang, tapi namanya tetap korupsi

Jakarta, Stabilitas-“Kalau sudah urusan integritas, maka tutup mata hatimu, sikat saja. Jangan diwariskan ke generasi berikutnya.” Inilah filosofi yang diterapkan Elia Massa Malik ketika di PT Elnusa, Tbk saat dirinya dipercaya pemegang saham menjadi Chief Executive Officer (CEO) di anak perusahaan PT Pertamina (Juli 2011-Mei 2014).

Kini, enam tahun kemudian, dia dipercaya menjadi orang nomor satu di Pertamina. Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tentu tidak main-main menunjuk sosok 52 tahun ini untuk memimpin perusahaan pengelola migas nasional. Akan tetapi satu yang pasti jadi pertimbangan adalah karena integritas dari Elia.

Bagi dia, integritas adalah hal yang paling penting karena jika seorang tidak memilikinya maka itu adalah virus paling berbahaya, harus dibunuh. “Saya tidak ada tedeng aling-aling di sini. Jika ada yang korupsi, jangan disebut sebagai penyalahgunaan wewenang, tapi namanya tetap korupsi,” papar pria yang dianggap sukses mengembalikan kinerja keuangan Elnusa  dari yang sebelumnya minus menjadi sehat hanya dalam 2,5 tahun.

Filosofi itu diuji lagi di perusahaan yang berbeda. Pertengahan April 2016 lalu, Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soewandi menugaskan Massa sebagai Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III. Perusahaan itu merupakan gabungan dari seluruh PTPN yang berjumlah 14 perusahaan.

“Saya tak pernah mengira akan keluar masuk perusahaan pelat merah dan menjadi Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III. PTPN III sekarang menjadi induk usaha atau holding dari 14 perusahaan perkebunan milik negara. Tugas saya tentu tidak ringan, namun bukan sesuatu yang mustahil dilakukan,” kata pria kelahiran Medan, 1 Mei 1965 ini kepada Stabilitas beberapa waktu lalu.

Peraih gelar sarjana di ITB Bandung (1983-1988) dan Magister Asian Institute of Management, Makati, Philippines (1990-1992) diminta  untuk membenahi pengelolaan utang di seluruh unit PTPN dan membuatnya kembali untung. Dari hitungan awal saja, setidaknya dibutuhkan dana segar Rp9 triliun untuk merestrukturisasi dan berinvestasi ulang di seluruh PTPN agar kinerjanya bisa positif.

Pada tahap awal yang dilakukannya adalah melakukan efisiensi terutama dalam jumlah pejabat dan mengubah struktur perusahaan. “Pada awal menjabat, saya memangkas jumlah direktur yang tadinya lima menjadi tiga. Sebab, dengan lima direktur menjadi kurang lincah,” terang anak kedua dari empat bersaudara ini.

Sebelum para direktur baru tersebut bekerja, Massa lebih dulu melakukan mapping masalah yang ada di PTPN III. Sehingga, saat direksi baru dilantik dia sudah memberikan draf bagian mana saja yang harus mereka benahi.

Meskipun banyak mendapatkan tekanan saat melakukan perubahan direksi, dia senang karena data-data perusahaan yang selama ini dinilai kurang transparan menjadi jelas. Otomatis ini membuatnya lebih mudah untuk membuat dan memutuskan suatu kebijakan yang bakal diterapkan. “Untuk menguak permasalahan, saya menggunakan cara turun ke lapangan. Hampir setiap hari, saya mengunjungi satu persatu perkebunan untuk berkomunikasi dengan karyawan yang berada di sana. Lainnya, saya juga selalu memberikan contoh untuk terus belajar. Hal ini saya tularkan kepada seluruh karyawan,” paparnya.

Tahap kedua adalah menerapkan speed dalam bekerja, Mengubah kultur VOC, bikin rileks dan tidak merasa intimidasi. Dengan begitu mereka akan mempunyai semangat kerja. Terakhir, adalah keberanian untuk memutuskan kebijakan. Harus punya nyali untuk memutuskan daripada diam terus. Ini merupakan hal penting bagi seorang pemimpin untuk dapat menentukan akan dibawa kemana perusahaan yang dipimpin.

Yang jelas, perlahan tapi pasti, PTPN III mulai bangkit. Sampai akhir tahun total operating cash flow mencapai Rp600 miliar dari tahun 2015 yang hanya Rp100 miliar. Dan, bulan September 2016, perusahaan sudah mampu mengantongi keuntungan 1,5 persen. Ini prestasi karena selama empat tahun kinerja perusahaan selalu merah.

 

Perjalanan Karier

Elia Massa Manik memulai karier di PT Indofood Sukses Makmur Tbk. Setelah itu dia bergabung dengan Suez Group. Meninggalkan Suez pada 2001, lalu bergabung dengan PT Kiani Kertas yang sedang masuk Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). “Mulai dari Kiani Kertas ini saya bergaul dengan kesulitan. Bagaimana saya harus berhadapan dengan masalah. Dari situlah saya mulai belajar filosofi mencintai masalah. Dalam karier itu paling sulit menghadapi orang, apalagi dalam kondisi resources terbatas,” cerita dia.

Kemudian, Massa bergabung dengan PT Jababeka Tbk, PT Pandega Citra Niaga, membantu Dharma Henwa Tbk duduk di non-executive board, dan menjadi chief executive officer (CEO) PT Kertas Basuki Rachmat Indonesia Tbk sebelum akhirnya memimpin Elnusa.

Massa masuk Elnusa pada 22 Juli 2011 ketika Elnusa menjadi pusat pemberitaan nasional karena kasus dengan PT Bank Mega Tbk. Dia melakukan perbaikan fundamental untuk bisa menyelamatkan Elnusa. Kondisi keuangan perusahaan saat itu tidak menggembirakan. Pada Juni 2011, Elnusa memiliki account Rp10 miliar, tapi cash flow sudah negatif Rp200 miliar.

Dari Elnusa, Massa didapuk menjadi CEO GMT Kapital Asia (Mei 2014 - Agustus 2015). Kemudian menjadi SEVP (Senior Executive Vice President) PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (Agustus 2015 - April 2016), dan sejak 13 April 2016 sampai dengan sekarang menjabat Direktur Utama PTPN III (Persero).

Kini Elia tengah mencatat prestasi dan karier baru sebagai nakhoda utama di perusahaan migas negara.



Non Bank

Layanan Internet Bisa Dinikmati di Seluruh RI

APJII menjalin kerjasama dengan operator yang memungkin

Perum Jamkindo Berikan Pendampingan Unit Usaha  Pondok Pesantren

Pelatihan diselenggarakan di Ponpes Al Mizan, Pandeglan

CIMB Niaga Persembahkan Film ‘Banda The Dark Forgotten Trail’

Film ini menuturkan ulang kisah sejarah Kepulauan Banda

Aset Jamkrindo Syariah Tumbuh 135 Persen

Aset JamSyar tumbuh 123 persen bila dibandingkan dengan

Portofolio

Tradisi ‘Bendera Putih’ BEI

Lagi-lagi PT Bursa Efek Indonesia merevisi targetnya. K

Siap Go Private, Saham LAMI Dibuyback Pendirinya

BEI telah mengkonfirmasi bahwa sedikitnya dua emiten te

CIMB dan China Galaxy Jajaki Kerjasama Stockbroking

Dalam usaha patungan tersebut, kedua perusahaan yang te

AAEI Ajak Masyarakat Berinvestasi Saham

AAEI mengajak masyarakat agar tak ragu lagi untuk berin

Interview

Pengamat Syariah: Dorongan Pemerintah Adalah Kunci

"Pemerintah itu harus ada inisiatif, misalnya proyek Rp

Tren Kendaraan Komersial Menurun

Harga komoditas global yangterus berada di level terend

Satelit adalah Kekuatan BRI

Jalan sejarah sedang ditapaki oleh Bank Rakyat Indonesi

Profesional Indonesia Berpotensi Pindah Negara

Pasar bebas ASEAN yang berlaku efektif awal tahun 2016

Riset

INDEF: Reformasi Agraria butuh Regulasi

payung hukumnya untuk membagikan kan harus ada. Payung

Tidak Merata, Pulau Jawa Dominasi Pertumbuhan Negara

Apabila sumber pertumbuhan dapat lebih tersebar maka ke

Inklusi Keuangan Meningkat Jadi 67,82 Persen

Indeks inklusi keuangan Indonesia meningkat pada angka

Tax Amnesty Berpotensi Masuki Jilid II

Tax amnesty itu diperpanjang katakanlah setahun lagi bi