Governance, Risk Management & Compliance

Edisi 152 Februari 2019

Kita memang tidak pernah tahu pasti apa yang akan terjadi di depan, meski memiliki kesempatan untuk memprediksi. Dua dekade lalu, ketika internet mulai diperkenalkan pada kehidupan kita, sejatinya sudah muncul sistem jual beli melalui jalur elektronik ini.


Banyak prediksi bahwa sebentar lagi praktik dagang konvensional akan digantikan oleh mekanisme electronic commerce (e-commerce) tersebut. Namun butuh hampir dua dua dasawarsa untuk membenarkan prediksi itu. Kini praktik dagang online sudah sangat lumrah di Indonesia. Akan tetapi belakangan praktik yang disebut electronic commerce mulai memperlihatkan sisi gelapnya.


Jual beli online telah menumbuhkan minat impor karena barang-barang produk luar negeri dinilai lebih berkualitas, bahkan lebih murah. Praktik ini bahkan telah menumbuhkan sebuah komunitas importir barang-barang, yang kebanyakan anggotanya adalah anak-anak muda. Di samping itu muncul juga apa yang dinamakan jasa titip, di mana ketika ada seseorang yang keluar negeri, maka ada beberapa rekannya yang menitipkan barang untuk dibeli di negara tujuan, dengan tujuan tentu untuk menghindari pajak.


Lambat tapi pasti e-commerce yang mulai menjadi pemain penting dalam transaksi dagang ini mulai mengancam perekonomian. Dalam jangka menengah sudah terlihat dampaknya pada neraca perdagangan yang terus defisit di sepanjang 2018. Dalam jangka panjang, kegiatan konsumtif ini tentu akan membuat Indonesia kehilangan keinginan untuk menjadi negara produsen dan terjebak menjadi negara konsumen.


Untuk melihat indikasinya, maraknya marketplace yang berisi banyak pelapak yang menawarkan barang-barang konsumtif menjadi bukti yang tidak terelakkan. Pertanyaan sederhana yang mengemuka, apakah teknologi mendorong konsumerisme atau konsumerisme mendorong teknologi dengan munculnya start up atau e-commerce yang menawarkan barang-barang yang kebanyakan impor.


Nah, majalah Stabilitas akan mengetengahkan tema tersebut dalam laporan utamanya kali ini. Pada tulisan awal akan kami kupas bagaiman e commerce bermula dan kemudian marak hingga kini. Tak lupa pula ulasan mengenai beragam dampaknya pada perekonomian baik mikro maupun makro secara umum. Di sini juga akan ditampilkan efek dari maraknya jual beli online pada sisi konsumerisme di Indonesia.


Pada tulisan berikutnya akan kami tampilkan dampak dari tren jual beli online pada setoran pajak. Memang ironis ketika maraknya praktik jual beli online justru tidak memberikan pengaruh kepada pendapatan negara. Banyak faktor yang menyebabkannya, salah satunya adalah karena belum adanya aturan. Selain itu juga muncul praktik yang menghindari aturan pajak ketika pembelian barang di luar negeri dilakukan dengan cara titip kepada orang yang biasa bepergian ke luar negeri.


Selanjutnya juga akan diulas dampak dari e-commerce ini pada sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Mengingat banyak e-commerce yang menjajakan barang-barang impor, bisa dipastikan dampaknya ke pelaku UMKM menjadi negatif. Lalu bagaimana pemerintah dan juga stakeholder UMKM menyikapinya?


Yang tak kalah menariknya kami juga akan mengulas dampak praktik e-commerce ini pada neraca perdagangan. Berdasarkan data pemerintah sepanjang 2018, 7 kali sudah neraca perdagangan kita defisit. Bahkan angkanya sempat menyentuh rekor defisit sepanjang sejarah. Bagaimana e-commerce bisa mendesak neraca perdagangan?


Last but not least kami juga akan mengulas maraknya praktik impor terutama dari kelompok usahawan yang tergabung dalam asosiasi importir. Pertanyaan, bagaimana kelompok ini bekerja dan apa respons mereka mengenai tudingan bahwa import justru buruk bagi neraca perdagangan, akan menjadi pembahasan utama.


Non Bank

Kian Mudah, Adira Perkenalkan Klaim #1JariBeres

Sepanjang tahun 2019, Adira Insurance telah menerima 4.

Kredivo Luncurkan Inovasi Terbaru

Melalui aplikasi ini, pengguna bisa memilih opsi cicila

Adira Insurance Buka Kantor Perwakilan di Pusat Perbelanjaan

Keberadaan kantor representatif Adira Insurance ingin m

Gandeng Ralali.com, ASM Maksimalkan E Commerce

Secara korporasi, kerjasama dengan Ralali.com ini juga

Portofolio

Tamasia Targetkan Jual 150 Kg Emas

CEO dan Co Founder Tamasia Muhammad Assad mengungkapkan

Unilever Raup Laba Rp21,5Triliun

Penjualan di pasar domestik mendominasi pendapatan bers

Interview

Glen Alexander Winata: Utamakan Proteksi Nasabah, Komisi Pasti Mengikuti

Pada awalnya, kebanyakan agen asuransi pemikirannya sel

Pengamat Syariah: Dorongan Pemerintah Adalah Kunci

"Pemerintah itu harus ada inisiatif, misalnya proyek Rp

Tren Kendaraan Komersial Menurun

Harga komoditas global yangterus berada di level terend

Satelit adalah Kekuatan BRI

Jalan sejarah sedang ditapaki oleh Bank Rakyat Indonesi

Riset

INDEF: Reformasi Agraria butuh Regulasi

payung hukumnya untuk membagikan kan harus ada. Payung

Tidak Merata, Pulau Jawa Dominasi Pertumbuhan Negara

Apabila sumber pertumbuhan dapat lebih tersebar maka ke

Inklusi Keuangan Meningkat Jadi 67,82 Persen

Indeks inklusi keuangan Indonesia meningkat pada angka

Tax Amnesty Berpotensi Masuki Jilid II

Tax amnesty itu diperpanjang katakanlah setahun lagi bi